Kenapa Nomor Telepon Sebaiknya Tidak Sembarangan Dibagikan?

Nomor telepon yang tersebar dapat memicu spam, pesan penipuan, dan panggilan tidak dikenal.
Penipu dapat memanfaatkan nomor telepon untuk melakukan social engineering dan mencari informasi pribadi.
Nomor telepon sebaiknya dibagikan secara selektif karena dapat terhubung dengan berbagai akun dan jejak digital.
“Boleh minta nomor HP?” Kalimat sederhana ini mungkin sering kita dengar. Biasanya, nomor telepon diberikan begitu saja ketika ingin bertukar kontak, mengisi formulir, mendaftar layanan, atau bertransaksi dengan seseorang. Namun, sebenarnya memberikan nomor telepon tidak boleh dilakukan sembarangan.
Nomor telepon bukan sekadar deretan angka untuk berkomunikasi. Pada era digital, satu nomor bisa terhubung dengan berbagai akun, layanan, bahkan informasi lain tentang pemiliknya. Karena itu, membagikan nomor telepon kepada sembarang orang atau mencantumkannya secara terbuka di internet ternyata bisa menimbulkan risiko yang tidak selalu terlihat sejak awal. Yuk, kita bahas lebih dalam kenapa nomor telepon sebaiknya tidak dibagikan sembarangan!
1. Nomor yang tersebar bisa mengundang spam

ilustrasi menerima spam chat (unsplash.com/Pradamas Gifarry) Salah satu gangguan yang sering muncul setelah nomor telepon tersebar ialah pesan atau panggilan yang tidak diinginkan. Bentuknya bisa berupa promosi, penawaran produk, pinjaman, hingga pesan yang tidak jelas asalnya. Komunikasi tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Nomor telepon yang dicantumkan di terlalu banyak tempat juga berisiko masuk ke berbagai basis data. Data tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengirimkan promosi atau pesan yang tidak relevan. Akibatnya, pemilik nomor dapat menerima komunikasi berulang dari pihak yang tidak dikenal.
2. Dari nomor HP, penipu bisa mulai mencari celah

ilustrasi laki-laki sedang menerima telepon (pexels.com/Theo Decker) Nomor telepon juga bisa menjadi salah satu informasi yang dimanfaatkan dalam penipuan. Pelaku mungkin menghubungi seseorang melalui telepon, SMS, atau aplikasi pesan dengan mengaku sebagai pihak yang familiar. Modusnya bermacam-macam. Ada yang mengaku sebagai petugas bank, kurir, customer service, polisi, rumah sakit, teman, bahkan anggota keluarga. Setelah membuat korban percaya, pelaku biasanya mencoba meminta informasi tertentu, mengarahkan korban membuka tautan, memberikan kode OTP, bahkan meminta uang.
Nomor telepon saja memang tidak otomatis membuat seseorang bisa diretas. Namun, informasi tersebut dapat menjadi modal awal untuk melakukan social engineering. Social engineering adalah bentuk kejahatan dunia maya berupa memanipulasi seseorang agar secara sukarela memberikan informasi atau melakukan tindakan yang menguntungkan pelaku.
3. Satu nomor bisa terhubung ke banyak akun

ilustrasi nama pengguna dan kata sandi media sosial (unsplash.com/Zulfugar Karimov) Coba ingat berapa banyak layanan yang menggunakan nomor telepon sebagai identitas pengguna. Mulai dari aplikasi pesan, media sosial, marketplace, e-wallet, sampai berbagai layanan digital lainnya. Menggunakan satu nomor untuk banyak akun memang praktis. Kita tidak perlu mengingat terlalu banyak informasi dan proses verifikasi pun biasanya menjadi lebih mudah. Namun, kebiasaan ini juga membuat nomor telepon menjadi semacam penghubung antara berbagai akun.
Kalau nomor telepon sudah diketahui orang lain, bukan tidak mungkin mereka mencoba mencari tahu apakah nomor tersebut juga dipakai di akun atau layanan lain. Dari sana, mereka mungkin menemukan nama, foto profil, atau informasi lain yang sebelumnya pernah kita bagikan di internet. Informasi kecil dari beberapa platform kemudian bisa saling dikaitkan dan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pemilik nomor tersebut. Jadi, nomor telepon bisa menjadi salah satu petunjuk untuk menemukan informasi pribadi lainnya.
4. Jejak digital bisa dicari dari informasi yang kelihatannya sepele

ilustrasi nomor telepon (pexels.com/Alexey Demidov) Nomor telepon yang pernah dipublikasikan di internet juga dapat menjadi titik awal untuk mencari informasi lain. Terlebih jika nomor tersebut pernah dicantumkan bersama nama lengkap, foto, alamat usaha, atau akun media sosial. Pelaku tidak harus langsung menemukan data yang sangat sensitif. Kadang-kadang, informasi kecil yang dikumpulkan dari beberapa tempat sudah cukup untuk membentuk gambaran mengenai seseorang.
Misalnya, nomor telepon ditemukan pada sebuah iklan lama. Dari sana bisa diketahui nama pemiliknya, kemudian nama tersebut digunakan untuk mencari akun media sosial. Jika profilnya terbuka, informasi tentang pekerjaan, lokasi, keluarga, atau aktivitas sehari-hari mungkin ikut terlihat. Itulah sebabnya informasi yang tampak sepele tetap perlu diperhatikan ketika sudah berada di ruang publik.
Bukan berarti nomor telepon harus dirahasiakan dari semua orang. Namun, tidak ada salahnya lebih selektif sebelum membagikannya agar tidak disalahgunakan. Kamu setuju, kan?























