ilustrasi seseorang menggunakan paket data internet (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Perubahan tersebut juga dapat membuat pengguna memiliki pertimbangan baru ketika memilih paket internet. Jika sebelumnya angka gigabita menjadi salah satu faktor utama, pengguna kini juga perlu memperhatikan kapan kuota bisa digunakan dan apa yang terjadi jika kuota tersebut masih tersisa ketika masa berlaku paket berakhir. Misalnya, paket 20 GB belum tentu lebih menarik dibandingkan paket 15 GB jika sebagian besar kuotanya hanya dapat digunakan pada waktu tertentu.
Sebaliknya, paket dengan kuota lebih kecil tetapi memiliki masa berlaku dan mekanisme penggunaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna bisa saja terasa lebih bernilai. Kemkomdigi sendiri mewajibkan operator memberikan informasi yang jelas mengenai harga, volume kuota, masa berlaku, segmentasi penggunaan, ketentuan pemakaian, berakhirnya layanan, dan perlakuan terhadap sisa kuota. Untuk saat ini, belum sepatutnya mengatakan bahwa era kuota tengah malam akan berakhir akibat aturan perlindungan sisa kuota. Keduanya berkaitan, tetapi bukan berarti aturan baru tersebut melarang operator menawarkan kuota yang memiliki batas penggunaan berdasarkan waktu.
Justru, perkembangan ini bisa membuat persaingan paket internet semakin bergeser. Operator bukan hanya perlu menawarkan jumlah kuota yang besar, tetapi juga perlu menjelaskan bagaimana kuota tersebut dapat digunakan dan bagaimana nasib sisa manfaat yang telah dibayar pelanggan. Jadi, kuota tengah malam belum sepenuhnya menghilang. Bisa saja skenarionya yang berubah. Bukan soal dapat berapa GB? tetapi juga kapan bisa dipakai dan apa yang terjadi kalau kuotanya masih tersisa.