Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Riset IMGR 2026: Gen Alpha Dibesarkan Algoritma

Ilustrasi menemani anak main gadget (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Ilustrasi menemani anak main gadget (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Intinya sih...
  • Generasi Alpha di Indonesia menghabiskan 2,8-3,5 jam per hari di depan gadget, dengan YouTube dan TikTok sebagai platform dominan.
  • Generasi Alpha tumbuh dalam dunia yang dibentuk oleh algoritma dan pengawasan yang terus-menerus.
  • Kebutuhan literasi privasi dan keseimbangan teknologi menjadi penting bagi Generasi Alpha dalam pertumbuhan mereka.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Generasi Alpha di Indonesia kini tumbuh dalam dunia yang tak bisa lepas dari layar. Menurut temuan Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026 (IMGR 2026), anak-anak berusia 5–11 tahun rata-rata menghabiskan 2,8 hingga 3,5 jam per hari di depan gadget, dengan YouTube dan TikTok sebagai platform yang paling mendominasi perhatian mereka. 

Fenomena ini tidak hanya menggambarkan pola konsumsi digital anak, tetapi juga menjadi cerminan bagaimana pola asuh tengah didefinisikan ulang oleh para orang tua dari kalangan Milenial dan Gen Z, yang lebih sadar akan pentingnya keseimbangan antara keamanan emosional, eksplorasi digital, dan perkembangan anak di era algoritma.

Bagi Generasi Alpha, teknologi bukanlah sekadar alat yang mereka pelajari seiring bertumbuh, melainkan lingkungan tempat mereka dibesarkan. Mulai dari waktu bermain, belajar, hingga ekspresi emosional, platform digital telah tertanam dalam hampir setiap aspek kehidupan sehari-harI. Konten tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga dikurasi, dipersonalisasi, dan disajikan oleh algoritma yang diam-diam membentuk cara mereka melihat dunia, cara mereka bermain, serta siapa mereka di masa depan.

Kedaulatan digital

Jika Generasi Alpha tumbuh dalam dunia yang dibentuk oleh algoritma, mereka juga tumbuh di bawah pengawasan yang terus-menerus. Dari baby monitor dan transportasi sekolah yang dilengkapi GPS hingga smart speaker dan aplikasi kontrol orang tua, pengawasan diam-diam tertanam dalam rutinitas mereka. Apa yang dimulai sebagai upaya menjaga keamanan, menjadi gagasan bahwa diawasi adalah sesuatu yang wajar.

Selain pemantauan fisik, sistem algoritmik juga melacak perhatian, memprediksi preferensi, dan membentuk perilaku melalui konten yang dikurasi. Bagi generasi ini, personalisasi bukanlah hal baru, melainkan standar dasar. Namun ketika algoritma mulai mengantisipasi pilihan mereka, muncul pertanyaan yang lebih dalam tentang apa yang terjadi ketika personalisasi mulai menggantikan otonomi?

Ini menjadi alasan mengapa literasi privasi—kemampuan untuk memahami dan terlibat secara kritis dengan sistem yang memantau serta memengaruhi perilaku—menjadi kebutuhan perkembangan yang sangat penting. Sama seperti generasi sebelumnya yang diajarkan untuk melindungi ruang fisik mereka, Generasi Alpha harus belajar bagaimana melindungi ruang digital mereka.

Keseimbangan teknologi

ilustrasi anak main gadget (pixabay.com/StockSnap)
ilustrasi anak main gadget (pixabay.com/StockSnap)

Namun, di sebagian besar lingkungan rumah dan sekolah, pembicaraan tentang privasi masih jarang, terutama bagi anak-anak usia dini. Fokus masih tertuju pada batasan waktu layar daripada kemampuan digital. Seiring dengan semakin meningkatnya akses mereka terhadap teknologi, Generasi Alpha tidak hanya membutuhkan sarana teknologi, tetapi juga alat untuk mempertimbangkannya.

"Kami sedang membesarkan generasi pertama yang dipantau sebelum mereka bisa berbicara dan dipengaruhi serta berpikir kritis. Generasi Alpha tumbuh dengan algoritma yang membentuk rasa ingin tahu, perhatian, dan identitas diri. Mengajarkan mereka literasi emosional tanpa literasi digital belumlah cukup—mereka perlu memahami sistem di mana mereka berada,” kata psikiater dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ.

Pergeseran pandangan

Penekanan pada keamanan emosional bukanlah sebuah kebetulan, melainkan respons terhadap perubahan sistemik yang lebih dalam. Jika revolusi industri dulu menyeragamkan masa kanak-kanak dengan rutinitas, maka Generasi Alpha saat ini tumbuh dalam dunia yang dibentuk oleh kustomisasi, prediksi, dan optimalisasi yang terus-menerus.

Namun, yang membedakan era ini bukan hanya teknologinya, melainkan kesadaran terhadapnya. Orang tua dari generasi Milenial dan Gen Z lebih reflektif dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tidak lagi bertanya bagaimana mempersiapkan anak agar sesuai dengan sistem, melainkan mempertanyakan sistem itu sendiri.

Nilai apa yang seharusnya diwariskan? Struktur apa yang layak dibangun kembali? Hasilnya adalah pergeseran generasi di mana masa kanak-kanak tidak lagi dipandang sebagai latihan menuju kedewasaan, melainkan sebagai fase yang bermakna pada dirinya sendiri—penuh dengan emosi, eksplorasi, dan tujuan.

IDN menggelar Indonesia Summit 2025, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "Theme: Thriving Beyond Turbulence Celebrating Indonesia's 80 years of purpose, progress, and possibility". IS 2025 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2025 diadakan pada 27 - 28 Agustus 2025 di Tribrata Dharmawansa, Jakarta. Dalam IS 2025, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei dilakukan pada Februari sampai April 2025 dengan studi metode campuran yang melibatkan 1.500 responden, dibagi rata antara Milenial dan Gen Z.

Survei ini menjangkau responden di 12 kota besar di Indonesia, antara lain Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Solo, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us