5 Paten Paling Aneh yang Dimiliki Brand Teknologi Terkenal

Apple mematenkan kantong kertas berdesain minimalis dengan penguat internal, sementara Amazon dikritik karena mematenkan teknik foto produk berlatar putih yang sudah umum.
IBM mendapat paten sistem balasan email di luar jam kerja meski fiturnya telah lazim, lalu memilih tidak menegakkannya setelah kritik soal minimnya kebaruan.
Sony mengajukan iklan TV yang meminta penonton menyebut merek untuk melewati tayangan, sedangkan paten chatbot Microsoft peniru orang meninggal memicu isu etika dan privasi.
Perusahaan teknologi dikenal memiliki anggaran riset yang sangat besar. Karena itu, tidak mengherankan jika mereka mendaftarkan ribuan paten setiap tahun, mulai dari teknologi chip, algoritma AI hingga perangkat futuristis. Namun, tidak semua paten tersebut terdengar canggih atau revolusioner. Sebagian diantaranya malah berkaitan dengan hal-hal yang sangat sederhana, kontroversial, aneh atau bahkan terdengar seperti berasal dari film distopia. Berikut beberapa paten paling aneh yang dimiliki brand teknologi terkenal.
1. Kantong kertas milik Apple

ilustrasi paten kantong kertas dari Apple (dok. Apple) Pada 2016, Apple mengajukan paten untuk sebuah benda yang tampaknya sangat biasa yaitu kantong kertas. Paten ini menjelaskan desain kantong berwarna putih yang dibuat dari kertas solid bleached sulfate dengan setidaknya 60 persen material daur ulang. Sekilas, tidak ada yang istimewa dari benda tersebut karena kantong kertas telah digunakan oleh berbagai toko selama bertahun-tahun. Namun, Apple tidak hanya mematenkan bentuk kantongnya, di mana mereka juga merancang penguat khusus di bagian dalam agar kantong lebih kokoh, sembari tetap mempertahankan desain minimalis. Desain tersebut sejalan dengan citra Apple yang sangat memperhatikan detail dan pengalaman konsumen. Meski terlihat aneh dan berlebihan, paten ini menunjukkan bagaimana Apple berusaha mengontrol hampir setiap aspek interaksi pelanggan, termasuk benda yang digunakan untuk membawa produk keluar dari Apple Store.
2. Chatbot Microsoft yang bisa meniru orang yang telah meninggal
Salah satu paten paling kontroversial dalam daftar ini berasal dari Microsoft. Pada 2020, mereka memperoleh paten yang menjelaskan sistem untuk membuat chatbot berdasarkan sosok tertentu, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Teknologinya dirancang untuk mengumpulkan berbagai data pribadi, seperti unggahan media sosial, email, pesan singkat, foto, rekaman suara dan informasi lain. Data yang sudah terkumpul kemudian bisa digunakan untuk membangun chatbot yang bisa meniru gaya bicara, kepribadian atau pola respons dari seseorang, termasuk yang sudah meninggal. Konsep tersebut langsung menimbulkan persoalan etika, terutama mengenai persetujuan, privasi, hak keluarga dan dampaknya terhadap proses berduka. Microsoft kemudian menyatakan bahwa ide itu memang mengganggu dan mereka tidak memiliki rencana aktif untuk mengembangkannya kedalam sebuah produk.
3. Background putih untuk foto produk Amazon

ilustrasi fotografi produk dengan background putih dari Amazon (dok. Amazon) Amazon pernah mengajukan sebuah paten yang berkaitan dengan teknik memotret produk menggunakan background putih. Dalam metode tersebut, objek ditempatkan di depan latar berbentuk lengkung atau cyclorama, lalu diterangi dengan pengaturan lampu tertentu agar tidak terlihat garis batas antara lantai dan dinding. Masalahnya, teknik semacam ini sudah lama menjadi praktik umum dalam fotografi komersial, jauh sebelum Amazon berkembang menjadi raksasa e-commerce. Foto produk dengan background putih memang membantu pembeli melihat barang secara jelas, namun konsep dasarnya bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Paten ini kemudian menuai kritik dari komunitas fotografer karena dianggap mencoba mengklaim kepemilikan atas metode fotografi yang sangat umum.
4. Sistem balasan otomatis di luar jam kantor dari IBM
Fitur out-of-office kini menjadi fitur standar dari hampir semua layanan email. Pengguna cukup mengaktifkan balasan otomatis untuk memberi tahu pengirim bahwa mereka sedang berlibur, sakit atau tidak dapat membalas pesan untuk sementara. Meski begitu, IBM memperoleh paten untuk sebuah sistem balasan otomatis di luar jam kantor pada awal 2017. Permohonan paten ini sebenarnya telah diajukan sejak 2010, ketika balasan otomatis sudah menjadi fitur yang umum digunakan dalam lingkungan kerja. Karenanya, tak mengherankan apabila paten ini mendapat kritik keras dari kelompok advokasi hak digital, termasuk Electronic Frontier Foundation. Mereka menilai paten ini tidak memenuhi unsur kebaruan dan tidak cukup inovatif untuk mendapatkan perlindungan paten. Pada akhirnya, IBM memilih untuk tidak menegakkan paten ini, sehingga perusahaan dan pengguna email tetap bisa menggunakan fitur balasan otomatis tanpa khawatir menghadapi tuntutan hukum.
5. Iklan yang hanya bisa dilewati dengan menyebut nama merek milik Sony

ilustrasi paten menyebut nama merek iklan di TV dari Sony (dok. Sony) Sony pernah mengajukan paten untuk sistem yang mengubah iklan TV menjadi “game interaktif”. Secara teori, idenya terdengar menarik karena penonton bisa berinteraksi dengan iklan, alih-alih sekadar menontonnya secara pasif. Namun, salah satu contoh dalam dokumen patennya justru terasa sangat aneh. Dalam ilustrasinya, penonton yang sedang menyaksikan iklan makanan cepat saji harus meneriakkan nama merek ke arah TV agar iklan berhenti dan acara kembali diputar. Sistem ini akan menggunakan kamera dan mikrofon untuk memastikan bahwa penonton benar-benar mengucapkan nama merek yang diminta. Dengan kata lain, acara TV yang sedang ditonton seolah-olah “ditahan” sampai penonton memenuhi tuntutan iklan. Untungnya, Sony tidak pernah menerapkan teknologi atau paten ini secara nyata.
Demikian tadi ulasan mengenai beberapa paten paling aneh yang dimiliki brand teknologi terkenal. Pernah mendengar paten-paten di atas?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















