Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Brand Teknologi Terkenal yang Awalnya Bukan Perusahaan Teknologi

4 Brand Teknologi Terkenal yang Awalnya Bukan Perusahaan Teknologi
ilustrasi Samsung (dok. Samsung)
  • Nintendo bermula sebagai pembuat kartu Hanafuda pada 1889, lalu masuk ke pengembangan game pada 1975 dan kini dikenal lewat konsol, sambil tetap memproduksi kartu tradisional.
  • Samsung didirikan sebagai perusahaan perdagangan hasil bumi, ikan kering, dan mie instan pada 1938; Samsung Electronics lahir pada 1969 sebelum bisnisnya meluas ke banyak sektor.
  • Sharp berawal dari sabuk dan pensil mekanis, lalu beralih ke radio setelah pabriknya hancur pada 1923; Nokia bermula dari pabrik kertas sebelum fokus pada telekomunikasi dan jaringan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banyak perusahaan yang meninggalkan produk lama atau memperluas usahanya ke bidang baru, seperti Amazon yang berawal dari toko buku online lalu berkembang menjadi raksasa penjualan berbagai barang, layanan berlangganan, televisi hingga cloud computing. Perubahan semacam ini biasanya masih memiliki hubungan dengan bisnis awalnya, seperti Netflix yang beralih dari menyewakan DVD lewat pos ke layanan streaming. Namun, ada pula perusahaan teknologi terkenal yang justru memulai perjalanan dari bidang yang sama sekali berbeda, misalnya memproduksi kartu permainan, tisu toilet, atau bahkan mie, sebelum akhirnya berkembang menjadi brand teknologi besar seperti sekarang. Brand apa saja itu? Berikut daftarnya.

  1. 1. Nintendo

    nintendo-building-from-official-nintendo-website.jpg
    Nintendo (dok. Nintendo)

    Nintendo didirikan oleh Fusajiro Yamauchi pada 1889 dengan nama Nintendo Karuta dan awalnya berfokus pada pembuatan kartu Hanafuda, yaitu kartu bergambar bunga dan musim yang muncul setelah kartu remi bergaya Barat dilarang di Jepang karena kaitannya dengan perjudian. Setelah aturan tersebut mulai dilonggarkan pada tahun 1885, Nintendo memperluas produksinya ke kartu remi pada 1902 dan berkat bantuan pengusaha tembakau Kichibē Murai, mereka memasarkannya melalui jaringan penjual tembakau di seluruh Jepang.

    Pada 1926, Nintendo telah menjadi produsen kartu terbesar di negara itu, lalu terus berinovasi dengan membuat kartu berbahan plastik pada 1953 dan kartu bergambar karakter Disney pada 1959. Barulah pada 1975, Nintendo mulai mengembangkan game, hingga akhirnya dikenal luas lewat konsol seperti Nintendo Switch, meski sampai sekarang mereka masih memproduksi kartu Hanafuda.

  2. 2. Samsung

    1205x0_s3-54593-shutterstock_757373476.jpg
    Samsung (dok. Samsung)

    Samsung bisa dibilang sebagai salah satu perusahaan teknologi yang mengalami perubahan arah bisnis paling besar. Perusahaan ini didirikan pada 1938 oleh Lee Byung-chull di Pasar Seomun, Daegu, Korea, dengan nama Samsung yang berarti “tiga bintang”. Pada awalnya, Samsung Trading Co. menjual hasil bumi dan ikan kering ke Tiongkok, sekaligus memproduksi mie instan bermerek Star Noodles yang kabarnya sangat populer di wilayah tersebut.

    Setelah pindah ke Seoul, Samsung berkembang menjadi perusahaan perdagangan yang menjual cumi-cumi dan rumput laut, memproduksi soju serta arak beras, mengelola kilang gula dan memintal wol menjadi benang. Samsung Electronics kemudian berdiri pada 1969 dan meluncurkan produk pertamanya yaitu televisi hitam-putih, pada 1970. Kini, Samsung tidak hanya dikenal lewat HP dan perangkat elektronik, tapi juga memiliki bisnis di bidang asuransi, konstruksi, bioteknologi, hingga pembuatan kapal.

  3. 3. Sharp

    Sharp-01.jpg
    Sharp (dok. Sharp)

    Sharp memiliki sejarah yang cukup bermasalah di Amerika Serikat. Setelah pada 2015 praktis keluar dari bisnis TV di negara tersebut dan melisensikan mereknya kepada Hisense, mereka kembali memasuki pasar AS pada 2019, meski belum menjadi salah satu brand smart TV paling populer. Namun, bisnis peralatan rumah tangganya tetap bertahan, sementara secara global, perusahaan ini masih merupakan pemain besar dan TV-nya dikenal baik di Jepang. Sharp sendiri didirikan pada 1912 oleh Tokuji Hayakawa, yang awalnya bekerja di sebuah bengkel logam kecil di Tokyo dan kemudian menciptakan sabuk dengan gesper inovatif.

    Pada 1915, ia mengembangkan pensil mekanis dengan mekanisme ulir yang ringkas dan penjepit yang bisa dilepas. Produk tersebut diberi nama Ever-Ready Sharp dan akhirnya menjadi asal-usul nama perusahaan. Meski Sharp mengklaim Hayakawa sebagai penemu pensil mekanis pertama di dunia, klaim itu masih diperdebatkan karena ada beberapa tokoh lain yang juga dianggap sebagai pelopornya. Setelah pabrik pensilnya hancur akibat gempa bumi pada 1923, Sharp beralih memproduksi radio dan menjual perangkat pertamanya pada 1925, bertepatan dengan dimulainya siaran radio di Jepang.

  4. 4. Nokia

    saham-nokia-meroket-di-kuartal-i-2026-berkat-ai-dan-cloud-23042026-223347.jpg
    Nokia (dok. Nokia)

    Nokia yang kini dikenal sebagai perusahaan infrastruktur jaringan dulunya merupakan brand HP terbesar di dunia, terutama pada periode 1998-2012, dengan ciri khas nada dering ikonik dan HP yang terkenal tahan banting. Namun, sejarah Nokia sebenarnya jauh lebih panjang dan beragam. Perusahaan ini didirikan pada 1865 oleh insinyur pertambangan bernama Fredrik Idestam sebagai pabrik bubur kayu dan kertas di Finlandia, lalu mulai menjual listrik dari fasilitasnya pada 1902. Nama Nokia diambil dari lokasi pabrik keduanya yang dibuka pada 1868 di dekat kota Nokia.

    Setelah bergabung dengan Finnish Rubber Works pada 1967, Nokia juga pernah memproduksi sepatu bot karet tahan cuaca, sementara sejak 1962, mereka mulai memasuki bidang elektronik dengan membuat alat analisis denyut untuk fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir. Nokia kemudian beralih menjadi raksasa telekomunikasi, menjual bisnis perangkat dan layanannya kepada Microsoft pada 2014, dan kini kembali berfokus pada jaringan infrastruktur.

    Demikian tadi ulasan mengenai beberapa brand teknologi terkenal yang awalnya bukan perusahaan teknologi. Pernah menggunakan produk buatan brand-brand di atas?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More