ilustrasi situs Polymarket (dok. Polymarket)
Di Indonesia, situs Polymarket pernah mengalami pemblokiran akses oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Alasannya karena platform tersebut dikategorikan sebagai layanan judi online. Walaupun Polymarket mengklaim dirinya sebagai pasar prediksi dan bukan kasino konvensional, sistem spekulasi menggunakan uang tetap dianggap memiliki unsur perjudian oleh regulator di Indonesia.
Hal ini terjadi karena pengguna menempatkan dana untuk menebak hasil suatu peristiwa dengan harapan memperoleh keuntungan. Aktivitas seperti itu dinilai memiliki kemiripan dengan praktik taruhan online. Indonesia sendiri memiliki aturan yang cukup ketat terkait perjudian digital.
Karena itu, berbagai platform yang dianggap mengandung unsur taruhan biasanya akan dibatasi atau diblokir aksesnya oleh pemerintah. Sampai sekarang, pembahasan soal Polymarket masih terus memicu pro dan kontra. Ada yang melihatnya sebagai inovasi teknologi berbasis blockchain, tetapi ada juga yang menilai platform tersebut tetap memiliki unsur spekulasi berisiko tinggi.
Polymarket adalah platform prediction market berbasis blockchain yang memungkinkan pengguna berspekulasi terhadap hasil berbagai peristiwa dunia nyata menggunakan USDC. Sistemnya berbeda dari judi konvensional karena transaksi dilakukan secara peer-to-peer melalui pasar terbuka. Meski menawarkan konsep teknologi yang menarik, Polymarket tetap menuai kontroversi di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Jadi, sebelum tertarik mencoba platform seperti ini, pastikan kamu memahami cara kerja, risiko, dan aturan hukum yang berlaku.