Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rahasia Final Piala Dunia 2026 Bakal Semegah Super Bowl
teknologi kamera yang digunakan selama gelaran Piala Dunia 2026 (instagram.com/sonyelectronics)
  • FIFA menyiapkan produksi siaran Piala Dunia 2026 dengan standar setara Super Bowl, melibatkan teknologi kamera canggih, sistem AI, dan pusat produksi terintegrasi di Dallas untuk 104 pertandingan.
  • Setiap laga akan menggunakan sekitar 45 kamera beragam jenis, termasuk drone dan kamera sinematik, guna menghadirkan tayangan imersif di televisi maupun platform digital secara real-time.
  • Teknologi AI seperti EVS XtraMotion dan avatar 3D mendukung replay sinematik serta keputusan VAR, menjadikan final Piala Dunia 2026 puncak inovasi penyiaran olahraga global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Super Bowl selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu ajang olahraga dengan kualitas produksi siaran paling spektakuler di dunia. Bukan hanya pertandingan di lapangan yang menjadi perhatian, tetapi juga bagaimana setiap momen berhasil ditangkap melalui teknologi kamera, sistem replay, hingga perangkat pendukung yang terus berkembang setiap musimnya. Tak heran jika banyak inovasi penyiaran olahraga pertama kali diperkenalkan di ajang final National Football League (NFL) tersebut sebelum kemudian diadopsi oleh kompetisi olahraga lain.

Pada Super Bowl LX yang berlangsung di Levi's Stadium, San Francisco, Sony menghadirkan ekosistem teknologi terbesarnya sepanjang menjadi mitra resmi NFL. Perusahaan asal Jepang itu mengerahkan lebih dari 175 kamera, teknologi Hawk-Eye, sistem pelacakan pemain berbasis AI, hingga headset komunikasi khusus pelatih untuk mendukung jalannya pertandingan. Standar produksi siaran inilah yang menjadi salah satu acuan dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Bahkan, Presiden FIFA Gianni Infantino menyebut turnamen edisi kali ini sebagai "104 Super Bowls" karena skala produksi siaran yang harus dijaga sepanjang 104 pertandingan. Lantas, seperti apa teknologi yang disiapkan agar Final Piala Dunia 2026 berpotensi semegah Super Bowl? Berikut sejumlah inovasi yang disiapkan FIFA bersama para mitra teknologinya.

1. Produksi siaran Super Bowl jadi standar dunia

Sony NFL Coach's Headsets (sony.co.jp)

Sony memanfaatkan Super Bowl LX sebagai ajang unjuk kemampuan teknologi audio, pencitraan, dan analisis olahraga yang saling terintegrasi. Salah satu inovasi terbarunya adalah Sony NFL Coach's Headsets, perangkat komunikasi yang mulai digunakan sejak musim NFL 2025. Headset tersebut dirancang berdasarkan seri headphone premium Sony 1000X sehingga mampu menghasilkan suara yang jernih meski digunakan di tengah kebisingan stadion maupun cuaca ekstrem.

Di sisi lain, Sony juga mengerahkan lebih dari 175 kamera yang ditempatkan di berbagai titik di dalam maupun sekitar stadion. Kamera-kamera tersebut terdiri atas seri HDC untuk kebutuhan siaran utama, kamera sinema, kamera mirrorless Alpha 1 II dan Alpha 9 III, hingga berbagai lensa G Master yang menghasilkan kualitas gambar profesional. Seluruh perangkat tersebut memungkinkan penyiar menghadirkan tayangan ultra slow-motion, sudut sinematik, hingga berbagai perspektif yang membuat pengalaman menonton terasa lebih imersif.

2. Mengapa dibutuhkan lebih dari 175 kamera?

Sony VENICE 2 (sony-cinematography.com)

Angka lebih dari 175 kamera yang digunakan pada Super Bowl LX mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang. Namun, banyaknya kamera tersebut bukan sekadar untuk menampilkan pertandingan dari berbagai sudut, melainkan karena setiap perangkat memiliki fungsi yang berbeda dalam proses produksi siaran. Ada kamera yang bertugas menangkap jalannya pertandingan secara langsung, ada pula yang difokuskan untuk menghasilkan tayangan sinematik, foto berkualitas tinggi, hingga mendukung proses replay dan analisis pertandingan. Pembagian tugas inilah yang membuat setiap momen penting dapat disajikan dengan detail tanpa mengorbankan kualitas gambar.

Salah satu perangkat yang menjadi tulang punggung produksi siaran adalah Sony HDC-5500, kamera broadcast yang digunakan untuk menangkap jalannya pertandingan dengan kualitas tinggi sekaligus mendukung pengambilan gambar berkecepatan tinggi (high frame rate) sehingga tayangan slow-motion terlihat lebih halus. Untuk menghasilkan visual yang lebih sinematik, tim produksi juga mengandalkan kamera digital cinema seperti Sony VENICE 2 dan BURANO, terutama pada tayangan pembuka, halftime show, maupun cuplikan suasana stadion. Sementara itu, fotografer di tepi lapangan menggunakan kamera mirrorless Alpha 1 II dan Alpha 9 III yang mampu memotret objek bergerak dengan sangat cepat. Seluruh perangkat tersebut dipadukan dengan lensa G Master, kamera PTZ, kamera udara, dan sistem transmisi nirkabel sehingga setiap sudut pertandingan dapat direkam dan dikirim ke ruang produksi secara real-time.

3. Produksi siaran Piala Dunia 2026 dibuat terpusat

trofi Piala Dunia 2026 (unsplash.com/My Profit Tutor)

Kemegahan produksi siaran Super Bowl menjadi salah satu gambaran mengenai besarnya tantangan yang dihadapi FIFA pada Piala Dunia 2026. Bahkan, Presiden FIFA Gianni Infantino menyebut turnamen tersebut sebagai "104 Super Bowls" karena terdiri atas 104 pertandingan yang dimainkan di 16 stadion selama 39 hari. Berkat perkiraan penonton global mencapai enam miliar orang, FIFA membutuhkan sistem produksi siaran yang jauh lebih kompleks dibanding edisi-edisi sebelumnya.

Untuk mewujudkannya, FIFA bersama Host Broadcast Services (HBS) menerapkan model produksi terpusat melalui International Broadcast Centre (IBC) di Dallas, Amerika Serikat. Fasilitas tersebut menjadi pusat berbagai proses penting, mulai dari pengolahan replay, grafis pertandingan, shading kamera, VAR, pemrosesan data, hingga distribusi siaran ke berbagai negara. Lebih dari 2.000 personel dari berbagai mitra media juga akan bekerja di pusat produksi tersebut selama turnamen berlangsung.

4. Setiap laga menggunakan sekitar 45 kamera

bola resmi Piala Dunia 2026 Trionda dipamerkan di pusat relawan FIFA di Toronto, Kanada (commons.wikimedia.org/OhanaUnited)

Berbeda dari Super Bowl yang hanya berlangsung dalam satu pertandingan, FIFA harus mempertahankan kualitas produksi siaran yang sama pada 104 pertandingan di tiga negara tuan rumah. Tantangan tersebut membuat strategi penggunaan kamera di Piala Dunia 2026 sedikit berbeda dibanding Super Bowl. Meski jumlah kameranya lebih sedikit, setiap pertandingan tetap dirancang agar mampu menghadirkan kualitas tayangan kelas dunia. Oleh karena itu, FIFA menyiapkan sekitar 45 kamera di setiap laga yang ditempatkan di berbagai titik strategis untuk menangkap jalannya pertandingan dari beragam sudut.

Puluhan kamera tersebut terdiri atas Polecam, Cablecam, kamera ultra slow-motion, super slow-motion, kamera bergaya sinematik, kamera 360 derajat, hingga kamera udara dan drone yang penggunaannya disesuaikan dengan regulasi di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Memasuki babak 32 besar, FIFA juga akan menambah kamera ultra-motion dan kamera khusus yang mengikuti pergerakan pemain tertentu. Selain menghasilkan tayangan utama (world feed), setiap pertandingan juga akan memiliki enam feed khusus untuk pemegang hak siar, ISO feed, dan lebih dari 10.000 jam konten tambahan (shoulder content) yang diproduksi sepanjang turnamen. Skala produksi tersebut menunjukkan bahwa Piala Dunia 2026 tidak hanya disiapkan untuk siaran televisi, tetapi juga berbagai platform digital.

5. AI bikin tayangan makin sinematik

EVS XtraMotion (evs.com)

Banyaknya kamera yang digunakan selama pertandingan menghasilkan volume gambar yang sangat besar. Karena itu, FIFA juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu proses pengolahan visual sehingga tayangan tetap terlihat dramatis tanpa mengurangi kecepatan produksi siaran. Salah satu teknologi yang akan digunakan adalah EVS XtraMotion, sistem berbasis AI yang mampu menghasilkan efek super slow-motion dari hampir semua kamera yang digunakan selama pertandingan. Teknologi ini bahkan menghadirkan mode Cinematic yang mampu menciptakan efek kedalaman bidang (depth of field) sehingga gambar terlihat menyerupai hasil pengambilan kamera sinema profesional.

Agar penggunaannya tetap konsisten di seluruh pertandingan, FIFA juga menyiapkan panduan khusus yang disusun oleh dua spesialis replay. Inovasi lain yang akan hadir adalah Referee View, yakni kamera yang dipasang pada tubuh wasit untuk menghadirkan sudut pandang orang pertama kepada penonton. Teknologi yang dikembangkan oleh tim Football Technology & Innovation FIFA tersebut sebelumnya diuji pada Piala Dunia Antarklub 2025 dan kini dilengkapi sistem stabilisasi berbasis AI yang diklaim Lenovo mampu mengurangi distorsi gerakan hingga 50 persen. Kamera tersebut akan digunakan secara terbatas pada momen-momen tertentu agar tetap memberikan efek dramatis sekaligus menjaga kualitas tayangan.

6. VAR didukung avatar 3D dan AI

ilustrasi scoreboard dalam pertandingan sepak bola (unsplash.com/Homer Lopez)

Teknologi AI pada Piala Dunia 2026 tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan tayangan yang lebih sinematik, tetapi juga membantu proses pengambilan keputusan wasit di lapangan. FIFA menggandeng Lenovo sebagai mitra teknologi resmi untuk menghadirkan berbagai solusi berbasis AI yang mendukung jalannya pertandingan maupun pengalaman menonton. Salah satu inovasi yang akan digunakan adalah avatar pemain tiga dimensi pada tayangan semi-automated offside. Sebelum turnamen dimulai, setiap pemain dipindai dalam proses yang hanya memerlukan waktu sekitar satu detik sehingga sistem dapat menghasilkan model digital yang lebih akurat.

Avatar tiga dimensi tersebut digunakan untuk memvisualisasikan keputusan offside sehingga lebih mudah dipahami oleh penonton. Selain itu, Lenovo juga menghadirkan Football AI Pro, platform analitik yang dilatih menggunakan ratusan juta titik data FIFA untuk menghasilkan analisis dalam bentuk teks, video, grafik, hingga visualisasi tiga dimensi. Teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh 48 negara peserta sebagai alat bantu evaluasi pertandingan, termasuk bagi tim yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi analitik modern. Di sisi lain, Lenovo juga mengklaim berhasil memangkas jeda tayangan pada layar stadion menjadi kurang dari lima detik melalui sistem pemrosesan video yang mampu mendistribusikan siaran hampir secara real-time ke lebih dari 1.000 layar di area pertandingan.

7. Laga final Piala Dunia 2026 diperkirakan menjadi puncak dari seluruh inovasi tersebut

ilustrasi stadion (unsplash.com/Vienna Reyes)

Jika Super Bowl selama ini dianggap sebagai standar emas dalam produksi siaran olahraga, maka Piala Dunia 2026 menunjukkan ambisi untuk membawa standar tersebut ke level yang lebih tinggi. FIFA tidak hanya harus menyajikan satu pertandingan besar, tetapi juga menjaga kualitas produksi siaran pada 104 pertandingan yang berlangsung di tiga negara. Untuk mewujudkannya, berbagai teknologi mutakhir diterapkan, mulai dari puluhan kamera di setiap laga, pusat produksi terintegrasi, sistem replay berbasis AI, hingga inovasi terbaru pada VAR. Seluruh teknologi tersebut dirancang agar miliaran penonton dapat menikmati setiap momen pertandingan dengan kualitas visual dan akurasi yang semakin baik.

Laga final Piala Dunia 2026 diperkirakan menjadi puncak dari seluruh inovasi tersebut. Jika Super Bowl selama ini menjadi tolok ukur kemegahan produksi siaran olahraga, maka final Piala Dunia berpotensi memperlihatkan bagaimana teknologi penyiaran memasuki babak baru. Kamera tidak lagi sekadar berfungsi merekam gambar, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang terhubung dengan AI, analisis data, sistem replay, hingga VAR. Perpaduan teknologi itulah yang membuat Final Piala Dunia 2026 berpeluang menghadirkan pengalaman menonton yang semegah Super Bowl, bahkan dalam skala yang lebih besar karena harus melayani 104 pertandingan dan miliaran penonton di seluruh dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article