"Adopsi saja mungkin tidak cukup, memakai AI saja tidak cukup, tapi bagaimana kapabilitas dalam menggunakannya menjadi sangat penting," ujar Wamenkomdigi, Nezar Patria yang dikutip dalam keterangan tertulis.
Komdigi Rumuskan 4 Langkah Strategis Tutup Kesenjangan AI

- Komdigi merumuskan empat langkah strategis untuk menutup kesenjangan pemanfaatan AI di Indonesia, mencakup sektor pendidikan, kesehatan, jasa keuangan, dan pemerintahan agar transformasi digital lebih merata.
- Wamenkomdigi Nezar Patria menyoroti bahwa tantangan utama bukan pada akses teknologi, melainkan kedalaman kemampuan memanfaatkan AI secara produktif dan bertanggung jawab di berbagai lapisan masyarakat serta dunia usaha.
- Pemerintah memperkuat fondasi pengembangan AI melalui STRANAS KA, Peta Jalan AI Nasional, dan Etika AI Nasional berbasis risiko guna memastikan penerapan yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia memetakan empat langkah strategis untuk menutup kesenjangan akal imitasi (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia di tengah tingginya tingkat adopsi teknologi ini oleh masyarakat.
Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan pemanfaatan AI tidak berhenti pada penggunaan dasar, tetapi mampu mendorong transformasi di sektor pendidikan, kesehatan, jasa keuangan dan pemerintahan secara produktif, bertanggung jawab serta berdaya saing.
Kemampuan pemanfaatan AI masih minim
Wamen Nezar mengatakan Indonesia saat ini termasuk salah satu negara dengan tingkat adopsi AI tertinggi di dunia—masuk ke dalam lima besar dunia dalam penggunaan ChatGPT untuk coding dan analitik data serta pendidikan.
Ditemukan juga hampir separuh angkatan kerja telah memanfaatkan AI setiap minggu. Namun, tingginya adopsi tersebut belum sepenuhnya diikuti kemampuan memanfaatkan AI secara mendalam, baik oleh individu maupun dunia usaha.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan lagi terletak pada akses terhadap teknologi, melainkan pada kualitas pemanfaatannya.
"Ini bukan soal kesenjangan akses, tapi kesenjangan dalam hal kedalaman," lanjut Nezar.
Ia menjelaskan kesenjangan tersebut terlihat dari masih lebarnya jarak antara pengguna AI yang paling mahir dengan pengguna rata-rata, serta belum meratanya pemanfaatan AI di sektor usaha.
Transformasi belum merata

Sebagian besar pelaku usaha masih menggunakan AI untuk kebutuhan operasional dasar, sementara hanya sebagian kecil yang telah memanfaatkannya untuk mentransformasi model bisnis.
Kondisi serupa juga dihadapi jutaan UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) yang belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam ekosistem digital sehingga belum siap memanfaatkan AI secara optimal.
"Kita tidak bisa membangun satu AI house atau rumah AI atas fondasi yang bahkan belum pernah terdigitalisasi," ujar Nezar.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah terus memperkuat fondasi pengembangan AI melalui regulasi Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (STRANAS KA), Peta Jalan AI Nasional, serta Etika AI Nasional yang tengah diproses menjadi Peraturan Presiden dengan pendekatan berbasis risiko.
Menurut Wamen Nezar, berbagai kebijakan tersebut menjadi landasan untuk memastikan pengembangan AI berlangsung secara aman, terarah, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Kita membutuhkan kerangka pengembangan AI yang jelas dan kuat dengan perencanaan yang matang," ungkapnya.
4 langkah strategis
Berikut hal-hal yang mereka persiapkan:
- Langkah strategis di sektor pendidikan.
Komdigi mendorong pemanfaatan AI yang tidak lagi terbatas pada eksperimen individu, tetapi diterapkan secara terstruktur di lingkungan pendidikan dengan tetap memperhatikan keamanan dan kesesuaian usia peserta didik.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus menjaga kemampuan berpikir kritis generasi muda.
"Kita harus beralih dari eksperimentasi informal oleh siswa menuju adopsi kelembagaan yang terstruktur, aman dan sesuai dengan tahapan usia," tegasnya.
- Langkah kedua pada sektor kesehatan.
Wamen Nezar menilai keberhasilan pemanfaatan AI dalam membantu penapisan tuberkulosis (TBC) menunjukkan teknologi tersebut mampu memperkuat layanan kesehatan nasional, terutama di daerah yang masih kekurangan dokter spesialis.
Pemanfaatan AI membantu tenaga kesehatan melakukan diagnosis awal lebih cepat sehingga memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terpencil.
- Langkah ketiga menyasar sektor jasa keuangan.
Pemanfaatan AI yang selama ini berkembang di korporasi besar, mulai dari deteksi penipuan (fraud detection), pengelolaan sumber daya manusia, hingga proses rekrutmen, perlu diperluas ke lembaga keuangan mikro agar manfaat transformasi digital dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
"Kini saatnya memperluas instrumen ini ke lembaga-lembaga keuangan mikro yang melayani masyarakat di luar kota-kota besar," ujarnya.
- Langkah keempat difokuskan pada sektor publik.
Wamen Nezar menilai adopsi AI di lingkungan pemerintahan masih bersifat sporadis, padahal berbagai negara telah membuktikan teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi kerja birokrasi secara signifikan.
Karena itu, pemerintah akan terus mendorong pemanfaatan AI untuk memperkuat produktivitas aparatur sipil negara sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik.
"Aparatur sipil negara berhak mendapatkan hasil efisiensi yang sama seperti korporasi-korporasi besar yang telah menggunakan AI," katanya.
Dia menegaskan AI harus diposisikan sebagai alat yang melengkapi kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Oleh karena itu, penguatan literasi AI harus berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan bernalar agar masyarakat, khususnya generasi muda, mampu memanfaatkan AI secara bijaksana tanpa kehilangan daya pikir kritis.
Komdigi akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem AI nasional yang inklusif, bertanggung jawab dan berkelanjutan.




















