Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Satelit Pemantau Bencana, Siap Hadapi Ketidakpastian Alam
potret satelit memantau permukaan bumi (unsplash.com/NASA Hubble Space Telescope)
  • Satelit berperan memperkuat peringatan dini bencana dengan sensor penginderaan jauh, data real-time, dan analisis kecerdasan buatan untuk memetakan ancaman seperti angin, gempa, serta luapan air.
  • Sentinel-1, ALOS-2, dan Radarsat Constellation Mission memanfaatkan radar untuk memantau pergeseran tanah, aktivitas gunung api, banjir, es kutub, dan perubahan garis pantai dalam berbagai kondisi cuaca.
  • TerraSAR-X/TanDEM-X dan NISAR menyediakan pemetaan 3D serta citra radar detail untuk memantau topografi, ekosistem, vegetasi, lahan, dan anomali lingkungan guna mendukung mitigasi risiko bencana.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tengah ancaman perubahan iklim global yang kian meningkat dan memicu berbagai anomali cuaca ekstrem, mitigasi bencana berbasis teknologi menjadi benteng pertahanan penting. Salah satu teknologi tersebut adalah satelit. Kehadiran satelit sebagai pemantau fenomena alam di bumi menjadi tumpuan dalam memperkuat sistem peringatan dini bencana di seluruh dunia.

Satelit dibekali dengan sensor beresolusi tinggi serta teknologi penginderaan jauh yang mampu menginterpretasi permukaan bumi dan atmosfer secara real time. Data yang dihimpun akan langsung disalurkan ke pusat kendali nasional untuk dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan, sehingga pergerakan angin, potensi gempa, hingga luapan air dapat dipetakan jauh hari sebelum terjadi. Penasaran apa saja satelit yang memantau bencana di atmosfer? Yuk, simak lima satelit pemantau bencana yang siap hadapi ketidakpastian alam berikut!

1. Sentinel-1 ESA, pengawas pergeseran tanah dan tsunami

ilustrasi Sentinel-1 (commons.wikimedia.org/Rama)

Satelit Sentinel-1 milik Badan Antariksa Eropa (ESA) memainkan peran penting dalam memantau bencana alam, seperti gempa bumi kuat yang melanda Venezuela. Memanfaatkan teknologi radar khusus bernama interferometry, satelit ini mampu merekam dan memetakan perubahan permukaan bumi secara sangat akurat dari luar angkasa tanpa terhalang oleh kondisi cuaca maupun awan gelap. Melalui teknologi canggih ini, para ilmuwan berhasil mendeteksi adanya pergerakan tanah yang masif akibat gempa, termasuk lonjakan atau pengangkatan tanah vertikal setinggi hingga 65 cm di dekat wilayah pusat gempa. Data ini divisualisasikan ke dalam bentuk peta warna khusus sering disebut interferogram atau peta garis pinggir berwarna yang membuat pola pergeseran tanah terlihat dengan sangat jelas.

2. ALOS-2, mata-mata gunung berapi menembus asap

ilustrasi satelit ALOS-2 (commons.wikimedia.org/Syced)

ALOS-2 (Advanced Land Observing Satellite-2) atau yang juga dikenal sebagai Daichi-2 adalah satelit pengamatan bumi milik Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) yang diluncurkan pada 2014. Satelit ini dibekali dengan teknologi canggih berupa radar gelombang mikro bernama PALSAR-2 (L-band Synthetic Aperture Radar). Keunggulan utama dari gelombang L-band ini adalah kemampuannya menembus lapisan awan tebal hingga vegetasi hutan, serta dapat beroperasi secara optimal baik pada siang maupun malam hari tanpa terpengaruh oleh kondisi cuaca buruk. Dilansir laman eoPortal, fungsi paling vital dari misi ALOS-2 adalah mendukung penanggulangan bencana alam secara cepat dan akurat seperti letusan gunung berapi.

3. Radarsat Constellation Mission, pemantau banjir dan luapan air laut

ilustrasi satelit Radar (commons.wikimedia.org/NASA/NISAR project.)

Radarasat Constellation Mission merupakan satelit pengamatan bumi milik Kanada yang terdiri dari tiga satelit identik dan diluncurkan pada Juni 2019. Misi dari satelit ini dirancang untuk melanjutkan rekam jejak sukses teknologi radar Kanada selama lebih dari dua dekade guna memastikan ketersediaan data permukaan bumi secara harian. Dilansir laman UN Spider, kemampuan satelit ini sangat diandalkan untuk manajemen darurat bencana terutama dalam memetakan cakupan wilayah banjir, memantau pergerakan es di kutub, hingga mengamati perubahan garis pantai secara akurat. Selain penanganan bencana, data dari RCM memainkan peran viral dalam bidang pemantauan lingkungan dan pengawasan maritim global.

4. TerraSAR-X & TanDEM-X, pembuat peta bencana 3D berakurasi tinggi

ilustrasi TerraSAR-X & TanDEM-X (commons.wikimedia.org/DLR)

Duo satelit kembar ini buatan pusat antariksa Jerman yang terbang secara berdampingan dalam formasi yang sangat rapat di atmosfer. Satelit kembar ini punya konfigurasi jarak yang sangat dekat sehingga keduanya mampu merekam data radar dengan tingkat ketepatan geometri yang luar biasa tinggi. Dilansir laman ESA Earth Online, misi utama dari satelit ini adalah menghasilkan model elevasi digital atau DEM mencakup seluruh permukaan daratan bumi. Data topografi tiga dimensi berskala global dikumpulkan secara konsisten, cepat, dan presisi tinggi untuk membantu berbagai kebutuhan analisis ilmiah serta pemetaan modern. Ketersediaan data dari satelit ini dibuka secara luas untuk mendukung penelitian, pemantauan lingkungan, pengelolaan sumber daya air, studi iklim, hingga mitigasi risiko bencana alam.

5. NISAR NASA-ISRO, pengintai ekosistem dan anomali cuaca ekstrem

ilustrasi NISAR NASA-ISRO (commons.wikimedia.org/NASA / JPL)

Misi utama dari NASA dan ISRO melalui satelit NISAR adalah merilis citra radar yang merekam permukaan bumi dengan tingkat kejelasan yang luar biasa. Satelit yang diluncurkan pada pertengahan 2025 lalu ini dirancang untuk mendokumentasikan berbagai bentang alam mulai dari kawasan hutan lebat, lahan basah, area pertanian, hingga wilayah perkotaan secara sangat detail. Dilansir laman The Times of India, keunggulan utama satelit ini terletak pada penggunaan teknologi radar frekuensi ganda yang mampu menembus kanopi hutan serta mendeteksi pergeseran tanah. Lalu, satelit ini juga dapat mendeteksi terhadap perubahan vegetasi kecil dan tanaman pangan. Kombinasi canggih ini memungkinkan para ilmuwan untuk memantau dinamika lingkungan secara menyeluruh dan akurat.

Kehadiran satelit pemantau bencana dan dinamika bumi ini tentu bukan sekadar pelengkap teknologi canggih di angkasa, melainkan bentuk nyata usaha umat manusia dalam meminimalisir dampak buruk dari amukan alam yang sulit ditebak. Kemampuan deteksi dini yang kini lebih presisi membuat rantai komando evakuasi dan mitigasi darurat bisa bergerak lebih cepat sebelum bencana benar-benar meluluhlantakkan pemukiman. Edukasi tanggap bencana, pemahaman jalur evakuasi yang benar, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar adalah benteng pertahanan pertama yang tidak bisa digantikan oleh teknologi satelit sekali pun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article