"Jelas sekali bahwa orangtua dan seluruh lapisan masyarakat masih harus banyak mengejar ketertinggalan serta membutuhkan sumber informasi tepercaya dan aturan yang jelas untuk menghadapi dampak AI terhadap masyarakat dan anak-anak kita,” ujarnya dalam Common Sense Media.
Ketika Anak Lebih Jago AI daripada Orangtuanya: Haruskah Khawatir?

Perkembangan artificial intelligence (AI) membuat banyak anak dan remaja menjadi lebih cepat beradaptasi dengan teknologi dibandingkan orangtuanya. Anak mungkin sudah terbiasa menggunakan chatbot untuk mencari ide, merangkum materi pelajaran, membuat gambar, menerjemahkan teks, bahkan membantu mengerjakan tugas.
Sementara itu, orangtua masih belajar memahami apa sebenarnya AI, bagaimana cara kerjanya, dan apakah penggunaannya aman. Situasi ini bisa membuat orangtua merasa tertinggal. Namun, apakah anak yang lebih jago AI memang menjadi sesuatu yang perlu dikhawatirkan?
1. Anak lebih cepat menguasai AI bukan berarti orangtua gagal

ilustrasi bermain gadget (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Anak-anak memang memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi dengan teknologi baru karena mereka tumbuh ketika teknologi digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka cenderung bereksperimen tanpa terlalu takut salah, mencoba berbagai fitur, lalu belajar dari pengalaman.
Jadi, tidak mengherankan jika seorang anak bisa mengajari orangtuanya cara membuat prompt, menggunakan chatbot, atau menghasilkan gambar dengan AI. Survei Common Sense Media menemukan adanya kesenjangan pengetahuan antara orangtua dan anak mengenai AI.
Dalam survei 2023, hanya 30 persen orangtua yang mengatakan pernah menggunakan ChatGPT atau mengetahui banyak tentangnya, sementara angka tersebut mencapai 58 persen pada siswa usia 12–18 tahun. James P. Steyer, founder dan CEO Common Sense Media, menekankan bahwa orang dewasa memang perlu mengejar ketertinggalan tersebut.
Orangtua tidak perlu merasa kalah hanya karena anak lebih cepat menguasai AI. Justru, kondisi tersebut bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk berbagi pengetahuan sekaligus bagi orangtua untuk mengambil peran sebagai pendamping yang membantu anak memahami konsekuensi penggunaan teknologi.
2. Yang perlu dikhawatirkan bukan kemampuan anak, tetapi ketergantungannya

ilustrasi parenting (freepik.com/freepik) Anak yang bisa menggunakan AI dengan baik sebenarnya dapat memperoleh banyak manfaat. AI bisa membantu menjelaskan materi dengan bahasa yang lebih sederhana, memberikan ide ketika anak mengalami kebuntuan, atau menjadi alat untuk mengeksplorasi berbagai topik.
Masalah pun muncul ketika AI berubah dari alat bantu menjadi satu-satunya tempat anak mencari jawaban. Anak bisa terbiasa meminta AI mengerjakan semuanya sehingga kehilangan kesempatan untuk berpikir, mencoba, melakukan kesalahan, dan menemukan solusi sendiri.
"Sebagian besar anak (80 persen) mengatakan bahwa tidak akan sulit bagi mereka jika harus berhenti menggunakan AI selama satu bulan. Namun, bagi anak-anak yang menggunakan AI setiap hari, 42 persen menyatakan bahwa akan sulit untuk menjalani satu bulan tanpa AI. Di antara anak-anak yang menggunakan AI untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah (85 persen), 16 persen mengaku kesulitan memulai atau menyelesaikan tugas mereka saat tidak bisa menggunakan AI," demikian laporan penelitian Laura Zimmermann, PhD, direktur, riset AI untuk remaja 2026 dalam laman Common Sense Media yang menemukan tanda ketergantungan anak yang menggunakan AI setiap hari.
Jadi, pertanyaan yang lebih tepat bukan “Seberapa pintar anak menggunakan AI?”, melainkan “Apakah anak masih bisa berpikir dan mengambil keputusan tanpa AI?” Jika anak mampu menggunakan AI sebagai alat, kemudian memeriksa kembali jawabannya dan tetap melakukan pekerjaannya sendiri, itu justru menunjukkan literasi digital yang berkembang.
3. Orangtua tidak harus lebih jago AI, tetapi harus paham risikonya

ilustrasi parenting (freepik.com/pressfoto) Ada anggapan bahwa orangtua harus menguasai semua teknologi yang digunakan anak agar bisa mengawasinya. Padahal, orangtua tidak harus menjadi ahli AI. Yang jauh lebih penting adalah memahami prinsip dasar: informasi dari AI tidak selalu benar, data pribadi tidak seharusnya dibagikan sembarangan, dan hasil AI perlu diperiksa sebelum dipercaya atau digunakan.
Hal ini semakin penting karena anak-anak saat ini menggunakan AI untuk berbagai kebutuhan. Amanda Lenhart, Head of Research di Common Sense Media, mengingatkan bahwa anak-anak dapat memahami potensi AI dengan cepat tetapi belum tentu memahami risikonya.
"Temuan ini menunjukkan bahwa kaum muda dengan cepat memahami potensi platform AI generatif-mungkin tanpa sepenuhnya menyadari risiko atau sisi negatifnya, sehingga menegaskan perlunya orang dewasa berbicara dengan remaja mengenai AI. Kita perlu lebih memahami pengalaman mereka agar dapat mendiskusikan sisi positif maupun negatifnya, khususnya terkait bias dan ketidakakuratan," ujar Amanda Lenhart.
4. Jadikan anak sebagai teman belajar, bukan guru bagi orangtua

ilustrasi parenting (freepik.com/freepik) Ketika anak lebih mahir AI, orangtua sebenarnya bisa membalik keadaan tersebut menjadi pengalaman belajar bersama. Tidak masalah jika anak menunjukkan cara menggunakan sebuah aplikasi atau menjelaskan istilah yang belum dipahami orangtuanya. Orangtua tetap dapat mengambil peran penting dengan mengajukan pertanyaan yang mungkin belum terpikirkan oleh anak.
Misalnya, ketika anak menunjukkan bahwa AI bisa membuat gambar hanya dari sebuah perintah teks, orangtua dapat bertanya tentang sumber gambar, hak cipta, data pribadi, atau kemungkinan munculnya informasi yang salah. Dengan begitu, anak belajar bahwa kemampuan teknis hanyalah satu bagian dari literasi AI. Ada pula aspek etika, keamanan, privasi, dan tanggung jawab yang perlu diperhatikan.
5. Buat aturan bersama, bukan sekadar melarang

ilustrasi parenting (freepik.com/freepik) Larangan tanpa penjelasan bisa membuat anak justru menggunakan AI secara diam-diam. Tantangannya semakin besar karena teknologi AI berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan banyak keluarga untuk membuat aturan. Oleh karena itu, keluarga sebaiknya memiliki aturan sederhana yang disepakati bersama.
Misalnya, anak boleh menggunakan AI untuk mencari ide dan memahami materi, tetapi tidak menyerahkan seluruh tugas kepada AI. Anak juga perlu tahu bahwa informasi pribadi, foto sensitif, kata sandi, alamat rumah, atau informasi keluarga tidak boleh sembarangan dimasukkan ke dalam chatbot.
Orangtua juga dapat membuat aturan berdasarkan usia dan kebutuhan anak, kemudian mengevaluasinya secara berkala. Tujuannya bukan mengontrol setiap klik yang dilakukan anak, melainkan membangun kemampuan anak untuk mengambil keputusan ketika orangtua tidak berada di sampingnya.
Anak yang lebih jago AI daripada orangtuanya bukanlah sesuatu yang otomatis harus ditakuti. Justru, itu bisa menjadi kesempatan bagi keluarga untuk membangun pola belajar dua arah: anak berbagi kemampuan teknis, sementara orangtua membantu mengembangkan pertimbangan, etika, dan tanggung jawab.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















