Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tak Hanya Navigasi, Google Maps Kini Jadi Mesin Insight untuk Bisnis

Tak Hanya Navigasi, Google Maps Kini Jadi Mesin Insight untuk Bisnis
ilustrasi Google Maps (unsplash.com/HenryPerks)
Intinya Sih
  • Google dan Terralogiq menggelar acara Map The Way 2026 di Jakarta, menyoroti evolusi Google Maps dari alat navigasi menjadi platform insight bisnis berbasis Geospatial AI.
  • Tiga fitur utama—Places Insights, Road Management Insights, dan Imagery Insights—diperkenalkan untuk membantu bisnis serta pemerintah menganalisis perilaku konsumen, kondisi jalan, dan data visual secara lebih akurat.
  • Transformasi Google Maps selama dua dekade menghadirkan era baru pemanfaatan AI dalam pengambilan keputusan industri, meningkatkan efisiensi logistik hingga mendukung strategi bisnis prediktif di berbagai sektor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dua dekade setelah kemunculan “titik biru” pertama di layar ponsel, teknologi pemetaan kini berevolusi jauh melampaui fungsi navigasi sederhana. Dalam momentum tersebut, Google bersama Terralogiq menggelar pertemuan eksklusif bertajuk Map The Way di kantor Google Jakarta pada 5 Mei 2026. Acara ini menyoroti bagaimana teknologi Geospatial AI kini menjadi fondasi baru dalam pengambilan keputusan bisnis berbasis lokasi.

Salah satu sorotan utama datang dari pengembangan fitur analytics pada Google Maps Platform yang semakin canggih. Tidak lagi sekadar menampilkan peta, platform ini kini menghadirkan insight berbasis data yang dapat membantu perusahaan memahami perilaku konsumen, mengoptimalkan operasional, hingga meningkatkan efisiensi distribusi.

Tiga pilar analytics Google Maps

Seorang pria mengenakan kemeja putih berdiri di depan latar bertuliskan Terralogiq dan Google Cloud Premier Partner dalam sebuah acara.
Thomas Hendy, CEO Terralogiq dalam acara Map The Way 2026 (5/5/2026) (IDN Times/Rifki Wuda)

Menurut Thomas Hendy, fokus utama dalam ajang Map The Way Indonesia 2026 terletak pada penguatan fitur analytics dari Google Maps Platform. Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar utama yang kini menjadi andalan, yaitu Places Insights, Road Management Insights, dan Imagery Insights, yang dirancang untuk mengubah data geospasial menjadi insight yang lebih aplikatif bagi bisnis dan institusi.

"Fiturnya macam-macam, tapi yang kita angkat tahun ini adalah analytics. Ada tiga, yaitu places insight, road management insight, dan imagery insight,” ujar Thomas saat ditanyai IDN Times.

Ia menambahkan bahwa Places Insights memungkinkan pengguna menggali informasi lebih dalam tentang suatu lokasi, mulai dari jam operasional, tingkat keramaian, hingga pola kunjungan di waktu tertentu. Insight ini bisa membantu pelaku usaha memahami perilaku konsumen dan menentukan strategi bisnis yang lebih tepat sasaran.

Sementara itu, Road Management Insights lebih banyak dimanfaatkan oleh pemerintah maupun institusi yang membutuhkan data lalu lintas secara akurat dan mendekati real-time. Fitur ini memungkinkan pemantauan kondisi jalan, titik kemacetan, hingga waktu-waktu sibuk, sehingga dapat digunakan untuk perencanaan transportasi maupun operasional logistik yang lebih efisien.

Adapun Imagery Insights menghadirkan pendekatan yang lebih canggih dengan mengubah data visual, seperti gambar dari Street View, menjadi informasi yang dapat dianalisis. Dengan kemampuan ini, pengguna dapat memahami kondisi lingkungan secara lebih detail, mulai dari perubahan kawasan hingga potensi peluang atau risiko di suatu wilayah.

Dengan hadirnya tiga fitur analytics tersebut, Thomas menegaskan bahwa Google Maps kini tidak hanya berfungsi sebagai alat navigasi, tetapi juga sebagai platform strategis berbasis data yang dapat membantu bisnis hingga pemerintah di Indonesia mengambil keputusan.

Dari navigasi ke kecerdasan operasional berbasis AI

Perjalanan Google Maps selama dua dekade menunjukkan transformasi besar dalam cara manusia berinteraksi dengan data lokasi. Jika sebelumnya hanya berfungsi sebagai alat navigasi statis, kini platform tersebut telah berkembang menjadi representasi bumi yang terdigitalisasi secara dinamis dan ditenagai AI.

Di Indonesia, perubahan ini terasa signifikan, mulai dari sekadar mencari rute tercepat, kini teknologi peta digunakan untuk memecahkan tantangan kompleks seperti optimasi logistik last-mile hingga mendorong inklusi keuangan berbasis lokasi.

Memasuki era baru, kebutuhan industri juga semakin meningkat. Sektor seperti perbankan (BFSI), ritel, hingga rantai pasok membutuhkan tingkat akurasi yang lebih tinggi dalam pengambilan keputusan. Di sinilah solusi berbasis Maps AI, seperti Agentic Maps dan Predictive Analytics, memainkan peran penting dalam membantu perusahaan meningkatkan efisiensi sekaligus menciptakan keunggulan kompetitif.

Thomas Hendy menegaskan bahwa transformasi ini menjadi perubahan fundamental dalam cara bisnis beroperasi.

"Merayakan 20 tahun Google Maps Platform bukan sekadar melihat kembali sejarah, tetapi merayakan bagaimana sebuah ‘lompatan’ visi telah mengubah cara kita bergerak dan berbisnis di Indonesia," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa melalui integrasi Geospatial AI dan kerangka kerja seperti Mapster AI, pelaku industri kini bisa mengubah data spasial menjadi strategi bisnis yang bersifat prediktif dan transformatif.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Related Articles

See More