Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Desa Adat di Indonesia, Destinasi Wisata Seru buat Kenal Budaya Lokal
ilustrasi suasana pedesaan (unsplash.com/Akhnaf)
  • Artikel menyoroti 10 desa adat lintas Indonesia sebagai destinasi wisata budaya, dari Bawomataluo di Sumatra Utara hingga Malasigi di Papua Barat Daya.
  • Setiap desa menawarkan ciri khas, seperti rumah tradisional, ritual, bahasa, kuliner, kerajinan, situs megalitik, serta lanskap alam yang mencerminkan kehidupan masyarakat setempat.
  • Wisatawan dapat mengenal budaya lokal melalui interaksi dan aktivitas desa, sambil menghormati aturan adat, termasuk ketentuan dokumentasi di wilayah tertentu seperti Baduy.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada kalanya perjalanan terbaik bukan tentang seberapa jauh kita pergi, melainkan tentang seberapa banyak cerita yang dibawa pulang. Di Indonesia, cerita semacam itu bisa ditemukan di desa-desa adat yang masih mempertahankan rumah tradisional, bahasa, ritual, hingga tata kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menariknya, berkunjung ke desa adat tidak selalu hanya melihat rumah tradisional. Kamu juga bisa berjalan kaki menyusuri pedesaan, menikmati lanskap alam, mencicipi kuliner lokal, melihat kerajinan, hingga belajar memahami aturan adat yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di dalamnya.

Jika kamu sedang mencari desa adat di Indonesia yang dapat dikunjungi untuk wisata, berikut 10 destinasi yang menarik untuk masuk ke dalam daftar perjalananmu berikutnya.

1. Desa Bawomataluo, Sumatra Utara

Desa Bawomataluo (instagram.com/disbudparekrafsumut)

Desa Bawomataluo adalah sebuah desa adat bersejarah di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara. Desa ini terkenal sebagai pusat budaya megalitik dan tradisi lompat batu khas Nias.

Deretan rumah adat tradisional Nias berbentuk panggung dari kayu yang dibangun tanpa paku modern atau Omo Hada, bisa kamu lihat di sini. Selain itu, ada juga Omo Sebua, rumah adat terbesar dan termegah yang menjadi kediaman kepala adat atau raja.

Desa ini punya tradisi lompat batu setinggi lebih dari dua meter dengan ketebalan 40 sentimeter. Di samping itu, kompleks desa juga dipenuhi batu-batu besar peninggalan purbakala yang digunakan untuk tempat duduk musyawarah adat serta upacara.

2. Kampung Naga, Jawa Barat

Kampung Naga (instagram.com/kampungnaga_tasikmalaya)

Di antara Tasikmalaya dan Garut, terdapat sebuah kampung yang masih mempertahankan tata kehidupan tradisional masyarakat Sunda, bernama Kampung Naga. Untuk mencapai permukiman utama, kamu harus menuruni ratusan anak tangga yang kemudian membawamu ke kawasan yang dikelilingi pepohonan, Sungai Ciwulan, dan perbukitan.

Rumah-rumah di sini memiliki bentuk tradisional dengan material yang banyak memanfaatkan bahan alami. Tata ruang kampungnya juga tidak terlepas dari aturan adat yang diwariskan turun-temurun. Kamu dapat melihat bagaimana masyarakat di sini menjaga tradisi sekaligus hidup berdampingan dengan lingkungan.

3. Desa Adat Osing Kemiren, Jawa Timur

Desa Adat Osing Kemiren (instagram.com/desakemiren_official)

Desa Adat Osing Kemiren di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur merupakan pusat pelestarian budaya asli Suku Osing yang mendunia. Tradisi, bahasa, kesenian, kuliner, dan ritual masyarakat masih menjadi bagian dari kehidupan desa.

Salah satu cata menarik menikmati desa ini adalah dengan tidak terburu-buru. Berjalan menyusuri desa, melihat rumah tradisional, mencoba kuliner lokal, atau berinteraksi dengan masyarakat dapat memberikan pengalaman yang lebih utuh. Desa ini juga menjadi tempat tinggal maestro Tari Gandrung dan kesenian Barong, serta terkenal dengan festival budaya sakral seperti Tumpeng Sewu dan Barong Ider Bumi.

4. Desa Adat Baduy, Banten

ilustrasi suasana di Desa Adat Baduy (unsplash.com/Ginevra Austine)

Tidak jauh dari hiruk-pikuk perkotaan Banten, masyarakat Baduy masih menjalani kehidupan yang berpegang kuat pada adat dan tradisi leluhur. Wilayah tempat mereka bermukim berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Masyarakat Baduy dikenal terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar, dengan aturan adat yang berbeda. Kehidupan mereka juga sangat erat dengan alam serta lingkungan sekitar. Rumah-rumah tradisional yang menggunakan material alami menjadi salah satu ciri yang bisa dijumpai di kawasan ini.

Berkunjung ke Baduy membutuhkan sikap yang berbeda dari wisata biasa. Ada sejumlah aturan adat yang perlu dihormati, termasuk ketentuan mengenai dokumentasi ketika berada di wilayah tertentu.

5. Desa Tenganan Pegringsingan, Bali

Desa Tenganan Pegringsingan (dok.pribadi/Natalia Indah)

Bali punya banyak desa adat yang menarik untuk dikunjungi, namun Tenganan Pegringsingan menawarkan pengalaman yang sedikit berbeda. Desa yang berada di Kabupaten Karangasem ini dikenal sebagai salah satu desa Bali Aga, yakni masyarakat Bali asli yang mempertahankan tradisi serta tata kehidupan yang telah diwariskan sejak masa lampau.

Memasuki kawasan desa ini, kamu akan menemukan suasana desa yang khas dengan tata ruang tradisional dan rumah-rumah yang mengapit jalan utama. Desa ini terkenal juga dengan kain gringsing, kain tenun tradisional yang dibuat menggunakan teknik double ikat dan proses pembuatannya membutuhkan waktu lama serta keterampilan khusus. Selain itu, ada juga tradisi Mekare-kare, ritual perang pandan yang menjadi bagian dari upacara adat masyarakat Tenganan.

6. Desa Adat Sade, Nusa Tenggara Barat

potret Desa Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (IDN Times/Sunariyah)

Desa Adat Sade terletak di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, dan menjadi salah satu tempat populer untuk mengenal budaya Sasak. Kawasan desanya masih khas dan terdapat aktivitas menenun yang menjadi salah satu keterampilan tradisional masyarakatnya.

Desa ini memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat Sasak dan bagaimana sejumlah tradisi tetap dipertahankan ketika pariwisata berkembang di sekitarnya. Beberapa di antaranya adalah tradisi mengepel lantai dengan kotoran hewan serta tradisi Merariq atau kawin culik.

7. Kampung Adat Bena, Nusa Tenggara Timur

Kampung Adat Bena (instagram.com/wisata_adat_bena)

Kampung Adat Bena adalah perkampungan megalitikum berusia sekitar 1.200 tahun yang terletak di kaki Gunung Inerie, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Kampung ini berada di kawasan perbukitan dengan latar Gunung Inerie.

Di tengah permukiman, terdapat berbagai elemen budaya yang berkaitan dengan tradisi leluhur, termasuk ngadhu dan bhaga. Rumah-rumah tradisional yang tersusun di kawasan kampung membuat Bena terasa seperti ruang yang mempertemukan kehidupan masa kini dengan jejak budaya masa lalu. Masyarakatnya juga masih memegang teguh tradisi leluhur dan memuja Gunung Inerie sebagai tempat bersemayamnya Dewa Yeta yang melindungi kampung.

8. Desa Adat Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur

ilustrasi suasana Desa Adat Wae Rebo (unsplash.com/Marcella Oscar)

Masih di Nusa Tenggara Timur, ada satu nama yang hampir selalu masuk dalam daftar destinasi wisata budaya Indonesia, yakni Wae Rebo. Desa adat ini berada di kawasan pegunungan Manggarai dan dikenal dengan rumah tradisional Mbaru Niang yang berbentuk kerucut.

Desa ini dikelilingi oleh perbukitan hijau dan kabut tipis sehingga dijuluki sebagai negeri di atas awan. Daya tarik utamanya adalah tujuh rumah adat yang dibangun melingkar mengitari sebuah batu pusat yang disebut compang, yang menjadi tempat pemujaan serta aktivitas adat.

9. Kete Kesu, Sulawesi Selatan

Desa Kete Kesu (instagram.com/ketekesutoraja)

Kete Kesu adalah desa adat tertua di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan yang terkenal dengan rumah adat Tongkonan dan tradisi pemakaman kuno. Desa ini memperlihatkan bagaimana rumah, ruang hidup, dan tradisi kematian memiliki hubungan erat dalam kebudayaan Toraja.

Kamu bisa melihat deretan rumah tradisional suku Toraja beratap melengkung khas yang berusia ratusan tahun dan masih dipakai untuk kegiatan adat. Selain itu, terdapat kuburan di atas tebing batu atau gua berusia ratusan tahun lengkap dengan peti mati tradisional atau erong. Ada juga patung Tau-Tau atau patung kayu yang menyerupai bentuk fisik orang yang meninggal dan khusus dibuat sebagai bentuk penghormatan bagi para bangsawan.

10. Kampung Malasigi, Papua Barat Daya

Kampung Malasigi (instagram.com/kampungwisataadatmalasigi)

Kampung Malasigi merupakan wilayah adat asli yang dihuni oleh masyarakat Suku Moi Kelim di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Kampung ini dihuni secara turun-temurun oleh sub-sub suku Moi kelim yang memegang hak ulayat atas wilayah hutan tersebut.

Masyarakatnya masih mendiami rumah panggung kayu tradisional, mempertahankan budaya khas suku Moi, serta memproduksi kerajinan asli seperti noken dan mahkota adat. Komunitas adat setempat secara ketat menjaga kawasan hutan adat dan menjadi habitat alami bagi lima jenis burung Cenderawasih. Berkat kelestarian adat dan lingkungan yang dijaga masyarakat aslinya, wilayah ini dikembangkan menjadi ekowisata dan berhasil dinobatkan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia.

Mengunjungi desa adat di Indonesia bukan sekadar menambah destinasi dalam daftar perjalanan. Di setiap sudut desa, ada cerita tentang tradisi, rumah leluhur, kerajinan, hingga cara masyarakat menjaga hubungan dengan alam yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Beberapa desa adat di atas bisa memberikan pengalaman budaya yang berbeda di setiap tempat. Jika ingin menikmati wisata budaya Indonesia dengan cara yang lebih dekat dan bermakna, beberapa tempat di atas bisa menjadi pilihan perjalanan berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article