Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Aktivitas Seru saat Tsukimi, Tradisi Melihat Bulan ala Jepang

5 Aktivitas Seru saat Tsukimi, Tradisi Melihat Bulan ala Jepang
tradisi tsukimi di Jepang (instagram.com/moonartnight_shimokitazawa)
Share Article

Apa yang kamu pikirkan untuk menikmati musim gugur di Jepang? Suhu udara lebih sejuk dibanding musim panas, dedaunan yang berubah warna menjadi kuning hingga kemerahan, dan merayakan berbagai festival serta tradisi. Salah satu tradisi musim gugur adalah tsukimi, yang berarti melihat bulan.

Tsukimi merupakan bentuk rasa syukur atas panen yang melimpah dan harapan untuk mendapatkan hasil yang baik pada tahun berikutnya. Sebenarnya, tradisi ini berasal dari China, kemudian menyebar ke Jepang pada Zaman Heian. Pada masa tersebut, para bangsawan berkumpul untuk mendengarkan musik, menggubah dan membaca puisi, sambil menikmati keindahan bulan.

Tradisi ini biasanya dilakukan pada hari ke-15 bulan ke-8 yang disebut chushu no meigetsu (bulan pertengahan musim gugur) dan hari ke-13 bulan ke-9 dalam kalender Jepang. Sedangkan dalam kalender internasional jatuh pada September dan Oktober. Nah, buat kamu yang penasaran, berikut ini beberapa aktivitas seru saat tsukimi di Jepang.

  1. 1. Membuat dekorasi dango dan rumput susuki

    dekorasi tsukimi dango, kastanye, dan susuki
    dekorasi tsukimi dango, kastanye, dan susuki (commons.wikimedia.org/katorisi)

    Salah satu aktivitas paling khas saat tsukimi adalah membuat tsukimi dango, kue beras bulat berwarna putih yang biasanya disusun menyerupai piramida kecil berjumlah 15 buah. Susunan ini melambangkan bulan purnama dan menjadi elemen wajib di rumah maupun kuil yang merayakan. Kamu bisa menjumpai dango musiman ini di toko kue tradisional Jepang menjelang pertengahan September.

    Selain itu, ada susuki atau rumput ilalang perak sejenis pampas yang dipajang berdampingan dengan kue dango sebagai simbol pengganti padi. Tanaman ini dipercaya bisa mengusir roh jahat sekaligus mendatangkan hasil panen yang melimpah di tahun berikutnya. Kombinasi keduanya bukan sekadar dekorasi, tetapi juga bentuk syukur atas hasil panen musim gugur.

  2. 2. Berburu kuliner musiman edisi tsukimi

    ilustrasi tsukimi udon
    ilustrasi tsukimi udon (commons.wikimedia.org/ノボホショコロトソ)

    Negara empat musim umumnya punya kuliner musiman yang beragam, termasuk Jepang. Ketika menjelang tsukimi, banyak tempat makan yang menyediakan menu musiman bertema bulan. Cocok buat kamu yang sedang liburan musim gugur dan ingin merasakan euforia tsukimi.

    Sejumlah gerai makanan cepat saji seperti McDonald’s dan KFC Jepang menawarkan burger dengan telur mata sapi bulat yang merepresentasikan bulan purnama. Selain itu, tersedia Totori Tsukimi Twister dan Mochi and Rich Custard Tsukimi Pie sebagai dessert. Sedangkan untuk makanan khas Jepang, kerap kali ada tsukimi soba dan tsukimi udon yang disajikan dengan kuning telur di atasnya.

  3. 3. Menikmati sake atau teh sambil melihat bulan

    Kangetsu no Yube
    Kangetsu no Yube (instagram.com/daikakuji_official)

    Kamu ingin menikmati tsukimi ala bangsawan Heian, tetapi dengan versi modern? Sejumlah tempat seperti kuil, taman, dan hotel menawarkan pengalaman bersantai, minum sake atau teh sambil melihat bulan. Tradisi ini disebut kangetsu, yaitu momen mengagumi keindahan bulan tanpa terburu-buru.

    Salah satu tempat yang terkenal adalah Kuil Daikakuji, Kyoto melalui acara Kangetsu no Yube. Kamu bisa naik perahu menyusuri Kolam Osawa sambil melihat pantulan bulan di air. Semakin menarik dengan tepi kolam yang biasanya dihiasi lentera dan diiringi musik tradisional selama acara berlangsung.

    Jika tidak ingin jauh-jauh ke taman atau kuil, beberapa hotel dan rooftop bar di kota besar dapat menjadi alternatif tempat untuk dikunjungi. Mereka biasanya menawarkan menu spesial tsukimi lengkap dengan pemandangan langit malam. Aktivitas ini menjadi versi modern dari kangetsu yang lebih santai untuk wisatawan.

  4. 4. Ikut memeriahkan festival seni instalasi bertema bulan

    Moon Art Night Shimokitazawa, Tokyo
    Moon Art Night Shimokitazawa, Tokyo (instagram.com/moonartnight_shimokitazawa)

    Acara bernuansa modern lainnya untuk merayakan tsukimi adalah mengunjungi festival seni instalasi bertema bulan. Moon Art Night Shimokitazawa di Tokyo menjadi salah satu yang paling terkenal dan rutin digelar setiap tahunnya, biasanya mulai pertengahan September hingga awal Oktober. Selama festival berlangsung, kawasan Shimokitazawa akan menjadi galeri seni terbuka bertema bulan dengan instalasi utamanya Museum of the Moon karya Luke Jerram, instalasi berdiameter 7 meter dengan detail permukaan bulan yang menakjubkan.

    Festival tersebut juga sering menghadirkan pertunjukan teater imersif dan karya seniman internasional yang mengangkat tema luar angkasa serta bulan. Kamu bisa menikmati suasana malam sambil berburu menu kolaborasi spesial dari kafe dan restoran lokal. Aktivitas ini cocok buat kamu yang ingin merasakan sisi kontemporer dari tsukimi.

  5. 5. Piknik malam ala otsukimi

    ilustrasi orang melihat bulan purnama
    ilustrasi orang melihat bulan purnama (unsplash.com/Jack Dong)

    Kalau musim semi ada hanami, musim gugur bisa dinikmati dengan otsukimi yang lebih tenang dan syahdu. Orang Jepang kerap menggelar tikar di halaman rumah atau taman terdekat sambil melihat bulan purnama bersama keluarga maupun teman dekat. Aktivitas ini seperti memperlambat ritme hidup sejenak di tengah kesibukan sehari-hari.

    Otsukimi semakin lengkap dengan camilan musiman seperti dango, kastanye rebus, dan edamame. Sebagian keluarga juga menyalakan lentera kecil atau lilin sederhana untuk menambah suasana hangat. Semua dilakukan tanpa perlu persiapan mewah dan dapat menjadi cara paling autentik untuk merasakan vibe lokal tanpa harus mendatangi festival besar.

    Kelima aktivitas seru saat tsukimi tersebut memberikan nuansa musim gugur yang berbeda. Kuil, taman, hingga pusat kota akan ramai dengan festival dan kuliner bertema bulan. Di sisi lain, tetap bisa menyaksikan keindahan bulan pada malam nan syahdu dengan piknik yang lebih tenang.



This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More