- Selasa–Kamis dan Sabtu–Minggu: 08.00–15.30 WIB.
- Jumat: 08.00–14.00 WIB.
- Senin, cuti bersama, dan hari libur nasional tutup.
5 Museum Gratis di Yogyakarta untuk Liburan Hemat tapi Berkesan

Liburan bukan hanya untuk bersenang-senang. Kamu dapat menjadikannya lebih bermakna dengan melakukan aktivitas seru dan belajar hal baru. Ada banyak cara, salah satunya dengan mengunjungi museum.
Museum bisa menjadi tempat menyenangkan yang bukan sekadar menampilkan koleksi benda bersejarah, tapi juga menawarkan fasilitas lain untuk acara komunitas. Nah, bagi kamu ingin menikmati liburan di Yogyakarta, berikut ini beberapa museum yang dapat dikunjungi secara gratis. Bikin liburan lebih hemat!
1. Museum Kotagede: Intro Living Museum

Kotagede merupakan bekas ibu kota Kesultanan Mataram Islam yang pertama didirikan pada 1532. Wilayah ini menjadi saksi sejarah berkembangnya pusat pemerintahan menjadi pusat budaya. Sejumlah bangunan bersejarah masih dipertahankan hingga saat ini, termasuk rumah pribadi Ibu Hadi Noerijah, seorang perempuan Kalang, yang kini menjadi Museum Kotagede.
Perlu diketahui bahwa orang Kalang merupakan kelompok etnis Jawa yang terkenal sebagai ahli dalam seni bangunan dan ukir. Mereka juga pandai berbisnis, sehingga turut berperan dalam kejayaan Kotagede. Orang Kalang berbaur dengan masyarakat setempat, meski pada akhirnya banyak yang meninggalkan kawasan tersebut saat masa perang kemerdekaan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Dokumentasi sejarah selengkapnya dapat dilihat di Museum Kotagede Yogyakarta, yang mengusung konsep museum hidup. Masyarakat terlibat secara aktif dalam melestarikan dan memanfaatkan warisan budaya mereka. Selain itu, pengunjung akan diajak untuk merasakan suasana kehidupan di Kotagede pada masa lampau.
Museum ini menyuguhkan empat klaster utama. Klaster Situs Arkeologi dan Lanskap Sejarah menyajikan dokumentasi dan koleksi yang menunjukkan perjalanan Kotagede sebagai pusat peradaban masa lalu. Klaster Kemahiran Teknologi Tradisional menggambarkan keahlian masyarakat setempat, seperti keterampilan kriya perak yang tersohor hingga mancanegara.
Masih ada lagi, Klaster Seni Pertunjukan, Sastra, Adat Tradisi, dan Kehidupan Kesehatian, serta Klaster Pergerakan Sosial Kemasyarakatan. Kedua klaster ini menunjukkan budaya masyarakat setempat, seperti seni tradisional hingga kulinernya. Tidak hanya itu, peran mereka dalam sejarah nasional pun ada di sini.
Jam operasional:
Lokasi: Jalan Tegal Gendu Nomor 20, Prenggan, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta.
2. Museum Diponegoro

Pangeran Diponegoro merupakan pahlawan nasional yang lahir di Yogyakarta. Putra sulung Hamengkubuwono III ini terkenal sebagai pemimpin Perang Jawa (1825–1820) melawan kolonial Belanda. Untuk mengenang jasa dan perjuangannya, maka didirikanlah Museum Diponegoro yang diresmikan pada 1969.
Gedung Museum Diponegoro menempati bekas kediaman beliau. Sesuai dengan namanya, museum ini khusus menyuguhkan koleksi peninggalan Pangeran Diponegoro. Beberapa di antaranya adalah keris dengan lekukan 21 dari Kerajaan Majapahit dan pedang dari Kerajaan Demak.
Di antara benda bersejarah yang dipamerkan, terdapat spot menarik yang disebut sebagai tembok jebol. Konon, dinding tersebut sengaja dilubangi oleh Pangeran Diponegoro saat terdesak oleh pasukan Belanda. Kemudian digunakan bersama keluarga dan para pengikutnya untuk meloloskan diri.
Jam operasional: Senin–Jumat pukul 09.00–15.00 WIB.
Lokasi: Jalan H.O.S. Cokroaminoto TR III/430, Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta.
3. Museum Sandi

Buat kamu yang ingin jalan-jalan di dekat pusat kota, bisa mampir ke Museum Sandi. Museum kriptografi ini dibagi menjadi sembilan ruang berbeda yang menyuguhkan sejarah persandian di dunia, terutama Indonesia. Terdapat enam ruangan di lantai 1 dan tiga ruangan di lantai 2.
Pengunjung akan diajak menonton video yang merangkum perkembangan kriptografi hingga penggunaan sandi sebagai pesan rahasia pada masa perang kemerdekaan Indonesia. Video tersebut dilengkapi takarir bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selanjutnya, pengunjung akan diajak melihat satu per satu koleksi museum yang menunjukkan lini masa kriptografi dari masa Mesir Kuno hingga Romawi Kuno.
Koleksi lainnya berupa diorama, patung ilustrasi, buku, hingga mesin sandi yang digunakan pada masa Agresi Militer Belanda II. Kunjungan ke museum terasa lebih menarik, ketika edukator juga mengajak pengunjung belajar cara membaca sandi sederhana. Terdapat pula Ruang Edukasi yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk membaca sejumlah buku terkait persandian dan kegiatan di Museum Sandi.
Jam operasional:
- Selasa–Kamis: 09.00–18.00 WIB.
- Jumat: 09.00–21.00 WIB.
- Sabtu–Minggu: 09.00–15.00 WIB.
- Minggu dan hari libur nasional tutup.
Lokasi: Jalan Faridan M Noto Nomor 21, Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
4. Museum TNI AD Dharma Wiratama

Masih di kecamatan yang sama, Museum Dharma Wiratama saat ini menempati gedung bekas Korem 072. Keberadaannya secara khusus menyimpan dokumentasi dan koleksi tentang bakti prajurit TNI Angkatan Darat pada masa lampau hingga saat ini. Museum satu lantai ini dibagi menjadi 16 ruang berbeda, termasuk Bunker yang berada di luar gedung.
Setelah melewati pintu masuk, terdapat Ruang Pengantar yang menyajikan denah museum dan Pejabat Kepala Staf TNI angkatan Darat (Kasad) dari masa ke masa. Kemudian terdapat Ruang Jenderal Sudirman dan Ruang Letjen Urip Sumoharjo yang mendeskripsikan sejarah serta peran kedua pahlawan tersebut dalam kemerdekaan Indonesia.
Jika menyusuri lebih lanjut, maka akan terdapat Ruang Palagan, Ruang Senjata Modal Perjuangan Kemerdekaan, dan Ruang Dapur Umum. Tidak ketinggalan koleksi peralatan pendukung pada masa perang yang dapat dijumpai di Ruang Alat Kesehatan dan Alat Komunikasi. Koleksi senjata dan hingga tanda pangkat TNI AD tersusun rapi di Ruang Perang Kemerdekaan, Ruang Panji-Panji, Ruang Gamad, dan Ruang Alpal.
Penjelasan yang lebih lengkap berupa deskripsi dan ilustrasi dapat dilihat di Ruang Peristiwa, Ruang Pahlawan Revolusi, dan Ruang Penumpasan G30S PKI. Setelah perang kemerdekaan, TNI AD tetap berperan untuk pertahanan negara maupun internasional yang dapat dilihat di Ruang TNI Masa Kini. Kalau sudah keluar dari gedung museum, perhatikan sebuah Bunker yang juga menyimpan sejumlah potret lawas pada masa perjuangan kemerdekaan.
Jam operasional: Selasa–Minggu, pukul 08.00–14.00 WIB.
Lokasi: Jalan Jend. Sudirman Nomor 75, Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
5. Museum Dewantara Kirti Griya

Satu lagi museum yang dapat kamu kunjungi secara gratis di Yogyakarta, yaitu Museum Dewantara Kirti Griya. Sesuai dengan tebakanmu, museum ini menyuguhkan koleksi peninggalan Ki Hadjar Dewantara. Bangunan museum itu menempati bekas kompleks perguruan Taman Siswa sekaligus tempat tinggal sang Bapak Pendidikan Indonesia.
Museum Dewantara Kirti Griya diresmikan pada 1970 oleh Nyi Hadjar Dewantara. Kini, menyimpan lebih dari 3.000 koleksi peninggalan Ki Hadjar Dewantara semasa hidupnya. Koleksi tersebut berupa naskah, foto, koran, buku, surat-surat, hingga perabot rumah tangga.
Jam operasional:
- Senin–Kamis: 08.00–13.30 WIB.
- Jumat: 08.00–11.00 WIB.
- Sabtu: 08.00–13.00 WIB.
- Minggu dan hari libur nasional tutup.
Lokasi: Jalan Taman Siswa Nomor 25, Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta.
Kelima museum tersebut bisa masuk itinerary buat kamu yang ingin liburan hemat bujet di Yogyakarta.Selain liburan, juga bisa memperluas pengetahuan dan belajar hal baru. Yuk, berkunjung ke museum!


















