Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kunjungan ke Santa Maddalena Dibatasi karena Overtourism

Kunjungan ke Santa Maddalena Dibatasi karena Overtourism
Santa Maddalena, Italia (Wikimedia Commons/Böhringer Friedrich)
Intinya Sih
  • Pemerintah distrik Funes akan membatasi kunjungan ke Santa Maddalena mulai Mei 2026 untuk mengendalikan overtourism dan melindungi lingkungan desa yang menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.
  • Kebijakan baru ini hanya mengizinkan wisatawan yang menginap minimal satu malam, sementara pengunjung harian wajib berjalan kaki dari area parkir khusus menuju gereja ikonik tersebut.
  • Langkah pembatasan ini merupakan bagian dari upaya mendorong konsep “pariwisata lambat”, agar wisatawan menikmati pengalaman lebih lama sekaligus mengurangi tekanan terhadap infrastruktur lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Siapa yang tidak tahu Santa Maddalena? Sebuah gereja desa kecil di Italia Utara yang dikelilingi oleh puncak-puncak terjal Pegunungan Dolomit tersebut telah populer selama lebih dari satu dekade, lho. Namun, penduduk setempat mengatakan bahwa sejak musim panas lalu, arus pengunjung yang semula stabil berubah menjadi padat.

Karena lonjakan pengunjung yang sangat drastis ke Santa Maddalena, pihak berwenang akhirnya turun tangan untuk memperlambat arus dengan memperkenalkan kebijakan baru. Langkah ini diambil guna membatasi pariwisata sehari sekaligus menjaga lingkungan desa tersebut.

Table of Content

1. Kunjungan ke Santa Maddalena akan dibatasi mulai Mei 2026

1. Kunjungan ke Santa Maddalena akan dibatasi mulai Mei 2026

Mulai Mei 2026, akses ke desa di dekat gereja Santa Maddalena yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO ini akan dibatasi. Pemerintah kota setempat hanya akan mengizinkan masuk bagi penduduk atau pengunjung yang menginap setidaknya satu malam di daerah tersebut. Sementara mobil dan bus yang membawa wisatawan harian tidak akan diizinkan masuk.

Bahkan, jika ada pengunjung yang akan melakukan one day trip ke Santa Maddalena yang sempat disambangi lebih dari 600 orang selama musim puncak, mereka diharuskan untuk berjalan kaki selama 30 menit atau lebih dari area parkir yang telah ditentukan untuk mencapai gereja. Namun, saat ini pemerintah kota belum memutuskan apakah layanan antar-jemput akan diperkenalkan untuk wisatawan yang memiliki masalah kesehatan.

Setelah tempat parkir desa mencapai kapasitas penuh, pengemudi akan diminta untuk memakir kendaraan mereka lebih jauh lagi oleh Peter Pernthaler, wali kota distrik Funes, di sekitarnya. Selain itu, sistem masuk yang disaring akan mulai beroperasi dari Mei hingga November 2026. Saat ini biaya parkir memang hanya dipatok 4 euro per hari, tetapi Peter Pernthaler mengatakan kepada CNN Travel harga akan naik guna mencegah pengunjung yang datang hanya untuk mengambil foto cepat.

2. Popularitas Santa Maddalena bertahan hingga lebih dari 1 dekade

Santa Maddalena
Santa Maddalena (Wikimedia Commons/Einaz80)

Kebangkitan Santa Maddalena sebagai pusat perhatian di media sosial telah berlangsung selama bertahun-tahun. Gereja ini mendapatkan daya tarik awal di kalangan wisatawan China setelah pemandangan alam yang menakjubkan tersebut muncul di kartu SIM yang dikeluarkan oleh operator telepon seluler negara tersebut lebih dari satu dekade lalu.

Selain itu, Gunung Seceda di dekat Santa Maddalena kemudian ditampilkan sebagai screensaver dalam pembaruan iOS 7 Apple pada 2013. Efeknya adalah kembali terjadinya lonjakan pengunjung dari seluruh dunia yang ingin melihat gambar tersebut secara langsung, dengan jumlah wisatawan harian yang dilaporkan mencapai 8.000 pada jam-jam puncak saat itu.

Kedua lokasi tersebut sejak saat itu menjadi populer di TikTok maupun Instagram, menarik apa yang oleh penduduk setempat disebut sebagai "turis yang datang dan pergi." Pengunjung yang mendokumentasikan pemandangan sebelum segera pergi, memberikan sedikit kontribusi pada ekonomi lokal, tetapi juga memberikan "tekanan" terhadap infrastruktur setempat.

Seperti yang kembali terjadi dan lebih padat baru-baru ini di Santa Maddalena. Menurut anggota dewan setempat, Roswitha Moret Niederwolfsgruber, pengunjung yang hanya datang untuk mampir sebentar atau seharian telah memadati jalan-jalan sempit. Karena itu, wisatawan yang memilih untuk bermalam di daerah tersebut atau tinggal lebih lama pada akhirnya enggan datang.

3. Pembatasan guna menarik wisatawan agar menetap lebih lama

Upaya untuk mengekang pariwisata massal bukanlah hal baru di daerah ini. Musim panas lalu, Georg Rabanser, mantan pemain snowboard tim nasional Italia, yang memiliki lahan padang rumput di dekat Seceda, memasang pintu putar untuk memungut biaya dari pengunjung yang melintasi tanahnya untuk memotret pemandangan gereja San Giovanni di Ranui di seberang lembah. Langkah itu, seperti yang kemudian ia ceritakan kepada CNN Travel, justru menarik lebih banyak wisatawan.

Peter Pernthaler, wali kota distrik Funes, sendiri juga menghadapi reaksi negatif atas pembatasan kunjungan ke Santa Maddalena. Namun, ia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin dikenang sebagai "wali kota yang mengusir wisatawan." Sebaliknya, Peter Pernthaler menggambarkan langkah-langkah tersebut sebagai bagian dari dorongan "pariwisata lambat" yang lebih luas, yang mendorong pengunjung untuk mengganti kegiatan wisata yang hiruk pikuk dengan kunjungan yang lebih mendalam dan lebih lama.

Tentunya, penegakan kebijakan baru berupa pembatasan ini akan membutuhkan lebih banyak biaya, termasuk untuk patroli tambahan, tetapi Peter Pernthaler berpendapat bahwa itu adalah investasi yang diperlukan. Ia menilai bahwa sudah saatnya terdapat aturan preventif guna menertibkan, baik bagi penuduk yang tinggal di sini maupun bagi pengunjung yang ingin datang, mengambil foto Santa Maddalena, kemudian pergi begitu saja.

Apa yang mungkin tampak sebagai kebijakan ekstrem juga bisa terbukti sebagai tindakan pencegahan. Banyak penduduk setempat khawatir bahwa Olimpiade Musim Dingin mendatang di Cortina, yang akan dimulai dalam waktu dekat di sisi berlawanan dari Dolomites, akan memperparah tekanan yang sudah ada. Sebuah studi oleh lembaga think tank The European House Ambrosetti memperkirakan olimpiade tersebut dapat menarik 9 juta pengunjung tambahan antara tahun 2027—2030.

Wilayah yang diperkirakan akan paling diuntungkan dan merasakan dampaknya meliputi Milan, Belluno, Bolzano, Sondrio, dan Trento, daerah yang sudah bergulat dengan kejenuhan wisatawan. Bagi komunitas seperti Villnöss, masuknya penguntungi saat ini mungkin hanyalah ketenangan sementara sebelum badai yang jauh lebih besar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
Eddy Rusmanto
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Travel

See More