Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

10 Destinasi Wisata Dunia yang Rusak Akibat Komersialisasi

10 Destinasi Wisata Dunia yang Rusak Akibat Komersialisasi
ilustrasi Gunung Everest (unsplash.com/Jean Woloszczyk)

Sejumlah destinasi wisata dunia yang dahulu dikenal akan keindahan alam dan kekayaan budayanya kini menghadapi tantangan serius akibat lonjakan pariwisata. Alih-alih meningkatkan kualitas pengalaman, komersialisasi yang masif justru dinilai menggerus keaslian dan pesona tempat-tempat tersebut.

Fenomena overtourism membuat sebagian lokasi kehilangan daya tariknya karena padatnya pengunjung, pembangunan berlebihan, hingga perubahan fungsi ruang yang tidak terkendali. Berdasarkan Love Exploring (26/2/2026), sejumlah destinasi dunia dinilai mengalami kerusakan akibat pariwisata berlebihan dan komersialisasi masif. Berikut di antaranya.

1. Gunung Everest, Nepal

Pendakian di Gunung Everest kini berkembang menjadi industri bernilai besar. Setiap tahun, sekitar 700–1.000 orang mencoba mencapai puncak gunung tertinggi di dunia ini. Pada 2025 saja, tercatat 846 pendaki berhasil menjejakkan kaki di puncak.

Lonjakan ini menimbulkan persoalan serius, mulai dari tumpukan sampah, limbah manusia, hingga jasad pendaki yang belum dievakuasi. Aktivitas pendakian masif juga mempercepat degradasi jalur dan lingkungan sekitar.

2. Great Barrier Reef, Australia

Potret Great Barrier Reef, Australia
Potret Great Barrier Reef, Australia (unsplash.com/Manny Moreno)

Terumbu karang terbesar di dunia ini membentang sepanjang 2.301 kilometer di lepas pantai Queensland. Setiap tahun, sekitar dua juta wisatawan datang untuk menyelam dan snorkeling.

Sayangnya, tekanan wisata dan lalu lintas kapal turut memperparah kerusakan ekosistem karang yang rapuh. Aktivitas tak bertanggung jawab mempercepat pemutihan karang serta mengurangi kualitas pengalaman bawah laut.

3. Tembok Besar China, China

Sebagai ikon sejarah dunia, Tembok Besar China menarik lebih dari 10 juta pengunjung setiap tahun. Namun, tekanan wisata membawa konsekuensi berupa pencurian batu bata, grafiti, dan kerusakan fisik lain.

Beberapa bagian populer seperti Badaling bahkan membatasi kunjungan hingga 65 ribu orang per hari demi menekan dampak kerusakan. Wah, sayang sekali, ya!

4. Kepulauan Galapagos, Ekuador

Potret Kepulauan Galapagos
Potret Kepulauan Galapagos (unsplash.com/James Gildart)

Kepulauan yang dulu terpencil ini kini menerima sekitar 300 ribu wisatawan per tahun. Pertumbuhan industri wisata turut mendorong peningkatan populasi penduduk lokal, terutama di Puerto Ayora.

Lonjakan ini memicu kekhawatiran terhadap kelestarian ekosistem unik Galapagos. Bahkan, kawasan ini sempat masuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO yang terancam pada 2007.

5. Stonehenge, Inggris

Situs prasejarah legendaris ini kini dipagari untuk melindungi strukturnya dari kerusakan akibat lonjakan pengunjung. Suasana yang dulunya mistis kini kerap terasa padat oleh rombongan tur dan kebisingan lalu lintas.

Saat perayaan titik balik matahari musim panas, ribuan orang memadati area, membuat pengalaman terasa jauh dari kesan intim. Suasananya tak sama lagi seperti Stonehenge yang dulu.

6. Petra, Yordania

Potret Petra, Yordania
Potret Petra, Yordania (unsplash.com/Ahmad Qaisieh)

Kota batu berwarna merah muda ini menjadi ikon wisata Yordania. Namun, struktur batu pasirnya yang rapuh menghadapi ancaman dari aktivitas wisatawan, termasuk yang menaiki hewan ke tangga menuju biara hingga memanjat dinding kuno. Popularitas yang tinggi menimbulkan tekanan serius terhadap kelestarian situs bersejarah ini.

7. Gua Lascaux, Prancis

Gua yang menyimpan sekitar 600 lukisan prasejarah ini dibuka untuk umum pada 1948. Namun, ribuan pengunjung mengubah suhu dan kelembapan di dalamnya, memicu pertumbuhan alga serta kristal yang merusak lukisan. Demi melindungi karya seni purba tersebut, Gua Lascaux akhirnya ditutup permanen hingga saat ini.

8. Piramida Giza, Mesir

Potret Piramida Giza
Potret Piramida Giza (pexels.com/David McEachan)

Sebagai satu-satunya dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno yang masih berdiri, Piramida Giza tetap menjadi magnet wisata global. Namun, sejumlah pengunjung mengeluhkan pedagang agresif dan pembangunan tak teratur di sekitarnya. Keberadaan gerai makanan cepat saji dan pembangunan apartemen dinilai mengurangi keaslian lanskap bersejarah tersebut.

9. Pulau Paskah, Chili

Pulau Rapa Nui terkenal dengan patung Moai yang ikonik. Lonjakan penerbangan dan kapal pesiar membuat arus kunjungan meningkat signifikan. Masyarakat lokal mengkhawatirkan dampak pariwisata terhadap lingkungan, serta warisan budaya mereka yang rapuh.

10. Antartika

Potret Antartika
Potret Antartika (pexels.com/Gu Bra)

Pada musim wisata Oktober 2023 hingga Maret 2024, tercatat ada lebih dari 100 ribu pengunjung ke Antartika. Beberapa kapal pesiar bahkan mengangkut lebih dari 400 penumpang dalam satu perjalanan.

Emisi karbon, aktivitas kapal, dan potensi gangguan terhadap satwa liar memicu kekhawatiran serius. Banyak pihak mendesak regulasi yang lebih ketat, agar kawasan paling murni di bumi ini tetap terjaga.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa popularitas bukan selalu berkah. Tanpa pengelolaan yang bijak, komersialisasi dapat menggerus nilai alam, sejarah, dan budaya yang seharusnya dijaga dengan baik.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dewi Suci Rahayu
EditorDewi Suci Rahayu
Follow Us

Latest in Travel

See More

Jadwal Festival Musim Semi di Korea Selatan 2026 untuk Liburanmu

04 Mar 2026, 20:02 WIBTravel