Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bikin Betah, Ini 6 Alasan Kenapa Kota di Eropa Ramah bagi Pejalan Kaki

Bikin Betah, Ini 6 Alasan Kenapa Kota di Eropa Ramah bagi Pejalan Kaki
ilustrasi berjalan kaki di tengah kota (pexels.com/Kaique Rocha)
Share Article

Bagi banyak wisatawan, menjelajahi kota-kota Eropa terasa seperti pengalaman yang sangat menyenangkan, mulai dari jalanan yang lebar untuk berjalan kaki, trotoar yang rapi, pusat kota yang bebas kendaraan, serta jaringan transportasi umum yang memudahkan mobilitas tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.

Fenomena ini bukanlah kebetulan, kecenderungan kota-kota Eropa menjadi ramah bagi pejalan kaki adalah hasil dari sejarah panjang, kebijakan tata kota yang matang, serta kesadaran yang tinggi tentang kualitas hidup masyarakatnya. Artikel ini menjelaskan secara lengkap tentang enam alasan utama yang membuat kota-kota di Eropa menjadi sangat ramah bagi pejalan kaki. Yuk, simak!

1. Struktur kota yang sudah lama terbentuk

ilustrasi kota Wina
ilustrasi kota Wina (pixabay.com/tookapic)

Banyak kota-kota di Eropa yang sudah berdiri selama berabad-abad sebelum mobil ditemukan, sehingga tata kotanya dibangun berdasarkan kebutuhan manusia untuk berjalan kaki, bukan untuk kendaraan seperti mobil dan motor. Jalan-jalan sempit, jaringan gang, dan alun-alun yang saling terhubung mampu menciptakan ruang yang sangat nyaman bagi para pedestrian. Pola ini terbentuk di masa ketika fungsi perdagangan, pemukiman, dan aktivitas sosial terpusat dalam jarak yang dekat, yang membuat masyarakat tak perlu menggunakan moda transportasi lain dalam kesehariannya.

Ketika kendaraan mulai muncul, struktur kota lama yang rapat dan penuh warisan budaya tidak memungkinkan untuk ekspansi jalan besar-besaran. Karena itu, banyak kota yang mempertahankan pola lama dan mengembangkannya menjadi kawasan pedestrian yang modern. Hasilnya adalah kombinasi yang unik antara arsitektur yang historis dan pengalaman berjalan kaki yang menyenangkan.

2. Kawasan bersejarah yang dilindungi dan dijadikan zona pejalan kaki

ilustrasi Saint Stephens Basilica
ilustrasi Saint Stephens Basilica (pexels.com/Han)

Kota-kota di Eropa sangat menjaga pusat kota bersejarah mereka. Untuk melindungi bangunan-bangunan tua, alun-alun kuno, dan jalan-jalan tradisional yang menjadi identitas utama kota, pemerintah menetapkan berbagai zona yang membatasi atau bahkan melarang mobil masuk. Kebijakan ini bukan hanya mengenai konservasi, tetapi juga bertujuan menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik.

Dengan mengurangi kendaraan di pusat kota, kebisingan menjadi turun drastis, kualitas udara meningkat, dan ruang publik menjadi lebih aman serta nyaman untuk berjalan kaki. Di kota-kota besar seperti Berlin, Florence, Praha, dan Krakow hampir seluruh pusat kota berfungsi sebagai zona pedestrian. Banyak restoran lokal, toko lokal, seniman jalanan, hingga pasar tradisional yang tumbuh subur karena pejalan kaki lebih mudah singgah dan berinteraksi.

3. Desain kota yang berbasis skala manusia

ilustrasi berjalan kaki di atas trotoar
ilustrasi berjalan kaki di atas trotoar (pixabay.com/Alexas_Fotos)

Salah satu alasan paling mendasar mengapa Eropa ramah bagi pejalan kaki adalah penerapan prinsip "human scale". Ini adalah pendekatan desain yang mempertimbangkan ukuran, kenyamanan, dan ritme gerak manusia seperti trotoar yang dirancang lebar, permukaan jalan yang halus dan rata, persimpangan yang dibuat sederhana, dan ruang-ruang publik dipenuhi elemen yang mendukung aktivitas berjalan kaki seperti bangku, pepohonan, dan lampu jalan.

Pendekatan ini menciptakan rasa aman, nyaman, dan efisien bagi para pejalan kaki. Bahkan di kota-kota modern yang telah berkembang pesat seperti Copenhagen atau Rotterdam, prinsip ini digunakan untuk merancang ulang kawasan perkotaan agar tetap berorientasi pada kebutuhan manusia, bukan kendaraan. Dengan demikian, para pejalan kaki akan merasa lebih nyaman dan aman.

4. Kebijakan pembatasan kendaraan pribadi

ilustrasi pejalan kaki
ilustrasi pejalan kaki (pixabay.com/Pexels)

Eropa menerapkan berbagai kebijakan yang membuat mobil pribadi bukan lagi pilihan paling efisien. Pajak tinggi untuk kepemilikan mobil, tarif parkir mahal di pusat kota, regulasi zona rendah emisi, hingga pembatasan kecepatan 30 km/jam di kawasan permukiman. Semua aturan tersebut mendorong masyarakat untuk mau berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Kota-kota besar di Eropa juga secara aktif mengurangi lahan parkir dan mengalihfungsikannya menjadi trotoar yang lebih lebar atau ruang publik baru. Langkah-langkah ini tidak hanya mengurangi polusi dan kemacetan, tetapi juga secara langsung memperbesar ruang yang tersedia bagi pejalan kaki. Ketika mobil tidak lagi mendominasi ruang kota, suasana kota akan berubah menjadi lebih nyaman, teduh, tenang, dan aman.

5. Jaringan transportasi umum yang terintegrasi

ilustrasi menunggu kereta
ilustrasi menunggu kereta (pexels.com/Burst)

Kota-kota di Eropa dikenal memiliki jaringan transportasi umum yang kuat, teratur, dan terintegrasi antara metro, tram, bus, hingga kereta. Sistem ini memungkinkan warga dan wisatawan mencapai jarak yang jauh dengan mudah tanpa harus memiliki kendaraan pribadi. Karena transportasi umum menangani perjalanan untuk jarak menengah hingga jauh, sehingga mobilitas jarak pendek dapat dilakukan hanya dengan berjalan kaki.

Transportasi umum yang terintegrasi ini juga secara tidak langsung mendorong pola hidup tanpa kendaraan pribadi. Ketika mobil bukan menjadi kebutuhan utama dalam beraktivitas, maka jalanan kota menjadi ruang prioritas bagi para pejalan kaki. Kehadiran transportasi umum yang efisien juga membuat kota tetap inklusif bagi semua kelompok usia, mulai dari pelajar hingga lansia.

6. Budaya masyarakat yang mendukung aktivitas berjalan kaki

ilustrasi pusat kota
ilustrasi pusat kota (pixabay.com/SLPix)

Selain aspek fisik dan kebijakan, budaya masyarakat Eropa turut memperkuat identitas kota yang ramah bagi para pejalan kaki. Berjalan kaki bukan hanya cara berpindah tempat, tetapi bagian dari gaya hidup, hal ini terjadi karena orang-orang di Eropa terbiasa pergi ke pasar, toko roti, kafe, atau taman hanya dengan berjalan kaki. Tradisi ruang publik yang aktif seperti alun-alun dan pasar minggu juga membuat masyarakat terbiasa untuk memadati ruang publik.

Budaya ini diwariskan turun-temurun dan menjadikan ruang jalan sebagai tempat interaksi sosial, bukan sekadar jalur transportasi. Semakin banyak orang berjalan, semakin aman dan hidup ruang publik tersebut. Kota pun menyesuaikan diri dengan menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung untuk berjalan kaki.

Kota-kota di Eropa menjadi ramah bagi para pejalan kaki karena kombinasi antara sejarah yang panjang, kebijakan modern, dan budaya masyarakat yang mendukung untuk aktivitas berjalan kaki. Dari sini, kita bisa belajar bahwa menciptakan kota yang ramah bagi para pejalan kaki bukan hanya soal desain fisik, tetapi juga tentang membentuk cara hidup yang lebih sehat, aman, dan nyaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum

Related Articles

See More

Bertualang di Kawasan Sejarah Pecinan Glodok, Harta Karun Peradaban

26 Jun 2026, 20:30 WIBTravel