- Jika sebelumnya pendaki hanya membutuhkan pengalaman mendaki puncak setinggi 6.000 mdpl, kini pendaki harus setidaknya memiliki pengalaman mendaki satu gunung dengan ketinggian minimal 7.000 mdpl sebelum mendaki Gunung Everest.
- Pendakian solo sejak 2017 memang sudah dilarang, tetapi pada tahun-tahun sebelumnya, aturan ini belum ditegakkan secara ketat. Dengan kebijakan baru, pendaki yang melakukan solo hiking tanpa dukungan akan mendapatkan sanksi serius.
- Pemandu dari negara asing dilarang memimpin ekspedisi ke Everest. Sebagai gantinya, pendakian harus menggunakan jasa pemandu bersertifikat dari Nepal, di mana satu pemandu hanya boleh membantu maksimal dua pendaki.
- Setiap pendaki wajib melampirkan surat keterangan sehat untuk mengurangi risiko terjadinya keadaan darurat selama pendakian berlangsung.
- Pendaki wajib menyerahkan rencana pendakian secara detail dan dokumen pendukung lainnya ke Departemen Pariwisata Nepal.
- Mulai 1 September 2025, pemerintah Nepal menaikkan biaya izin pendakian Everest sebesar 36 persen. Untuk pendakian musim semi, biaya izinnya mencapai USD 15.000 per orang, sedangkan untuk pendakian musim gugur, biayanya USD 7.500, dan USD 3.750 untuk pendakian musim dingin dan hujan. Biaya tersebut hanya mencakup biaya untuk perizinan, sedangkan biaya keseluruhan pendakian biasanya berkisar antara USD 52.000 hingga USD 58.000 per orang. Biaya ini sudah termasuk izin, pemandu, oksigen, makanan, dan logistik.
Syarat Pendakian Gunung Everest Bakal Diperketat, Kenapa?

- Everest setinggi 8.849 mdpl memiliki zona kematian di atas 8.000 mdpl, dengan oksigen hanya sepertiga kadar permukaan laut dan risiko hipoksia.
- Nepal mewajibkan pengalaman mendaki gunung minimal 7.000 mdpl, pemandu bersertifikat Nepal, surat sehat, rencana detail, serta menindak tegas pendakian solo tanpa dukungan.
- Aturan diperketat untuk merespons peningkatan pendaki, kepadatan, polusi, kemacetan jalur, dan krisis keselamatan; 17 pendaki meninggal saat pendakian pada 2023.
Bagi banyak pendaki berpengalaman, Gunung Everest merupakan mimpi yang ingin dicapai. Membayangkan mendaki atap tertinggi di dunia terdengar seperti pencapaian yang luar biasa. Namun, semakin tinggi sebuah gunung, pendakiannya semakin sulit untuk ditaklukkan. Sayangnya, hal itu juga berlaku bagi Gunung Everest.
Memiliki ketinggian 8.849 meter di atas permukaan laut (mdpl) membuat pendakian ke Gunung Everest bukan hanya sulit, tetapi juga berbahaya. Makanya gak heran kalau syarat pendakian ke sana juga cukup rumit. Gak sampai di sana, baru-baru ini Pemerintah Nepal bahkan berencana memperketat syarat pendakian ke Gunung Everest.
Table of Content
1. Pendakian ke Gunung Everest memiliki risiko yang sangat tinggi

ilustrasi beberapa pendaki sedang beristirahat di jalur pendakian (unsplash.com/Michael Clarke) Menempati posisi sebagai gunung tertinggi di dunia membuat pendakian ke puncak Everest menjadi sangat menggoda bagi banyak pendaki. Terutama pendaki berpengalaman yang sudah menaklukkan banyak puncak. Sayangnya, kebanggaan menggapai puncak Gunung Everest sebenarnya tidak sebanding dengan risikonya. Seperti yang disebutkan sebelumnya, pendakian Gunung Everest bukan hanya sangat sulit, tetapi juga sangat berbahaya.
Gunung Everest terkenal dengan death zone atau zona kematian. Dilansir Namas Adventure, death zone atau zona kematian adalah wilayah di atas ketinggian 8.000 mdpl dan merupakan salah satu area paling menantang sekaligus berbahaya di gunung ini. Di ketinggian 8.000 mdpl ke atas, oksigen sangat tipis, yakni hanya 1/3 dari kadar oksigen di permukaan laut. Akibatnya, bernapas pun akan terasa sulit, tubuh juga menjadi cepat lelah karena energi yang terkuras.
Dalam banyak kasus, oksigen yang tipis ditambah ketinggian ekstrem juga menyebabkan hipoksia. Hipoksia terjadi ketika jaringan atau organ tubuh kekurangan oksigen. Kondisi ini menyebabkan gejala berupa kebingungan, gelisah, kesulitan bernapas, detak jantung meningkat, hingga kulit berubah menjadi kebiruan.
2. Syarat pendakian Gunung Everest bakal diperketat

ilustrasi pendaki dan sherpa di jalur pendakian Gunung Everest (unsplash.com/Sebastian Pena Lambarri) Mengingat risikonya yang sangat besar, gak heran kalau gak semua orang bisa mendaki Gunung Everest. Pemerintah Nepal sendiri menetapkan banyak syarat bagi para pendaki. Baru-baru ini, pemerintah Nepal bahkan memperketat syarat pendakian. Dilansir Adventure Glacier, berikut beberapa perubahan yang dilakukan:
3. Mengapa syarat pendakian Gunung Everest diperketat?

ilustrasi dua pendaki di basecamp Gunung Everest (unsplash.com/Thomas de Fretes) Sekilas, apa yang dilakukan pemerintah Nepal seolah menyulitkan pendaki untuk menginjakkan kaki di Gunung Everest. Namun, syarat ini sebenarnya justru dibuat untuk melindungi para pendaki. Dilansir Access Nepal Tour, sejak pendakian pertama pada 1953 lalu, tercatat ada hampir 9.000 pendaki yang telah berhasil mendaki hingga ke puncak Everest. Pada 2025, pemerintah Nepal juga mengeluarkan lebih dari 400 izin untuk pendaki.
Meski jumlah pendaki yang ingin berkunjung semakin meningkat, situasi ini juga menimbulkan masalah baru, seperti kepadatan penduduk, polusi, kemacetan panjang di jalur pendakian, hingga krisis keselamatan. Salah satu kasus yang paling parah terjadi pada 2023 lalu, di mana ada 17 pendaki yang meninggal selama pendakian. Nah, untuk menjaga agar kejadian yang sama gak terulang lagi, pemerintah Nepal sengaja memperketat pendakian agar hanya pendaki yang benar-benar siap yang bisa menginjakkan kaki di Gunung Everest.
Pendakian Gunung Everest jelas bukan untuk mereka yang mau main-main. Salah sedikit, nyawa pendakilah yang akan menjadi taruhannya. Di lokasi, pengalaman saja gak cukup untuk membawa kamu sampai ke puncak. Selain pengalaman, persiapan yang matang dalam berbagai hal juga menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan.












![[QUIZ] Dari Lagu Westlife Favoritmu, Kami Tebak Wisata Impianmu](https://image.idntimes.com/post/20260512/upload_7f213d9e9f256a45bda825613221655c_863db9db-e088-4669-9f4d-9453fc526dc2.jpg)
![[QUIZ] Dari Jembatan Ikonik Ini, Bisakah Kamu Menebak Lokasinya?](https://image.idntimes.com/post/20250808/upload_be9085ca90fe53f2fe310eb3c053e9e3_ae49ba51-0e22-4651-bf7f-d99c04a8f3d3_watermarked_idntimes-1.jpg)
![[QUIZ] Menu Sarapan Favoritmu Bisa Ungkap Destinasi Liburan Favoritmu](https://image.idntimes.com/post/20250531/screenshot-2025-05-31-123005-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-7105a6567cacec7db641a7c1984dcabb.png)
![[QUIZ] Kota di Thailand Mana yang Paling Cocok untukmu?](https://image.idntimes.com/post/20250410/img-0139-159d3fc451d391961a73204b1b20b3cd-e3524e99e3e010091d016d2525cb74ef.jpeg)
![[QUIZ] Pilih Varian Cokelat Dubai Favoritmu, dan Kamu akan Liburan ke Sini!](https://image.idntimes.com/post/20260209/pexels-amine-1285347-13020806_f5462653-7b99-4543-8681-30846d55e54f.jpg)
![[QUIZ] Bisakah Kamu Menebak Nama Kota di Indonesia dari Julukannya?](https://image.idntimes.com/post/20260420/1000013159_09db39a5-f453-4d61-a231-3650cbfb851e.jpg)
![[QUIZ] Tipe Anak Pantai yang Seperti Apakah Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20260224/kutukan-putus-cinta-di-bali_6b97deb5-6363-40e3-9f2b-6a3d5cfe2790.jpg)



