Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fakta Unik Cut Meutia, Masjid Unik Tanpa Kubah di Jakarta Pusat
Pemandangan bagian luar dari depan Masjid Cut Meutia. (commons.wikimedia.org/NaidNdeso)

Menteng, Jakarta Pusat merupakan lokasi bagi banyak tempat penting dan memiliki akses transportasi umum yang memadai. Tersedia sejumlah stasiun kereta dan halte bus di sini, sehingga memudahkan mobilitas. Salah satu markah tanah yang terkenal adalah Masjid Cut Meutia, sebuah masjid dengan tampilan yang unik. Namanya terpampang jelas pada bangunannya, yang tampil mencolok berkat desain sederhana tanpa kubah.

Jika diamati lebih dekat, pada bangunan Masjid Cut Meutia terlihat tulisan "NV DE BOWPLO" yang berkaitan dengan sejarah awalnya. Tulisan lama ini memberikan petunjuk mengenai masa lalu serta kaitannya dengan era kolonial Belanda. Hal ini menjadi pengingat kecil namun nyata akan sejarah di balik masjid tersebut. Yuk, simak fakta unik tentang Masjid Cut Meutia berikut ini, guys!

1. Asal-usulnya dapat ditelusuri pada tahun 1912

Pemandangan ornamen di dalam Masjid Cut Meutia. (commons.wikimedia.org/NaidNdeso)

Pada tahun 1912, kawasan Nieuw Gondangdia sedang dikembangkan oleh sebuah perusahaan konstruksi bernama N.V. De Bouwploeg. Perusahaan tersebut memiliki kantor di sana, yang memunculkan tulisan "NV DE BOWPLO" yang dapat dilihat pada bangunan tersebut saat ini. Bahkan memainkan peran kunci dalam pengembangan Nieuw Gondangdia, yang dirancang sebagai kawasan hunian baru, tambah Jakarta Smart City. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi Menteng kontemporer.

"Nieuw Gondangdia" berarti "Gondangdia Baru", sedangkan "NV" pada NV De Bouwploeg merupakan singkatan dari Naamloze Vennootschap, istilah bahasa Belanda untuk perseroan terbatas publik. Seiring berjalannya waktu, bangunan ini mengemban peran sebagai kantor pos dan kemudian sebagai kantor Jawatan Kereta Api Belanda. Kisahnya kembali berubah pada tahun 1942 saat Jepang datang; digunakan oleh polisi militer AL Jepang yang dikenal sebagai Kempeitai.

2. Melayani berbagai keperluan administrasi Indonesia pascakemerdekaan

Pemandangan tempat imam yang berdampingan dengan makmum di dalam Masjid Cut Meutia. (commons.wikimedia.org/NaidNdeso)

Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, bangunan ini menjalankan berbagai peran baru dalam pelayanan publik. Awalnya menjadi lokasi bagi Kantor Wali Kota Jakarta Pusat dan PDAM, kemudian berfungsi sebagai kantor pos dan Dinas Perumahan Jakarta, sebut Islamic Heritage. Sejarahnya juga merambah ranah politik ketika bangunan menjadi kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Kala itu, MPRS dipimpin oleh AH Nasution.

Setelah kantor MPRS pindah ke Senayan, Nasution menyarankan agar bangunan lama dialihfungsikan. Ia mengusulkan agar diubah menjadi masjid yang dapat melayani masyarakat setempat. Kala itu, jumlah masjid bagi warga di kawasan Kebon Sirih masih terbatas. Dengan demikian, rencana tersebut memberikan peran baru bagi bangunan bersejarah itu sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan masyarakat.

3. Diresmikan sebagai masjid pada tahun 1987

Pemandangan bagian dalam loteng Masjid Cut Meutia. (commons.wikimedia.org/NaidNdeso)

Pada tahun 1984, AH Nasution membentuk kelompok pemuda Masjid Cut Meutia untuk mendukung masjid beserta para jemaahnya. Kelompok ini berupaya menjaga agar masjid tetap aktif dan terbuka bagi masyarakat setempat. Upaya tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan langkah resmi pada tahun 1987, ketika Gubernur DKI Jakarta R. Soeprapto menetapkan bangunan tersebut sebagai Masjid Cut Meutia. Adapun penetapan itu dituangkan dalam Surat Keputusan Nomor 5184/1987.

Jika kamu berencana untuk berkunjung, Masjid Cut Meutia terletak di Jalan Taman Cut Meutia No. 1. Masjid ini mudah dijangkau dengan transportasi umum karena lokasinya dekat dengan Stasiun Gondangdia. Kamu juga bisa turun di Halte Transjakarta Stasiun Gondangdia sisi selatan.

Masjid Cut Meutia menjadi pengingat nyata akan sejarah Jakarta yang terus berubah, mulai dari masa kolonial Belanda hingga perannya kini sebagai tempat ibadah. Bentuk yang besar dan ketiadaan kubah memberikan tampilan khas bagi masjid ini di jantung kawasan Menteng. Hingga saat ini, masjid tersebut tetap menjadi tempat di mana sejarah, iman, dan kehidupan masyarakat setempat berpadu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article