Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
⁠Jadwal dan Rute Kirab Malam 1 Suro 2026 di Pura Mangkunegaran Solo
Potret Peringatan Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (IDN Times/Herka Yanis)

Perayaan Malam 1 Suro selalu menjadi momen yang dinanti masyarakat Jawa, khususnya di Kota Solo. Tradisi yang menandai pergantian tahun dalam penanggalan Jawa ini bukan sekadar perayaan budaya, melainkan juga sarat makna spiritual dan filosofi kehidupan.

Setiap tahunnya, ribuan warga hingga wisatawan dari berbagai daerah memadati Solo untuk menyaksikan prosesi kirab pusaka yang digelar secara khidmat oleh Pura Mangkunegaran maupun Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Salah satu agenda yang paling menyita perhatian adalah Kirab Pusaka Dalem 1 Suro di Pura Mangkunegaran. Prosesi ini dikenal dengan tradisi Laku Tapa Bisu, yakni berjalan kaki mengelilingi kota tanpa berbicara sebagai simbol perenungan, introspeksi diri, serta doa untuk keselamatan dan kesejahteraan di tahun yang baru.

Suasana hening yang menyelimuti jalannya kirab menjadi daya tarik tersendiri dan menghadirkan nuansa sakral yang sulit ditemukan dalam tradisi lainnya.

1. Jadwal dan rute Kirab Malam 1 Suro 2026 di Mangkunegaran

Melansir akun Instagram resmi Mangkunegaran, kirab dimulai pada malam 1 Suro sekitar pukul 19.30 WIB. Pada tahun 2026 ini, prosesi Kirab Pusaka Dalem diperkirakan berlangsung pada Selasa, 16 Juni 2026, mulai pukul 19.30 WIB dengan titik keberangkatan dari kompleks Pura Mangkunegaran, Solo.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, rombongan kirab diperkirakan akan menempuh jalur yang melintasi sejumlah ruas jalan utama di Kota Solo. Berikut detailnya.

  1. Dimulai dari Gerbang Utama Pura Mangkunegaran, di Jalan Ronggowarsito.

  2. Menuju Jalan Kartini, lurus ke arah utara.

  3. Belok ke kanan ke Jalan RM Said.

  4. Lanjut ke Jalan Teuku Umar.

  5. Masuk ke koridor Ngarsopuro (Jalan Diponegoro) dan Jalan Slamet Riyadi.

  6. Setelah itu, rombongan kembali untuk mengelilingi tembok Pura, lalu finish kembali di kompleks Pura Mangkunegaran (gerbang utama).

Sepanjang perjalanan, suasana biasanya dipenuhi ribuan warga yang berdiri di tepi jalan untuk menyaksikan prosesi sakral tersebut dengan tertib dan penuh penghormatan.

2. Makna Laku Tapa Bisu dalam Kirab 1 Suro

Potret Peringatan Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (IDN Times/Herka Yanis)

Kirab Malam 1 Suro di Mangkunegaran tak hanya sebagai atraksi budaya, tetapi juga mengandung pesan filosofis yang mendalam. Tradisi Laku Tapa Bisu mengajarkan pentingnya menahan diri, mengendalikan ucapan, serta melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup selama setahun terakhir.

Dalam prosesi tersebut, pusaka-pusaka milik Mangkunegaran dibawa para abdi dalem dengan tata cara yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keheningan yang dijaga selama kirab berlangsung mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual dan budaya Jawa yang masih lestari hingga kini.

3. Panduan busana Kirab 1 Suro Mangkunegaran

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti kirab, pihak Mangkunegaran biasanya menetapkan aturan busana khusus, agar suasana sakral tetap terjaga. Di antaranya sebagai berikut.

Ageman kakung (pria).

  • Blangkon Gaya Mangkunegaran (bagian belakangnya berupa simpul pita yang bagian kanan ditekuk).

  • Kuncung depan blangkon tidak ditekuk untuk Abdi Dalem dan masyarakat umum.

  • Pakaian Beskap krowok gaya Mangkunegaran berwarna hitam dan berkancing hitam polos (tidak diperbolehkan menggunakan beskap berbahan beludru, bordir emas, dan kancing emas).

  • Jarik wiru berwarna sogan dengan motif Surakarta gaya Mangkunegaran (tidak menggunakan batik motif Parang dan Lereng) dan bersabuk motif dringin.

  • Keris berwarangka gayaman diselipkan di bagian belakang.

  • Tidak menggunakan prada dan bros blangkon.

  • Epek timang polos berwarna gelap dengan kepala ikat pinggang (timang) dan pengunci (leret) yang sederhana atau tidak berkilauan.

  • Alas kaki berwarna hitam serta tidak berbahan beludru dan/atau motif emas (alas kaki wajib dilepas saat mengikuti kirab).

Ageman putri (wanita).

  • Kepala Rambut digelung Jawa, bukan sanggul modern.

  • Menggunakan sanggul tradisional ukel konde tusuk hitam atau penyu, tanpa cundbuk apa pun. Pakaian Kebaya kartini hitam polos lengan panjang dengan bahan sifon, katun, rayon, satin, atau linen (dilarang berbahan beludru atau brokat) dengan panjang tidak melewati lutut (kebaya cekak).

  • Jarik wiru berwarna sogan dengan motif Surakarta gaya Mangkunegaran (tidak menggunakan batik motif Parang dan Lereng).

  • Dilarang menggunakan tambahan perhiasan yang berlebihan dan tusuk konde emas maupun cundbuk kembang.

  • Rias muka tidak berlebihan.

  • Alas kaki berwarna hitam serta tidak berbahan beludru dan/atau motif emas (alas kaki wajib dilepas saat mengikuti kirab).

Kirab Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran bukan hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga simbol pelestarian warisan leluhur yang masih dijaga hingga sekarang. Jika kamu berencana menyaksikan atau mengikuti kirab tahun ini, pastikan datang lebih awal dan mematuhi seluruh aturan yang berlaku, agar prosesi dapat berlangsung dengan khidmat dan tertib, ya.

Editorial Team

Related Article