Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Gunung Semeru Disebut Atap Pulau Jawa?
Gunung Semeru dari Gunung Bromo (pexels.com/Utkarsh Malviya)
  • Gunung Semeru di Jawa Timur memiliki ketinggian 3.676 mdpl, menjadikannya gunung tertinggi di Pulau Jawa dan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
  • Menurut kitab kuno Tantu Pagelaran, Gunung Semeru disebut sebagai 'Paku Pulau Jawa' karena dipercaya menstabilkan pulau yang dahulu terapung di lautan.
  • Dalam kepercayaan masyarakat sekitar, Gunung Semeru dianggap tempat bersemayamnya Dewa Siwa dan menjadi lokasi upacara sesaji yang digelar setiap 8–12 tahun sekali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gunung Semeru merupakan gunung berapi kerucut di Jawa Timur. Gunung ini populer di kalangan pendaki karena memiliki jalur pendakian yang menantang dengan pemandangan yang indah.

Julukan "Atap Pulau Jawa" yang selalu melekat pada Gunung Semeru terdengar sederhana, tetapi menyimpan cerita yang lebih dalam daripada sekadar ketinggian. Lantas, kenapa Gunung Semeru disebut Atap Pulau Jawa, ya? Ini beberapa alasan yang mendasarinya.

1. Gunung Semeru menjadi gunung tertinggi di Pulau Jawa

Gunung Semeru (pexels.com/Joe Fikar)

Gunung Semeru menjadi bagian dari kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl). Selain itu, Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Kawasan ini secara administratif berada di dalam dua kabupaten, yaitu Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Gunung Semeru didominasi oleh vegetasi hutan pegunungan dan hingga kini masih menjadi gunung berapi aktif yang populer untuk pendakian.

2. Gunung Semeru disebut sebagai paku bumi

Gunung Semeru dari puncak Gunung Bromo (commons.wikimedia.org/Hugo van den Bos)

Puncak Gunung Semeru dikenal dengan sebutan Mahameru. Penamaan ini, menurut legenda, berkaitan dengan sebutan "Paku Pulau Jawa".

Dalam kitab kuno Tantu Pagelaran, disebutkan bahwa suatu saat Pulau Jawa akan terapung dan terombang-ambing di lautan. Kemudian, Batara Guru yang dianggap sebagai penguasa memerintahkan para dewa untuk memindahkan Gunung Mahameru di India untuk menjadikannya paku Pulau Jawa.

Kalau secara geografis, gunung ini terbentuk akibat subduksi Lempeng Samudra Hindia (Lempeng Indo-Australia) ke bawah Lempeng Sunda (Lempeng Eurasia). Aktivitas subduksi menghasilkan deretan gunung api yang memanjang, dikenal sebagai busur vulkanik, yang membentang di wilayah Indonesia.

3. Tempat bersemayamnya para dewa

Gunung Semeru di pagi hari di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang (commons.wikimedia.org/BarlianH.Utomo)

Dalam naskah Tantu Panggelaran juga diceritakan Gunung Semeru merupakan pertapaan Dewa Syiwa. Untuk memperindah pertapaannya, diceritakan lagi bahwa Dewa Siwa telah membuat tempat pemandian yang konon adalah Ranu Kumbolo.

Masyarakat di sekitar Gunung Semeru kerap melakukan upacara sesaji kepada dewa-dewa yang diyakini bersemayam di sana. Upacara sesaji ini dilakukan setiap 8–12 tahun sekali, hanya ketika mereka mendengar suara gaib dari dewa di Puncak Mahameru.

Gunung Semeru sering dijuluki sebagai "Atap Pulau Jawa" karena berbagai alasan. Ketinggiannya yang mencapai 3.676 mdpl dan posisinya yang menjulang membuatnya tampak dominan dibandingkan dengan gunung lainnya. Selain itu, masih ada nilai simbolis dan spiritual yang melekat.

FAQ Seputar Kenapa Gunung Semeru Disebut Atap Pulau Jawa?

Apakah istilah “Atap Pulau Jawa” merupakan nama resmi?

Tidak. Istilah ini bukan nama resmi, melainkan julukan populer yang diberikan karena Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Apa alasan utama Semeru disebut “Atap Pulau Jawa”?

Karena memiliki ketinggian sekitar 3.676 mdpl, menjadikannya titik tertinggi di Pulau Jawa sehingga dianalogikan sebagai “atap” wilayah tersebut.

Apakah ada gunung lain yang hampir setinggi Semeru di Jawa?

Ada beberapa gunung tinggi seperti Gunung Slamet atau Gunung Sumbing, tetapi ketinggiannya masih di bawah Semeru, sehingga tidak menyandang julukan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team