Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Krisis Pariwisata di Petra, Pembatalan Kunjungan Tembus 100 Persen!

Krisis Pariwisata di Petra, Pembatalan Kunjungan Tembus 100 Persen!
ilustrasi bangunan Al-Khazneh di Petra (unsplash.com/Spencer Davis)
Intinya Sih
  • Perang antara Iran dan Israel-Amerika memicu ketegangan di Timur Tengah, berdampak besar pada keamanan dan penerbangan di Yordania.
  • Petra, situs warisan dunia UNESCO yang dulunya ibu kota Kerajaan Nabatean, kini mengalami pembatalan kunjungan wisata hingga 100 persen akibat konflik regional.
  • Otoritas Petra menyatakan krisis ini memukul ekonomi lokal, namun mereka memanfaatkan masa sepi wisata untuk proyek pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Meletusnya perang antara Iran dan Israel-Amerika kembali membuat tensi di kawasan Timur Tengah memanas. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pihak yang terlibat konflik, tetapi juga negara Timur Tengah lain, termasuk Yordania. Di Yordania, perang ini bukan hanya mengancam keamanan negara tersebut, tetapi juga membuat sejumlah penerbangan dibatalkan.

Gak berhenti di situ, konflik ini juga berdampak besar pada sektor pariwisata di negara tersebut. Sejumlah wisatawan dilaporkan membatalkan kunjungannya ke Petra. Gak tanggung-tanggung, pembatalan kunjungan bahkan tembus hingga 100 persen.

1. Petra merupakan situs kuno warisan Bangsa Nabatean

ilustrasi bangunan kuno Al-Khazneh di Petra
ilustrasi bangunan kuno Al-Khazneh di Petra (unsplash.com/Moxin Wang)

Di masa lalu, Petra merupakan ibu kota Kerajaan Nabatean berpenduduk 10.000-30.000 jiwa. Nabatea sendiri merupakan bangsa Arab kuno yang hidup di wilayah ini sekitar 2.000 tahun yang lalu. Mayoritas dari mereka bekerja sebagai pedagang dengan mengangkut komoditas rempah dari Arab dan wilayah Afrika untuk dijual ke Yunani dan Romawi.

Sayangnya, pencaplokan oleh Romawi pada 106 Masehi, ditambah gempa bumi yang melanda wilayah tersebut pada 363 Masehi membuat Petra ditinggalkan oleh penduduknya. Ribuan tahun berlalu, reruntuhan kota ini berubah menjadi destinasi wisata paling populer di Yordania. Pada tanggal 6 Desember 1985, UNESCO secara resmi menetapkan Petra sebagai Situs Warisan Dunia.

2. Petra memiliki sejumlah lokasi menarik untuk dikunjungi

Reruntuhan bangunan di Petra
gambar reruntuhan bangunan di Petra (unsplash.com/Frédéric Barriol)

Petra identik dengan Al-Khazneh, sebuah bangunan yang terbuat dari batu pasir merah dengan ukiran rumit. Memiliki tinggi 39 meter, Al-Khazneh memang merupakan bangunan paling ikonik di Petra. Para ahli memperkirakan bahwa di masa lalu, bangunan ini merupakan lokasi untuk upacara. Namun, gak sedikit juga yang berpendapat bahwa bangunan ini merupakan makan keluarga kerajaan.

Namun, Petra bukan hanya memiliki Al-Khazneh saja. Selain itu, reruntuhan kota kuno ini juga memiliki beberapa tempat menarik untuk dikunjungi. Mulai dari Siq, sebuah lorong sepanjang 1,2 kilometer yang diapit oleh tebing setinggi 80 meter. Layaknya sebuah kota, Petra juga memiliki sebuah teater yang bisa menampung lebih dari 8.000 orang. Di masa lalu, teater ini menjadi lokasi hiburan favorit warga.

Lokasi lain yang gak boleh dilewatkan selama kunjungan ke Petra adalah puncak Jabel al-Madhbah. Jabel al-Madhbah merupakan lokasi untuk melakukan berbagai ritual suci dalam kepercayaan Bangsa Nabatean. Selain memiliki nilai historis yang tinggi, dari puncak Jabel al-Madhbah, kita juga bisa menyaksikan pemandangan seluruh wilayah Petra dari ketinggian.

3. Memanasnya situasi di Timur Tengah membuat sektor pariwisata Yordania dilanda krisis

Turis di bandara
gambar turis di bandara (unsplash.com/Erik Odiin)

Menyandang status sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, gak heran jika Petra menjadi lokasi favorit banyak wisatawan. Pada 2023 lalu, Petra bahkan dikunjungi oleh lebih dari 1,1 juta pengunjung.

Sayangnya, situasi di Timur Tengah yang memanas pada awal tahun 2026 ini, disusul oleh perang antara Iran dan Israel-Amerika, membuat banyak wisatawan khawatir dan akhirnya melakukan pembatalan kunjungan. Gak tanggung-tanggung, pada pembatalan wisata ke Petra di bulan Maret ini mencapai angka 100 persen. Sedangkan untuk kunjungan bulan April, tingkat pembatalannya mencapai angka 60 persen.

Dilansir Jordan News, Ketua Dewan Komisaris Otoritas Pengembangan dan Pariwisata Wilayah Petra, Adnan Al-Sawa'ir, menyatakan bahwa pembatalan ini sangat berdampak pada masyarakat sekitar yang bergantung secara ekonomi pada sektor wisata. Lebih lanjut, Al-Sawa'ir juga menyatakan bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai langkah untuk melindungi para pekerja di sektor tersebut, serta memanfaatkan periode kekosongan wisata ini untuk melaksanakan proyek pembangunan, pembersihan, serta rehabilitasi infrastruktur di Petra.

Perang antara Iran dan Israel-Amerika memang memberikan dampak yang sangat buruk. Bukan hanya pihak yang terlibat, tetapi negara sekitar di Timur Tengah juga merasakan dampaknya. Termasuk Yordania, yang harus menerima kenyataan bahwa sektor pariwisata mengalami keterpurukan di bulan ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Travel

See More