Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Kebiasaan Buruk Pendaki yang Bisa Membahayakan Tim Saat Mendaki

7 Kebiasaan Buruk Pendaki yang Bisa Membahayakan Tim Saat Mendaki
Pendaki di gunung Kilimanjaro (unsplash.com/Crispin Jones)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti berbagai kebiasaan buruk pendaki seperti meremehkan jalur, cuaca, dan logistik yang bisa membahayakan keselamatan seluruh tim saat mendaki gunung.
  • Ditekankan pentingnya menjaga kebersamaan, komunikasi, serta manajemen risiko agar tidak ada anggota yang tertinggal, tersesat, atau mengalami hipotermia di tengah perjalanan.
  • Pendaki diingatkan untuk membawa perlengkapan sesuai kebutuhan, mematuhi etika pendakian, dan mengutamakan keselamatan bersama dibanding ego pribadi atau keinginan mengejar konten semata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Mendaki gunung memang jadi aktivitas seru yang banyak diminati, apalagi buat kamu yang suka petualangan dan suasana alam terbuka. Namun, di balik keindahan jalur pendakian dan pemandangan puncak, selalu ada risiko yang tidak boleh dianggap sepele. Banyak insiden di gunung justru terjadi bukan karena alam semata, tapi karena kebiasaan buruk pendaki itu sendiri.

Saat mendaki dalam tim, keselamatan bukan cuma tanggung jawab satu orang. Sikap ceroboh dari satu anggota bisa berdampak ke seluruh rombongan. Karena itu, penting banget buat tahu kebiasaan buruk pendaki yang bisa membahayakan tim agar perjalanan tetap aman, nyaman, dan sampai turun dengan selamat.

1. Meremehkan jalur dan kondisi cuaca

Sekelompok pendaki berjalan di jalur berbatu melewati padang rumput menuju perbukitan dengan suasana alam terbuka yang tenang.
Iliustrasi pendaki (pexels.com/Saddam Umar Husain)

Salah satu kesalahan paling sering terjadi adalah nekat mendaki tanpa mempelajari jalur terlebih dulu. Banyak orang merasa semua gunung itu sama, padahal setiap jalur punya karakter berbeda. Ada yang terjal, licin, panjang, minim sumber air, atau rawan kabut tebal.

Selain itu, mengabaikan ramalan cuaca juga sangat berbahaya. Memaksakan naik saat hujan deras, badai, atau kabut pekat bisa meningkatkan risiko tersesat, jatuh, hingga hipotermia. Kalau satu tim terjebak cuaca buruk, semua anggota ikut terdampak. Sebelum berangkat, pastikan kamu cek prakiraan cuaca, update kondisi jalur terbaru, dan siapkan rencana cadangan bila situasi berubah.

2. Manajemen logistik yang buruk

Beberapa pendaki berjalan di jalur pegunungan hijau dengan pemandangan lembah dan langit biru cerah di siang hari.
Iliustrasi pendaki (pexels.com/R.Praditya Trias Herlambang)

Mendaki bukan sekadar jalan kaki ke puncak. Tubuh butuh energi besar, sehingga kebutuhan makanan, air, dan bahan bakar harus dihitung matang. Sayangnya, masih banyak pendaki yang asal bawa bekal tanpa perencanaan.

Kalau logistik kurang, tim bisa mengalami dehidrasi, kelelahan, atau kelaparan di tengah jalur. Akhirnya anggota lain harus berbagi stok, dan kondisi ini bisa mengganggu semua orang. Bawa air secukupnya, makanan tinggi kalori, camilan cepat saji, serta bahan bakar cadangan bila memasak. Lebih baik bawa sedikit lebih banyak daripada kekurangan saat di atas.

3. Memisahkan diri dari rombongan

Dua wanita dengan ransel berjalan di jalur pegunungan hijau di bawah langit biru berawan, menikmati pemandangan alam yang luas.
Ilustrasi dua wanita mendaki gunung (pexels.com/Pixabay)

Kebiasaan jalan terlalu cepat hingga jauh di depan atau tertinggal sendirian di belakang sangat tidak disarankan. Dalam pendakian tim, ritme perjalanan seharusnya menyesuaikan kondisi bersama, bukan ego pribadi.

Saat seseorang terpisah, risiko cedera atau tersesat jadi lebih besar. Jika terjadi keadaan darurat, tim akan kesulitan mengetahui lokasi dan melakukan pertolongan cepat. Selalu jaga jarak aman antaranggota dan rutin berhenti di titik tertentu untuk memastikan semua masih lengkap.

4. Kurang paham manajemen risiko dan hipotermia

Dua pendaki gunung berjalan di jalur hijau di atas awan dengan latar pegunungan dan langit biru cerah di kejauhan.
Ilustrasi dua pendaki gunung (unsplash.com/Getty Images)

Banyak pendaki mengira teman yang diam, menggigil, atau lambat berjalan hanya kelelahan biasa. Padahal, itu bisa jadi tanda awal hipotermia. Kondisi ini terjadi saat suhu tubuh turun drastis dan sangat berbahaya jika terlambat ditangani.

Gejala umum hipotermia antara lain menggigil hebat, bicara melambat, bingung, tubuh lemas, dan sulit bergerak. Kalau ada anggota tim menunjukkan tanda tersebut, jangan dipaksa lanjut. Segera ganti pakaian basah, beri lapisan hangat, makanan atau minuman hangat, dan evaluasi apakah harus turun gunung.

5. Membawa beban terlalu berat atau alat tidak sesuai

Sekelompok pendaki berjalan di jalur pegunungan dengan ransel berwarna cerah di bawah langit biru yang cerah.
Ilustrasi pendaki (unsplash.com/Jamal Mahfudz)

Masih banyak pendaki membawa barang berlebihan demi kenyamanan pribadi. Akibatnya carrier terlalu berat dan kecepatan jalan menurun drastis. Saat satu orang melambat, ritme tim otomatis terganggu.

Selain itu, penggunaan perlengkapan yang salah seperti jeans, sepatu licin, atau jaket tipis juga bisa jadi masalah besar. Pendaki lebih cepat lelah, gampang kedinginan, dan berisiko cedera. Bawa barang seperlunya saja. Prioritaskan perlengkapan penting seperti jas hujan, pakaian hangat, headlamp, dan sepatu yang nyaman.

6. Mengabaikan etika dan aturan pendakian

Beberapa pendaki berjalan menanjak di jalur hijau pegunungan dengan langit berawan dan kabut tipis di kejauhan.
Ilustrasi pendaki (unsplash.com/Anthony Da Cruz)

Gunung bukan tempat bebas berbuat sesuka hati. Membuang sampah sembarangan, mencoret batu, merusak tanaman, atau mencemari sumber air adalah kebiasaan buruk yang merugikan banyak orang.

Selain merusak alam, tindakan ini juga bisa menimbulkan konflik dengan pendaki lain maupun pengelola kawasan. Jalur pendakian yang kotor membuat pengalaman semua orang jadi buruk. Selalu bawa turun sampah sendiri, hormati aturan basecamp, dan jaga kelestarian alam selama perjalanan.

7. Egois dan kurang komunikasi

Dua pendaki berjalan di jalur berbatu di tengah hutan pinus yang rimbun dengan sinar matahari menembus pepohonan.
Ilustrasi pendaki (pexels.com/Ben Maxwell)

Mendaki demi konten media sosial tanpa persiapan matang sekarang makin sering terjadi. Banyak orang terlalu fokus mengejar foto puncak sampai mengabaikan kondisi tubuh dan teman satu tim.

Sikap egois seperti memaksa lanjut saat anggota lain kelelahan, tidak mau berbagi informasi, atau diam saat mengalami masalah bisa membahayakan semuanya. Komunikasi adalah kunci utama dalam pendakian. Kalau merasa tidak sanggup, bilang sejak awal. Kalau ada teman bermasalah, bantu cari solusi bersama. Tim yang solid selalu lebih aman dibanding tim yang penuh ego.

Mendaki gunung memang menyenangkan, tapi keselamatan harus selalu jadi prioritas utama. Dengan menghindari kebiasaan buruk pendaki yang bisa membahayakan tim, perjalanan kamu akan terasa lebih aman, tertib, dan tetap seru sampai pulang. Jangan cuma kejar puncak, tapi juga pastikan semua anggota turun dengan selamat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Related Articles

See More