Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sejarah 3 Landmark Ikonik di Kawasan Pasar Gede Solo yang Penuh Nilai Budaya
Tugu Jam Pasar Gede Solo (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Pusat kota Solo punya beberapa tempat bersejarah yang menarik untuk dijelajahi. Tidak jauh dari kawasan Keraton Surakarta, terdapat Pasar Gede sebagai pusat kuliner. Pasar tradisional ini dikenal tidak pernah tidur karena selalu ramai pedagang maupun pembeli dari pagi hingga malam.

Lebih dari sekadar wisata kuliner, kawasan tersebut punya spot ikonik yang bersejarah serta simbol keberagaman. Mau tahu lebih lanjut? Berikut ini sejarah tiga landmark ikonik di Kawasan Pasar Gede Solo.

1. Kelenteng Tien Kok Sie

Kelenteng Tien Kok Sie (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Sebuah bangunan merah, mungil, dan tampak kontras dengan deretan toko di sisi selatan Pasar Gede, terdapat Kelenteng Tien Kok Sie. Landmark ini menjadi yang tertua di antara ketiga lainnya di kawasan tersebut. Keberadaannya sangat penting, sebagai pusat peribadatan Tri Dharma, terutama saat Imlek, serta tempat bersejarah di Kampung Balong atau Pecinan Sudiroprajan.

Kelenteng Tien Kok Sie berdiri sejak 1745, bermula dari inisiatif warga yang ingin menumbuhkan Bandar Pecinan di Kali Pepe. Dekat dengan kawasan tersebut, memang terdapat Kali Pepe yang memisahkannya dengan Balai Kota Surakarta. Kali Pepe merupakan jalur perdagangan menuju Bengawan Solo yang vital pada masanya.

Hal itu terbukti dengan adanya patung Thian siang Sing Bo, Dewi Laut. Sesuai kepercayaan, diharapkan memberi keselamatan saat berlayar dari Kali Pepe ke Bengawan dan selanjutnya Jawa Timur maupun sebaliknya. Patung lainnya yang dapat dijumpai di sini antara lain, Kong Hu Cu, She Cia Mo Ni Hud, dan Thay Sang Lo Kun.

Sesuai dengan usianya yang sudah lebih dari 2,5 abad, kelenteng ini mampu bertahan melewati berbagai zaman. Pada tahun 1966, ketika terjadi banjir bandang, membuatnya tenggelam dan menghanyutkan sejumlah kimsin (patung suci). Kemudian, menjadi saksi bisu pada era Orde baru tahun 1970-an, yang membuat umat Konghucu tidak berani beribadah di kelenteng.

Aksa (tulisan) diturunkan, aktivitas kesenian dan budaya Tionghoa dibatasi pada masa tersebut. Bahkan, kelenteng tersebut diminta untuk ditutup. Setelah itu, banyak kelenteng diubah menjadi vihara untuk menghindari konflik pada Orde Baru, sehingga kini juga dikenal sebagai Vihara Avalokitesvara.

Perjalanannya masih panjang, tetapi berhasil melewati masa Reformasi pada 1998 dan selamat dari sasaran massa. Seiring pergantian presiden, hak masyarakat sipil pun kembali, demikian pula kebebasan beragama serta berbudaya. Walau kerusuhan sempat terjadi beberapa kali, tetapi tidak menyebabkan kerusakan dan berdiri kokoh hingga saat ini.

2. Pasar Gede Hardjonagoro

Pasar Gede Solo (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Landmark lainnya yang menjadi ikon utama di kawasan ini adalah Pasar Gede Hardjonagoro atau lebih akrab disebut Pasar Gede. Pasar tradisional ini masuk dalam kategori segitiga emas. Kawasannya meliputi bekas pusat pemerintahan Kolonial Belanda (di sekitar Balai Kota Surakarta dan Pasar Gede), Keraton Kasunanan, dan Pura Mangkunegaran.

Pasar Gede dibangun sekitar tahun 1928–1930, pada masa pemerintahan Pakubuwono X (1893–1939). Dirancang oleh arsitek kenamaan asal Belanda, Ir. Herman Thomas Karsten. Bangunan tersebut berdiri di atas lahan milik pejabat pemerintah berstatus Kapitein der Chinezen bernama Be Kwat Koen.

Seperti dilansir jurnal Tersembunyi di Balik Keramaian: Eksplorasi Sisi Lain Pasar Gede Hardjonagoro Kota Surakarta 1998–2001, pembangunannya pun tidak lepas dari konsep kosmologi Jawa, yakni Catur Gatra Tunggal yang membagi empat ruang tetapi dalam satu kesatuan. Pada konsep tersebut, keraton sebagai poros adalah kekuasaan raja, alun-alun sebagai pusat ritual dan tradisi masyarakat, serta masjid sebagai pusat peribadatan. Kemudian, pasar merupakan dinamika perekonomian.

Mulanya, pasar tradisional ini hanya lesehan atau oprokan, yang didominasi pedagang luar kota. Sementara pedagang etnis Tionghoa memilih memanfaatkan rumah toko mereka untuk berjualan. Pasar tersebut semakin berkembang, sehingga Be Kwat Koen bekerja sama dengan residen Solo, Tuan Schneijder untuk mengelolanya.

Setelah Tuan Schneijder purna jabatan, kemudian diganti oleh Tuan Van Der Jagt. Pada masa inilah perbaikan kebersihan dan tata letak pasar dilakukan. Revitalisasi pasar oprokan tersebut ditinjau langsung oleh Pakubuwono X dan Mangkunegara VII. Pada pertengahan 1928, rancangan Thomas Karsten pun telah diperbarui dan disempurnakan setelah mendapat penolakan tata letaknya. 

Proses pembangunan pasar tersebut berlangsung pada awal tahun 1929. Proyek itu juga bekerja sama dengan Nederland Vereniging (N. V.) Braat & Co Surabaya dan N. V. Hollandsche Beton Maatschappij. Awal tahun 1930, pembangunan selesai dan diresmikan.

Pasar Gede seperti pasar tradisional umumnya yang menjual kebutuhan pokok dan perhiasan. Setelah itu, gedung induk pernah digunakan sebagai pasar ikan. Kini, gedung induk dan barat menjadi pusat kebutuhan pokok serta buah, sementara lantai dua menjadi pusat kuliner yang lebih ramai saat siang hingga malam hari.

3. Tugu Jam Pasar Gede

Tugu Jam Pasar Gede Solo (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Tugu Jam Pasar Gede berdiri tepat di seberang bangunan induk Pasar Gede. Keberadaannya lebih dari sekadar landmark dan penunjuk waktu. Tugu yang dibangun sekitar tahun 1937 itu, punya sejarah serta menjadi saksi perkembangan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Pembangunan tugu jam tersebut digagas oleh Pakubuwono X dengan tujuan untuk membangun kesadaran dan kedisiplinan masyarakat. Lokasinya di tengah perempatan jalan membuatnya punya fungsi lain sebagai untuk mendukung lalu lintas yang teratur. Mengingat kawasan Pasar Gede merupakan kawasan dengan lalu lintas yang ramai dan cenderung padat setiap harinya.

Bentuknya minimalis, strukturnya khas menunjukkan unsur arsitektur Belanda. Perpaduan warna putih dan cokelat memberikan kesan sederhana, dibanding dengan tugu lain yang tersebar di berbagai sudut kota Solo. Terdapat jam di keempat sisinya, sehingga memudahkan pengguna jalan untuk melihat waktu dari berbagai arah.

Keberadaannya pun turut membentuk wajah kawasan Pasar Gede sebagai ruang ekonomi, sosial, serta keberagaman masyarakat. Tidak berhenti sampai di situ, tugu tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 1997. Kini, masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu landmark yang menyimpan nilai sejarah serta identitas kota.

Sekarang kamu sudah mengenal lebih jauh dari sisi sejarah tiga landmark di kawasan Pasar Gede Solo. Letaknya berdekatan dengan fungsi berbeda yang saling melengkapi. Jika kebetulan sedang di Solo, jangan lupa untuk mengunjungi ketiga landmark ikonik tersebut ya!


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team