Kelenteng Tien Kok Sie (dok. pribadi/Fatma Roisatin)
Sebuah bangunan merah, mungil, dan tampak kontras dengan deretan toko di sisi selatan Pasar Gede, terdapat Kelenteng Tien Kok Sie. Landmark ini menjadi yang tertua di antara ketiga lainnya di kawasan tersebut. Keberadaannya sangat penting, sebagai pusat peribadatan Tri Dharma, terutama saat Imlek, serta tempat bersejarah di Kampung Balong atau Pecinan Sudiroprajan.
Kelenteng Tien Kok Sie berdiri sejak 1745, bermula dari inisiatif warga yang ingin menumbuhkan Bandar Pecinan di Kali Pepe. Dekat dengan kawasan tersebut, memang terdapat Kali Pepe yang memisahkannya dengan Balai Kota Surakarta. Kali Pepe merupakan jalur perdagangan menuju Bengawan Solo yang vital pada masanya.
Hal itu terbukti dengan adanya patung Thian siang Sing Bo, Dewi Laut. Sesuai kepercayaan, diharapkan memberi keselamatan saat berlayar dari Kali Pepe ke Bengawan dan selanjutnya Jawa Timur maupun sebaliknya. Patung lainnya yang dapat dijumpai di sini antara lain, Kong Hu Cu, She Cia Mo Ni Hud, dan Thay Sang Lo Kun.
Sesuai dengan usianya yang sudah lebih dari 2,5 abad, kelenteng ini mampu bertahan melewati berbagai zaman. Pada tahun 1966, ketika terjadi banjir bandang, membuatnya tenggelam dan menghanyutkan sejumlah kimsin (patung suci). Kemudian, menjadi saksi bisu pada era Orde baru tahun 1970-an, yang membuat umat Konghucu tidak berani beribadah di kelenteng.
Aksa (tulisan) diturunkan, aktivitas kesenian dan budaya Tionghoa dibatasi pada masa tersebut. Bahkan, kelenteng tersebut diminta untuk ditutup. Setelah itu, banyak kelenteng diubah menjadi vihara untuk menghindari konflik pada Orde Baru, sehingga kini juga dikenal sebagai Vihara Avalokitesvara.
Perjalanannya masih panjang, tetapi berhasil melewati masa Reformasi pada 1998 dan selamat dari sasaran massa. Seiring pergantian presiden, hak masyarakat sipil pun kembali, demikian pula kebebasan beragama serta berbudaya. Walau kerusuhan sempat terjadi beberapa kali, tetapi tidak menyebabkan kerusakan dan berdiri kokoh hingga saat ini.