Selain di Indonesia, Desa Ngawi juga Ada di New Zealand Lho!

- Nama Ngawi ternyata tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga di Selandia Baru, dengan latar sejarah dan budaya yang sangat berbeda.
- Ngawi di Indonesia dikenal sebagai kabupaten agraris di Jawa Timur dengan julukan Kota Bambu dan sejarah panjang sejak masa Majapahit.
- Ngawi di Selandia Baru merupakan desa nelayan kecil di Cape Palliser yang terkenal dengan banyaknya traktor serta panorama laut dan habitat anjing laut berbulu.
Tahukah kamu kalau nama Ngawi ternyata tidak hanya ada di Indonesia? Selain dikenal sebagai salah satu kabupaten di Jawa Timur, ada juga sebuah desa kecil bernama Ngawi di Selandia Baru, lho.
Meski berada di dua negara yang sangat jauh dan lahir dari latar sejarah yang berbeda, kesamaan nama ini sering membuat banyak orang penasaran. Menariknya, kedua tempat tersebut memiliki karakter yang sangat kontras, baik dari segi budaya, geografi, hingga kehidupan masyarakatnya.
Lebih detailnya, berikut perbedaan antara Ngawi di Indonesia dan di Selandia Baru yang perlu kamu tahu.
Ngawi di Indonesia

Kabupaten Ngawi merupakan salah satu kabupaten di bagian barat Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan wilayah Jawa Tengah. Nama Ngawi sendiri dipercaya berasal dari kata “awi” yang berarti bambu. Penamaan ini merujuk pada kondisi wilayah di sekitar pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun yang pada masa lalu banyak ditumbuhi tanaman bambu.
Dikenal dengan julukan “Kota Bambu,” Ngawi justru lebih populer sebagai salah satu lumbung padi utama di Jawa Timur. Wilayah ini memiliki hamparan sawah yang luas dan subur, sehingga menjadi daerah penghasil beras yang cukup besar. Bahkan, Ngawi juga dikenal aktif mengembangkan produksi padi organik yang menjadi salah satu andalan sektor pertanian daerah.
Dari sisi sejarah, Ngawi termasuk wilayah yang memiliki akar panjang sejak masa kerajaan Nusantara. Hari jadi kabupaten ini ditetapkan pada 7 Juli 1358 Masehi berdasarkan catatan dalam Prasasti Canggu yang menyebutkan wilayah tersebut sebagai bagian dari kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Secara geografis, wilayah Ngawi memiliki lanskap yang beragam. Dataran rendahnya banyak dimanfaatkan sebagai area pertanian, sementara dataran tingginya berada di sekitar lereng Gunung Lawu dan Pegunungan Kendeng. Kombinasi kondisi alam tersebut membuat sektor pertanian berkembang pesat hingga kini.
Ngawi di Selandia Baru
Berbeda jauh dengan Ngawi di Indonesia, Ngawi di Selandia Baru merupakan sebuah desa nelayan kecil yang terletak di kawasan Cape Palliser. Nama “Ngawi” berasal dari Bahasa Māori yang berarti “rumput rumpun asli,” yang merujuk pada vegetasi alami yang tumbuh di kawasan tersebut.
Desa ini berada di pesisir laut yang berhadapan langsung dengan Cook Strait. Meskipun dikenal sebagai desa nelayan, Ngawi tidak memiliki pelabuhan. Kondisi ombak yang cukup kuat membuat para nelayan harus menggunakan cara unik untuk mengoperasikan perahu mereka.
Salah satu hal yang paling menarik dari desa ini adalah jumlah traktornya yang sangat banyak. Bahkan, Ngawi sering disebut memiliki jumlah traktor per kapita terbanyak di dunia. Traktor-traktor tersebut digunakan untuk menarik perahu nelayan keluar masuk laut dan memindahkannya ke daratan setelah selesai melaut.
Selain aktivitas perikanan, desa ini juga pernah menjadi pusat pengolahan lobster yang cukup terkenal di Selandia Baru. Hingga kini, hidangan laut seperti lobster dan abalone masih menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang datang.
Panorama alam di sekitar desa juga tidak kalah menarik. Kawasan pesisirnya dipenuhi bebatuan karang yang dramatis dengan latar pemandangan laut yang luas. Di dekatnya pun terdapat Cape Palliser Lighthouse yang menjadi salah satu ikon wisata di kawasan tersebut. Wilayah ini juga dikenal sebagai habitat koloni anjing laut berbulu yang sering terlihat beristirahat di tepi pantai.
Itu dia beberapa perbedaan Ngawi di Indonesia dan Selandia Baru yang menarik untuk diketahui. Meski namanya sama, keduanya memiliki latar belakang sejarah, bahasa, dan budaya yang berbeda. Yang satu dikenal sebagai daerah agraris dengan sawah luas dan sejarah panjang sejak masa Majapahit, sedangkan yang lainnya merupakan desa nelayan kecil dengan panorama laut yang khas.


















