Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sungai Danube Kering, Wisata Kapal Pesiar Diberhentikan
Sungai Danube (commons.wikimedia.org/Oleksandr Dede)
  • Gelombang panas ekstrem dan kekeringan di Eropa menurunkan debit Sungai Danube ke level terendah dalam beberapa dekade, mengganggu pelayaran kapal pesiar.
  • Sejumlah operator mengubah rute, mempersingkat atau membatalkan perjalanan karena bagian sungai dangkal; wisatawan kadang melanjutkan perjalanan dengan bus sebelum naik kapal kembali.
  • Surutnya air di dekat Prahovo, Serbia, menampakkan bangkai kapal perang Jerman era Perang Dunia II, tetapi lokasi tidak bebas dikunjungi karena dugaan bahan peledak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menyusuri Sungai Danube dengan kapal pesiar menjadi salah satu pengalaman wisata paling populer di Eropa. Sungai terpanjang kedua di benua tersebut setelah Volga ini melintasi sepuluh negara, mulai dari Jerman hingga Rumania, sehingga wisatawan dapat menikmati beberapa destinasi dalam satu perjalanan.

Selama bertahun-tahun, Danube dikenal sebagai jalur favorit kapal pesiar karena menyuguhkan panorama kota-kota bersejarah, seperti Budapest, Bratislava, dan Wina, dari sudut pandang yang berbeda. Sayangnya, gelombang panas ekstrem dan kekeringan yang melanda Eropa membuat permukaan air Danube turun hingga mencapai level terendah dalam beberapa dekade, sehingga sejumlah pelayaran ikut terdampak.

Lantas, seperti apa dampak kondisi tersebut bagi wisatawan yang ingin menjelajahi salah satu sungai paling ikonik di Eropa ini?

1. Pengalaman menyusuri kota-kota ikonik Eropa tidak lagi bisa dinikmati sepenuhnya

Sungai Danube (commons.wikimedia.org/Visions of Domino)

Kapal pesiar di Sungai Danube biasanya menghubungkan sejumlah destinasi populer, seperti Budapest di Hungaria, Bratislava di Slovakia, Wina di Austria, hingga Passau di Jerman. Selama berlayar, wisatawan dapat menikmati panorama kota-kota tersebut langsung dari atas kapal sambil melewati jembatan bersejarah, bangunan klasik, dan kawasan tepi sungai yang menjadi ikon masing-masing kota. Akan tetapi, turunnya debit air membuat beberapa bagian Danube menjadi terlalu dangkal sehingga kapal berukuran besar tidak dapat melintas dengan aman.

Akibatnya, sejumlah operator pelayaran harus mengubah rute, mempersingkat perjalanan, bahkan membatalkan keberangkatan pada jadwal tertentu. Tidak sedikit wisatawan yang diminta melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju kota berikutnya sebelum kembali naik kapal di titik yang masih bisa dilayari.

Meski destinasi yang dikunjungi tetap sama, pengalaman menikmati pemandangan sepanjang sungai secara utuh tentu menjadi berkurang. Karena itu, wisatawan yang berencana mengikuti kapal pesiar di Danube kini perlu memantau kondisi sungai dan kemungkinan perubahan jadwal sebelum berangkat.

2. Surutnya Danube justru memperlihatkan bangkai kapal Perang Dunia II

Sungai Danube (commons.wikimedia.org/Uoaei1)

Di tengah dampak yang dirasakan industri pariwisata, surutnya permukaan Danube juga menghadirkan pemandangan yang sangat langka. Di dekat Prahovo, Serbia, puluhan bangkai kapal perang Jerman dari Perang Dunia II kembali terlihat setelah puluhan tahun tersembunyi di dasar sungai. Kapal-kapal tersebut sengaja ditenggelamkan pada 1944 ketika pasukan Nazi mundur dari kawasan Balkan untuk memperlambat laju tentara Uni Soviet.

Fenomena tersebut menarik perhatian wisatawan yang menyukai sejarah karena hanya muncul ketika permukaan air berada pada tingkat yang sangat rendah. Meski demikian, kawasan itu bukan destinasi yang dapat dikunjungi secara bebas mengingat beberapa bangkai kapal masih diduga menyimpan bahan peledak dan sedang menjadi bagian dari proyek penanganan pemerintah Serbia. Pemandangan yang biasanya tersembunyi di bawah permukaan air kini berubah menjadi fenomena langka yang menyita perhatian dunia.

3. Traveler perlu lebih cermat memilih waktu terbaik untuk berlayar

Sungai Danube (commons.wikimedia.org/ImagePerson)

Selama bertahun-tahun, musim panas menjadi waktu favorit untuk menikmati kapal pesiar di Danube karena cuaca cerah dan durasi siang hari yang lebih panjang. Kini, kondisi tersebut tidak selalu menjadi pilihan terbaik karena gelombang panas yang semakin sering terjadi dapat menyebabkan permukaan sungai turun drastis dan mengganggu operasional pelayaran. Kondisi alam pun menjadi salah satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan sebelum memesan paket wisata.

Banyak pelancong kini mulai mempertimbangkan akhir musim semi atau awal musim gugur ketika suhu udara lebih sejuk dan debit air umumnya lebih stabil. Selain peluang pelayaran yang lebih besar, suasana di kota-kota sepanjang Danube juga terasa lebih nyaman untuk berjalan kaki, menikmati kafe tepi sungai, maupun mengunjungi bangunan bersejarah tanpa keramaian puncak musim liburan. Memilih operator kapal pesiar yang menyediakan kebijakan perubahan jadwal secara fleksibel juga menjadi langkah yang bijak apabila kondisi sungai mendadak berubah.

Sungai Danube tetap menjadi salah satu destinasi wisata paling ikonik di Eropa meski saat ini tengah menghadapi kekeringan ekstrem. Dengan memilih musim yang tepat dan mengikuti informasi terbaru dari operator pelayaran, wisatawan masih dapat menikmati pesona Sungai Danube dengan lebih nyaman. Nah, apakah kamu tertarik menyusuri Sungai Danube suatu hari nanti?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article