5 Upaya Ekstrem Negara untuk Atasi Overtourism

- Fenomena overtourism bikin banyak negara ambil langkah ekstrem, dari pembatasan akses di Jepang hingga tarif tinggi bagi turis asing di Amerika Serikat demi lindungi warga dan lingkungan lokal.
- Beberapa negara memilih pendekatan kreatif seperti Jamaika dengan insentif musim sepi, Spanyol pakai kecerdasan buatan, dan Denmark dorong perilaku ramah lingkungan lewat sistem hadiah wisata.
- Kebijakan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara pariwisata dan kualitas hidup warga, sekaligus mengajak traveler lebih sadar serta bertanggung jawab saat berkunjung ke destinasi populer.
Lonjakan jumlah wisatawan global bikin banyak destinasi populer kewalahan menghadapi dampaknya. Mulai dari sampah menumpuk, kemacetan parah, sampai warga lokal merasa ruang hidupnya terganggu. Fenomena ini dikenal sebagai overtourism dan kini jadi perhatian serius pemerintah di berbagai negara.
Kalau kamu suka traveling, penting banget tahu bagaimana negara tujuan wisata mencoba mengendalikan arus pengunjung. Beberapa kebijakan bahkan terbilang ekstrem dan kontroversial. Yuk, simak lima upaya paling berani yang dilakukan negara-negara tujuan wisata dunia untuk mengatasi overtourism.
1. Jepang membatasi akses dan menutup festival ikonik

Dilansir BBC, di Jepang, pembatalan festival bunga sakura di Fujiyoshida menjadi simbol kuat penanganan overtourism. Festival ini biasanya menarik ratusan ribu wisatawan setiap tahun. Namun, keluhan warga tentang sampah, pelanggaran privasi, dan turis yang masuk ke rumah penduduk membuat pemerintah kota mengambil keputusan tegas. Kebijakan ini menunjukkan bahwa kenyamanan warga mulai diutamakan dibandingkan dengan promosi pariwisata besar-besaran.
Di Kyoto, pendekatan lebih sistematis diterapkan dengan memanfaatkan teknologi dan aturan sosial. Kota ini melarang fotografi geisha serta membatasi akses ke gang-gang sempit di distrik Gion. Kousaku Ono, manajer divisi promosi pariwisata berkelanjutan Kyoto, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan melindungi kehidupan sehari-hari warga sambil tetap memberi pengalaman nyaman bagi wisatawan. Sementara itu, Tim Oakes selaku direktur pelaksana Inside Travel Group menilai industri pariwisata harus berani mengalihkan wisatawan ke daerah yang masih sepi supaya tekanan gak menumpuk di satu kota saja.
2. Amerika Serikat mengenakan biaya lebih mahal untuk turis asing

Amerika Serikat memilih cara finansial untuk menekan jumlah wisatawan di taman nasional paling padat. Pemerintah memberlakukan biaya masuk jauh lebih tinggi bagi wisatawan internasional di taman-taman populer. Destinasi seperti Yellowstone, Yosemite, dan Grand Canyon menjadi sasaran utama kebijakan ini. Harapannya, sebagian wisatawan akan beralih ke taman nasional yang kurang dikenal.
Namun, Kevin Jackson, selaku salah satu pendiri EXP Journeys, menilai kenaikan biaya belum tentu cukup untuk mengurangi kepadatan di musim puncak. Menurutnya, permintaan terhadap taman ikonik tetap tinggi, karena biaya tambahan hanya sebagian kecil dari total pengeluaran liburan.
Dulani Porter, Wakil Presiden Eksekutif di perusahaan pemasaran destinasi SPARK, menambahkan bahwa masalah kepadatan lebih berkaitan dengan pola liburan domestik dan keterbatasan infrastruktur. Pandangan para pakar ini menunjukkan bahwa solusi finansial saja belum cukup tanpa perencanaan sistem yang menyeluruh.
3. Jamaika mengalihkan wisatawan ke musim sepi dengan insentif

Jamaika memilih pendekatan berbasis insentif daripada larangan. Pemerintah bekerja sama dengan maskapai dan perusahaan perjalanan untuk menawarkan perlindungan cuaca bagi wisatawan yang datang di musim hujan. Jika hujan melebihi ambang tertentu, wisatawan tetap bisa menikmati liburan sekaligus mendapatkan pengembalian dana. Skema ini mendorong orang berkunjung di luar musim ramai.
Jamie Perry, presiden perusahaan perjalanan Paisly yang bermitra dengan maskapai JetBlue, menyampaikan bahwa strategi ini bertujuan menyeimbangkan arus wisatawan sepanjang tahun. Dengan mengurangi risiko yang dirasakan wisatawan saat musim sepi, kunjungan bisa tersebar lebih merata. Pendekatan ini dinilai lebih ramah bagi komunitas lokal karena tekanan tidak hanya terjadi pada satu periode tertentu. Jamaika menunjukkan bahwa mengatasi overtourism bisa dilakukan lewat dorongan positif, bukan sekadar pembatasan.
4. Spanyol mengandalkan kecerdasan buatan untuk mengatur keramaian

Di Pulau Mallorca, Spanyol mengembangkan platform berbasis kecerdasan buatan untuk mengelola arus wisatawan. Sistem ini menggunakan data real-time untuk merekomendasikan waktu terbaik untuk mengunjungi lokasi populer. Wisatawan juga diarahkan ke aktivitas alternatif seperti kerajinan lokal dan perkebunan anggur. Tujuannya agar tekanan gak hanya terpusat di pantai dan kawasan utama.
Guillem Ginard, Menteri Pariwisata sekaligus presiden Mallorca Responsible Tourism Foundation, menjelaskan bahwa teknologi membantu pemerintah memprediksi pergerakan wisatawan. Informasi tersebut dipakai untuk meningkatkan pengalaman pengunjung sekaligus melindungi sumber daya lokal. Selain teknologi, kampanye sosial juga diluncurkan agar wisatawan memperlakukan pulau ini seperti rumah sendiri. Kombinasi data dan edukasi diharapkan bisa mengubah pola kunjungan secara bertahap.
5. Denmark mendorong perilaku ramah lingkungan lewat sistem hadiah

Denmark memilih pendekatan berbasis perubahan perilaku di ibu kota Kopenhagen. Program CopenPay memungkinkan wisatawan mendapatkan akses pengalaman wisata dengan melakukan aksi ramah lingkungan. Contohnya datang ke museum naik sepeda atau ikut membersihkan kanal sambil kayak. Wisatawan merasa liburan mereka punya makna lebih dari sekadar bersenang-senang.
Rikke Holm Petersen, direktur pemasaran dan komunikasi di Wonderful Copenhagen, menyebut banyak peserta termotivasi karena ingin mencoba pengalaman berbeda. Ia juga menilai kebiasaan baik ini sering terbawa pulang ke negara asal wisatawan. Model ini menarik perhatian ratusan destinasi lain di dunia untuk meniru konsep serupa. Denmark membuktikan bahwa perubahan kecil dalam perilaku wisatawan bisa berdampak besar pada keberlanjutan kota.
Berbagai negara kini sadar bahwa overtourism gak bisa diatasi dengan cara lama. Pembatasan akses, tarif khusus, insentif musim sepi, kecerdasan buatan, sampai sistem hadiah ramah lingkungan menjadi bukti kreativitas pemerintah dan industri pariwisata. Para pejabat dan pakar menekankan pentingnya keseimbangan antara kunjungan wisata dan kualitas hidup warga lokal.
Buat kamu sebagai traveler, kebijakan ini menjadi pengingat untuk lebih sadar saat berkunjung ke suatu tempat. Liburan tetap seru, tapi sikap bertanggung jawab membuat destinasi bisa dinikmati lebih lama oleh semua orang.



![[QUIZ] Dari Menu Berbuka Favoritmu, Kamu Bakal Mudik Lebaran ke Kota Ini!](https://image.idntimes.com/post/20250406/whatsapp-image-2025-04-05-at-115553-1d2fdd614142c09f2d4d75cb1e88c9ba.jpeg)













