Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Unik! Ini Alasan Jepang Tetap Rawat Telepon Umum di Era Modern

Unik! Ini Alasan Jepang Tetap Rawat Telepon Umum di Era Modern
ilustrasi telepon umum di Jepang (unsplash.com/Trac Vu)
Intinya Sih
  • Pemerintah Jepang mewajibkan pemasangan telepon umum setiap 500 meter di kota dan 1 kilometer di luar kota sebagai layanan universal yang mudah diakses semua warga.
  • Telepon umum tetap berfungsi saat bencana karena memiliki jalur komunikasi prioritas yang tidak bergantung pada listrik, menjadi alat penting penyelamat nyawa.
  • Saat status darurat aktif, seluruh telepon umum otomatis gratis digunakan dan terhubung dengan sistem pesan darurat 171 untuk komunikasi cepat dan aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jepang memiliki alasan tersendiri bagi wisatawan dunia untuk terus dikunjungi. Mulai dari budaya, lanskap kota dan alam, hingga kuliner. Di sekeliling gedung-gedung pencakar langit yang ada di Tokyo, masih terdapat beberapa telepon umum jadul yang masih terawat dan terjaga dengan baik. Telepon umum ini bukan hanya sebagai pajangan di jalanan umum, melainkan punya fungsi vital di tengah semua orang menggunakan smartphone.

Bagi sebagian orang mungkin melihat pemandangan ini biasa saja. Di saat bilik telepon umum sudah lama punah dan berubah fungsi menjadi sasaran vandalisme atau bahkan dibongkar habis karena dianggap mengganggu estetika jalan, Jepang justru melakukan hal sebaliknya. Negara yang dikenal sebagai pelopor teknologi dunia ini tetap merawat ribuan telepon umum mereka dengan sangat baik dan masih berfungsi. Ternyata, ini bukan sekadar nostalgia, melainkan adanya aturan hukum ketat yang mewajibkan satu telepon umum setiap radius 500 meter di area perkotaan. Yuk, simak alasan penting di baliknya!

1. Aturan ketat radius 500 meter dan 1 kilometer yang dilindungi undang-undang

ilustrasi telepon umum di Jepang
ilustrasi telepon umum di Jepang (unsplash.com/Red Shuheart)

Pemerintah Metropolitan Tokyo bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi NTT East membuat langkah untuk memperbarui infrastruktur yang mulai ditinggalkan seiring maraknya penggunaan ponsel pintar, guna mewujudkan visi Connected Tokyo dan Smart Tokyo. Melalui kerja sama ini sekitar 1.500  bilik telepon umum di wilayah strategis, seperti area stasiun utama, taman publik di selatan Tokyo, guna menjangkau telepon umum di beberapa titik lokasi.

Dilansir laman Japan Today, hukum di Jepang mengategorikan telepon umum sebagai layanan universal yaitu fasilitas yang harus dapat diakses dengan mudah dan terjangkau oleh seluruh warga negara. Regulasi yang berlaku mewajibkan pemasangan satu telepon umum di setiap radius 500 meter persegi untuk wilayah perkotaan, dan setiap satu kilometer persegi untuk wilayah luar kota.

2. Penyelamat nyawa saat bencana alam melanda

ilustrasi telepon umum saat terjadi bencana
ilustrasi telepon umum saat terjadi bencana (unsplash.com/Avi Varma)

Meskipun jumlahnya telah berkurang drastis akibat dominasi telepon seluler, keberadaan telepon umum sengaja dipertahankan oleh pemerintah karena memiliki ketahanan infrastruktur yang jauh lebih stabil dan andal saat krisis melanda. Telepon umum berbeda dengan jaringan smartphone yang rentan mengalami kelumpuhan total akibat pemadaman listrik atau pembatasan kuota karena lonjakan panggilan.

Telepon umum memiliki jalur komunikasi yang diprioritaskan dan tetap berfungsi normal meski tanpa daya listrik nasional. Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di Jepang sangat direkomendasikan untuk tidak hanya bergantung pada ponsel pintar, melainkan juga harus mengenali lokasi telepon umum terdekat di lingkungan mereka serta memahami cara mengoperasikannnya demi keselamatan jiwa.

3. Tetap menyala walau mati lampu dan bisa dipakai gratis

ilustrasi telepon umum di Jepang
ilustrasi telepon umum di Jepang (unsplash.com/Jivan Garcha)

Sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan publik, pemerintah Jepang menerapkan kebijakan penanganan bencana yang sangat terorganisasi. Begitu status darurat diaktifkan di wilayah terdampak bencana, seluruh operasional telepon umum secara otomatis diubah menjadi gratis.

Pengguna yang panik atau dievakuasi tidak perlu lagi memikirkan koin 10 yen ataupun mencari kartu telepon magnetik, mereka cukup mengangkat gagang telepon untuk langsung terhubung dengan keluarga atau layanan darurat. Keandalan teknologi dan kebijakan gratis saat darurat ini didukung penuh oleh budaya masyarakat Jepang yang sangat menghargai fasilitas publik.

4. Terintegrasi dengan sistem pesan darurat dial 171

ilustrasi telepon umum
ilustrasi telepon umum (unsplash.com/Yuri Krupenin)

Layanan Disaster Emergency Message Dial 171 merupakan infrastruktur komunikasi darurat berbasis suara yang disediakan oleh NTT Group bersama penyedia telekomunikasi lainnya di Jepang. Sistem ini dirancang sebagai solusi komunikasi kritis ketika wilayah tertentu dilanda bencana alam berskala besar, di mana jaringan telepon regular tidak bisa diakses. Mengingat fungsinya yang sangat vital untuk memisahkan lalu lintas komunikasi penyelamatan dan pencarian informasi, layanan ini menjadi salah satu pilar utama kesiapsiagaan bencana nasional di Jepang.

5. Menjadi bagian dari estetika kota dan edukasi generasi muda

ilustrasi telepon umum
ilustrasi telepon umum (unsplash.com/Yuri Krupenin)

Bilik telepon umum di Jepang bukan sekadar rongsokan masa lalu yang terabaikan di sudut jalan, melainkan bagian dari estetika kota yang dirawat secara istimewa. Mengusung kultur kebersihan yang tinggi, fasilitas publik ini selalu terjaga dalam kondisi higienis dan bebas dari vandalisme atau coretan liar. Desainnya yang ikonik, mulai dari bilik kaca retro yang klasik hingga bentuk modern yang menyatu dengan lanskap kota, membuat telepon umum di Negeri Sakura sering kali menjadi spot foto yang estetik bagi para wisatawan dunia.

Keunikan tata kelola telepon umum ini menjadi refleksi berharga bagi negara-negara lain dalam membangun infrastruktur kota yang tangguh. Melalui perawatan yang telaten dan edukasi publik yang konsisten, Jepang membuktikan bahwa benda yang dianggap kuno bisa menjadi penyelamat di saat kritis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
savira Ivanka
Hella Pristiwa
savira Ivanka
Editorsavira Ivanka

Related Articles

See More