Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Momijigari, Tradisi Jepang Menikmati Perubahan Warna Daun

4 min read
5 Fakta Momijigari, Tradisi Jepang Menikmati Perubahan Warna Daun
Pemandangan musim gugur di Jepang (pexels.com/Thắng Văn)
  • Momijigari adalah tradisi Jepang menikmati daun musim gugur berwarna merah, jingga, dan kuning di pegunungan, taman, serta kawasan kuil.

  • Dikenal sejak abad kedelapan, momijigari awalnya dilakukan bangsawan untuk menikmati alam dan berpuisi, lalu menjadi rekreasi musiman masyarakat luas pada zaman Edo.

  • Perubahan warna daun menginspirasi puisi klasik, motif seni pada berbagai benda, serta kuliner momiji tempura dari daun maple yang dibalut adonan dan digoreng.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jepang memiliki tradisi menikmati perubahan warna daun pada musim gugur yang dikenal sebagai momijigari. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi kawasan pepohonan untuk melihat dedaunan yang berubah menjadi merah, jingga, dan kuning. Tradisi tersebut telah dikenal selama berabad-abad dan menjadi bagian dari kebudayaan Jepang.

Momijigari tidak hanya berkaitan dengan pemandangan alam, tetapi juga memiliki hubungan dengan sejarah dan kesenian Jepang. Kebiasaan ini berkembang dari kegiatan kalangan bangsawan, menjadi aktivitas yang dinikmati masyarakat luas. Jejaknya dapat ditemukan dalam puisi klasik, karya seni, hingga kuliner yang terinspirasi dari daun musim gugur.

  1. 1. Memiliki makna berburu daun musim gugur

    Pemandangan musim gugur di Jepang
    Pemandangan musim gugur di Jepang (unsplash.com/Luke Ow)

    Istilah momijigari berasal dari dua kata Jepang, yaitu momiji yang merujuk pada daun musim gugur serta gari yang berarti berburu. Meski terdengar seperti kegiatan berburu, istilah ini digunakan untuk kebiasaan mencari dan menikmati daun merah, jingga, dan kuning. Momijigari berarti pergi ke alam untuk menikmati warna daun.

    Kegiatan ini dilakukan di tempat yang memiliki pepohonan berwarna-warni, seperti pegunungan, taman, dan kawasan kuil. Istilah koyo digunakan untuk menyebut daun-daun yang berubah warna pada musim gugur. Tradisi ini telah menjadi bagian dari cara masyarakat Jepang menikmati pergantian musim selama berabad-abad.

  2. 2. Telah dikenal sejak zaman kuno

    Pemandangan musim gugur di Jepang
    Pemandangan musim gugur di Jepang (pexels.com/Marcio Konno)

    Kebiasaan menikmati daun musim gugur di Jepang telah dikenal sejak zaman kuno. Japan National Tourism Organization menyebut masyarakat Jepang telah melakukan perjalanan untuk melihat dedaunan musim gugur sejak abad kedelapan. Pada masa awalnya, kegiatan tersebut lebih banyak dilakukan kalangan bangsawan.

    Para bangsawan pergi ke pegunungan untuk menikmati warna daun, menyusun puisi, dan mengadakan pertemuan budaya. Tradisi ini berkembang seiring perubahan kehidupan masyarakat dan kebiasaan menikmati alam. Seiring waktu, tradisi momijigari tidak lagi terbatas pada lingkungan istana, tetapi menjadi kegiatan musiman yang dikenal luas di Jepang.

  3. 3. Menginspirasi puisi klasik Jepang

    Pemandangan musim gugur di Jepang
    Pemandangan musim gugur di Jepang (pexels.com/Nguyen Hung)

    Perubahan warna daun telah lama menjadi tema dalam banyak karya sastra Jepang, termasuk puisi klasik. Man'yoshu, antologi puisi Jepang kuno yang mulai dihimpun pada paruh kedua abad ketujuh, memuat sekitar 100 puisi tentang daun musim gugur. Catatan ini menunjukkan bahwa dedaunan berwarna telah menarik perhatian penyair sejak awal perkembangan sastra tertulis Jepang.

    Pada zaman Heian, kalangan bangsawan juga menikmati daun musim gugur sambil menyusun waka, bentuk puisi tradisional Jepang. Pemandangan dedaunan hadir dalam karya sastra dan kegiatan budaya pada musim tersebut. Hubungan antara alam dan puisi membuat momijigari berkaitan erat dengan sejarah kesenian Jepang.

  4. 4. Menjadi kegiatan rekreasi masyarakat

    Pemandangan musim gugur di Jepang
    Pemandangan musim gugur di Jepang (pexels.com/Nguyen Hung)

    Awalnya, menikmati daun musim gugur lebih erat dengan kehidupan kalangan bangsawan. Pada zaman Edo, kebiasaan tersebut menyebar ke masyarakat umum dan berkembang menjadi kegiatan rekreasi musiman. Japan National Tourism Organization mencatat momijigari semakin populer di kalangan masyarakat biasa pada abad ke-18.

    Sejumlah tempat di Edo, nama lama Tokyo, dikenal sebagai lokasi untuk menikmati dedaunan musim gugur. Japan Search menyebut kawasan kuil di Shitaya dan Shinagawa sebagai tempat yang dahulu populer untuk melihat perubahan warna daun. Tradisi yang awalnya dekat dengan kalangan bangsawan pun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

  5. 5. Menginspirasi seni dan kuliner Jepang

    Pemandangan musim gugur di Jepang
    Pemandangan musim gugur di Jepang (unsplash.com/Paul Cuoco)

    Pengaruh daun musim gugur terlihat dalam berbagai bentuk kesenian Jepang. Motif daun maple digunakan pada kimono, yukata, kipas, sumpit, dan benda dekoratif lain untuk menghadirkan nuansa musim gugur. Dalam karya seni, daun maple juga dipadukan dengan unsur alam lain sebagai gambaran musim gugur.

    Daun maple juga dimanfaatkan sebagai bahan makanan bernama momiji tempura. Hidangan ini dibuat dari daun maple yang diberi garam atau gula, dibalut adonan, lalu digoreng. Hal ini menjadi contoh bagaimana dedaunan musim gugur hadir bukan hanya dalam seni, tetapi juga dalam kuliner Jepang.

    Tradisi Momijigari memperlihatkan bagaimana perubahan warna daun menjadi bagian dari kehidupan budaya Jepang selama berabad-abad. Tradisi ini berkembang dari kebiasaan kalangan bangsawan menjadi kegiatan masyarakat luas, sekaligus menginspirasi puisi, kesenian, dan kuliner. Hubungan tersebut menjadikan momijigari lebih dari sekadar kegiatan menikmati pemandangan musim gugur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More