Ilustrasi pendaki berkelompok (pexels.com/R.Praditya Trias Herlambang)
Cuaca jadi faktor lain yang sering menyebabkan pendaki kehilangan arah saat turun gunung. Kabut tebal bisa membuat jarak pandang sangat terbatas, bahkan hanya beberapa meter saja. Ketika kabut mulai turun, penanda jalur jadi sulit terlihat. Jalur yang biasanya jelas pun bisa tampak samar dan membingungkan. Kondisi ini sering terjadi di gunung dengan cuaca cepat berubah.
Selain kabut, waktu perjalanan yang terlalu mepet malam juga sangat berbahaya. Banyak pendaki terlambat turun karena terlalu lama di puncak atau terlalu sering beristirahat selama perjalanan. Saat hari mulai gelap, tingkat fokus biasanya ikut menurun. Apalagi kalau perlengkapan penerangan kurang memadai.
Jalur yang tadinya aman bisa berubah jadi membingungkan dan rawan salah arah. Untuk mengurangi risiko tersesat, kamu sebaiknya mengatur waktu pendakian dengan baik. Hindari turun terlalu sore dan selalu cek perkiraan cuaca sebelum mendaki gunung.
Tersesat ketika perjalanan turun gunung gak hanya dialami pendaki pemula, karena pendaki yang sudah berpengalaman pun tetap bisa mengalami hal serupa. Faktor seperti perubahan orientasi visual, formasi tim yang berantakan, kelelahan fisik, sampai cuaca buruk sering jadi penyebab utama yang gak disadari.
Karena itu, penting buat selalu menjaga fokus dan disiplin selama perjalanan turun. Dengan persiapan yang matang dan komunikasi tim yang baik, perjalanan mendaki bakal terasa lebih aman dan nyaman sampai kembali ke kaki gunung.