Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Kebiasaan Pendaki yang Bisa Merusak Ekosistem Gunung

6 Kebiasaan Pendaki yang Bisa Merusak Ekosistem Gunung
ilustrasi mendaki gunung (unsplash.com/Austin Ban)
  • Sampah sembarangan mencemari tanah dan sumber air, sementara sisa makanan dapat membahayakan satwa liar; pendaki diminta membawa turun seluruh sampah.
  • Keluar jalur resmi, memetik flora, atau mengambil benda alam dapat merusak tanaman, memicu erosi, serta mengganggu habitat organisme pegunungan.
  • Memberi makan satwa, membuat api tanpa pengawasan, dan memakai sabun kimia di sumber air mengancam perilaku satwa, hutan, serta kualitas air.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mendaki gunung sering menjadi cara yang menyenangkan untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari. Sayangnya, kebiasaan buruk sebagian pendaki sering merusak keindahan dan keseimbangan alam. Memahami dampaknya sejak awal akan membantu kamu menjadi penjelajah yang lebih bertanggung jawab.

Perilaku kecil yang dianggap biasa ternyata dapat mengancam tanaman dan satwa yang hidup di dataran tinggi. Kamu tentu tidak ingin keindahan gunung berubah akibat kerusakan yang sulit dipulihkan. Oleh sebab itu, hindari beberapa kebiasaan pendaki yang dapat merusak ekosistem gunung berikut ini agar alam tetap bersih, sehat, dan lestari.

  1. 1. Membuang sampah sembarangan

    ilustrasi sampah saat mendaki
    ilustrasi sampah saat mendaki (pexels.com/Tyler Williams)

    Meninggalkan puntung rokok, bungkus camilan, atau tisu basah di jalur pendakian dapat merusak lingkungan dalam jangka panjang. Sampah plastik dan bahan sintetis membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Kandungan berbahaya di dalamnya juga dapat meresap ke tanah dan mencemari sumber air di pegunungan.

    Sisa makanan yang dibuang sembarangan berisiko dimakan oleh satwa liar di sekitar hutan. Tubuh hewan tidak mampu mencerna plastik maupun bahan kimia sehingga dapat mengalami gangguan serius hingga kematian. Selalu sediakan kantong sampah di dalam ransel dan bawa turun seluruh sampahmu tanpa meninggalkan apa pun.

  2. 2. Keluar dari jalur pendakian resmi

    ilustrasi mendaki lewat jalur pendakian tidak resmi
    ilustrasi mendaki lewat jalur pendakian tidak resmi (unsplash.com/Annie Spratt)

    Jalur pintas mungkin membuat perjalanan terasa lebih singkat, tetapi dampaknya terhadap lingkungan cukup besar. Pendaki yang keluar dari jalur resmi berisiko menginjak tanaman langka serta tunas pohon muda. Tanpa akar yang kuat, lapisan tanah akan mudah tergerus oleh hujan dan aliran air.

    Erosi yang dibiarkan dapat merusak tebing serta membahayakan orang lain di jalur pendakian. Tetap gunakan rute resmi walaupun harus berjalan sedikit lebih jauh. Pilihan sederhana tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap kelestarian gunung.

  3. 3. Memetik tanaman atau membawa pulang benda alam

    ilustrasi memetik tanaman saat mendaki gunung
    ilustrasi memetik tanaman saat mendaki gunung (unsplash.com/zorica radosavljevic)

    Rasa kagum pada alam sebaiknya tidak diwujudkan dengan memetik bunga, mengumpulkan lumut, atau mengantongi bebatuan. Meski terlihat sederhana, semua unsur tersebut berperan dalam menjaga keseimbangan kehidupan di kawasan pegunungan. Pengambilan flora secara sembarangan dapat menghambat regenerasi dan mengancam kelestariannya.

    Benda alami, seperti batu serta kayu yang membusuk, juga menjadi perlindungan bagi berbagai makhluk kecil. Saat benda itu dipindahkan, habitat serangga dan mikroorganisme di sekitarnya ikut terganggu. Jadikan kamera sebagai satu-satunya alat untuk membawa pulang kenangan dari perjalananmu.

  4. 4. Memberi makan satwa liar

    ilustrasi memberi makan burung di gunung
    ilustrasi memberi makan burung di gunung (unsplash.com/Bernie Sistek)

    Memberikan roti atau biskuit kepada monyet dan burung di area perkemahan mungkin terlihat baik, tetapi justru dapat membahayakan mereka. Makanan olahan yang tinggi gula dan garam dapat mengganggu pencernaan satwa sekaligus membuatnya bergantung pada manusia. Jika terus terbiasa diberi makan, naluri mereka untuk mencari pakan sendiri di alam perlahan melemah.

    Perubahan kebiasaan tersebut juga dapat membuat satwa semakin berani dan agresif mendekati pendaki. Saat lapar, mereka bisa merusak tenda atau mengambil tas yang berisi makanan. Biarkan satwa liar mencari makan secara alami agar perilaku dan kesehatannya tetap terjaga.

  5. 5. Membuat api unggun tanpa pengawasan

    ilustrasi api unggun
    ilustrasi api unggun (unsplash.com/Ivan Shemereko)

    Menyalakan api unggun sering dianggap sebagai cara paling nyaman untuk menghadapi udara malam yang dingin. Sayangnya, percikan kecil yang terbawa angin dapat membakar serasah kering dan berkembang menjadi kebakaran besar. Abu, jelaga, serta suhu panas yang tertinggal juga bisa mengganggu kehidupan mikroorganisme tanah.

    Gunakan kompor portabel sebagai pilihan yang lebih praktis untuk mengolah makanan atau menghangatkan air. Jika terpaksa menyalakan api, pilih bekas perapian yang sudah tersedia dan awasi hingga padam sepenuhnya. Langkah ini dapat melindungi kawasan hutan sekaligus menjaga keamanan seluruh pendaki.

  6. 6. Menggunakan sabun dan detergen kimiawi di sumber air

    ilustrasi sumber air di gunung
    ilustrasi sumber air di gunung (unsplash.com/Polina Kocheva)

    Mencuci alat masak berminyak atau membersihkan tubuh langsung di sungai pegunungan dapat mencemari sumber air. Kandungan bahan kimia dalam sabun dan detergen berisiko mengganggu keseimbangan alami air yang semula jernih. Zat tersebut juga dapat merusak kehidupan organisme air, membahayakan ikan, dan menurunkan kualitas air bagi warga sekitar.

    Jika perlu mencuci, ambillah air dengan wadah dan bawalah ke tempat yang berjarak sekitar 50 meter dari sumbernya. Gunakan sabun organik yang mudah terurai dan tampung air bekas cucian di lubang tanah. Dengan cara ini, limbah dapat tersaring sebelum meresap dan tidak langsung mencemari sungai.

    Menjaga kelestarian ekosistem gunung adalah tanggung jawab setiap pencinta alam. Kebiasaan kecil yang lebih peduli dapat memberi pengaruh besar pada kehidupan flora dan fauna di pegunungan. Bertualanglah dengan bijak agar keindahan alam tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More