Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi wisatawan sedang mengambil foto di Jepang (pexels.com/Guohua Song)
  • Wisatawan diminta tidak memotret orang asing tanpa izin; privasi dijunjung tinggi, dan penolakan harus dihormati.
  • Di Gion, larangan fotografi berlaku di gang privat untuk melindungi geisha dan maiko; pelanggaran dapat dikenai denda.
  • Fotografi dibatasi di kuil, tempat usaha, serta ruang publik; perhatikan rambu, minta izin, dan patuhi aturan tripod, tongkat selfie, serta drone.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jepang memang selalu punya cara ajaib untuk memikat hati para traveler dengan perpaduan sempurna antara tradisi masa lalu dan teknologi masa depannya. Mulai dari gang-gang sempit Kyoto yang autentik hingga gemerlap lampu neon di Shinjuku, setiap sudut Negeri Sakura ini rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan tanpa jepretan kamera.

Namun, di balik keindahan visualnya yang mengagumkan, Jepang ternyata memiliki norma sosial serta regulasi hukum yang sangat ketat terkait privasi maupun etika di ruang publik, lho. Oleh karenanya, agar liburanmu tetap menyenangkan tanpa harus berurusan dengan teguran penduduk lokal atau sanksi hukum, yuk simak beberapa aturan dan larangan foto di Jepang yang wajib kamu ketahui sebelum berangkat!

1. Jangan sembarangan memotret orang asing dan privasi publik

ilustrasi wisatawan memotret di ruang publik Jepang (pexels.com/DSD)

Bagi masyarakat Jepang, privasi merupakan hak asasi yang sangat dijunjung tinggi dan dilindungi secara serius, bahkan hal ini ditegaskan dalam berbagai panduan keselamatan wisata oleh Japan National Tourism Organization (JNTO). Mengambil foto orang asing di jalan, pekerja kantoran, atau pejalan kaki secara close-up tanpa izin dapat dianggap sebagai pelanggaran privasi yang serius.

Bahkan, menurut regulasi industri telekomunikasi di Jepang yang dicatat oleh Ministry of Internal Affairs and Communications (MIC), seluruh ponsel pintar yang diproduksi maupun dijual di sana wajib mengeluarkan suara tiruan rana (shutter sound) yang tidak bisa diredam untuk mencegah tindakan voyeurism atau pengambilan foto diam-diam.

Jika kamu ingin menjadikan seseorang sebagai subjek utama dalam bidikan fotomu, etika dasarnya ialah meminta izin terlebih dahulu. Mengutip panduan etiket dari Kyoto City Official Travel Guide, wisatawan dianjurkan untuk meminta izin dengan kalimat sederhana seperti "sumimasen, shashin o totte mo ii desu ka?" (permisi, bolehkah saya mengambil foto?). Jika mereka menolak, kamu wajib menghormati keputusan tersebut dengan segera menurunkan kamera tanpa memaksa.

2. Larangan memotret Geisha dan Maiko di distrik Gion, Kyoto

ilustrasi geisha dengan pakaian tradisional dan kipas saat parade Tokyo (pexels.com/Iban Lopez Luna)

Menjumpai geisha (seniman penghibur tradisional Jepang yang mahir menari dan bermusik) atau maiko (gadis remaja yang sedang menjalani pelatihan untuk menjadi geisha) berjalan anggun di distrik bersejarah Gion, Kyoto merupakan salah satu pengalaman yang dinantikan wisatawan. Namun, perlu diingat bahwa mereka bukanlah objek wisata atau model yang bebas difoto kapan saja, melainkan seniman profesional yang sedang menjalankan aktivitasnya.

Pasalnya, tindakan sejumlah turis yang nekat mencegat, menarik kimono, hingga menghalangi jalan demi mendapatkan swafoto telah menimbulkan keresahan bagi warga lokal. Menanggapi hal tersebut, pemerintah setempat bersama warga distrik Gion memberlakukan larangan memotret di sejumlah gang privat yang ditandai dengan rambu peringatan resmi, sebagaimana tercantum dalam panduan Kyoto Travel Official Guide.

Wisatawan yang melanggar aturan tersebut bisa dikenakan sanksi denda, sehingga penting untuk kamu tetap menghormati privasi geisha dan maiko saat berkunjung ke Gion. Cukup nikmati keanggunan mereka secara langsung tanpa mencegat, mengganggu aktivitas, atau mengarahkan kamera secara sembarangan.

3. Batasan ketat di dalam area kuil suci

ilustrasi suasana di sekitar Kuil Senso-ji yang ada di Tokyo, Jepang (pexels.com/Andras Stefuca)

Kuil-kuil Shinto (Jinja) dan Budha (Otera) di Jepang menawarkan arsitektur sakral yang sangat fotogenik dan menenangkan jiwa. Meski demikian, area di dalam bangunan utama atau aula peribadatan (tempat dewa dan benda-benda sakral disemayamkan) umumnya melarang pengunjung sama sekali untuk mengambil foto atau video.

Aturan ini dibuat untuk menjaga kesucian tempat ibadah serta menghormati para jemaah yang sedang khusyuk berdoa. Sebelum memotret, pastikan kamu sudah memperhatikan papan pengumuman atau rambu larangan fotografi yang biasanya ditandai dengan tulisan atau gambar kamera dicoret (satsuei kinshi), sebagaimana dianjurkan dalam panduan wisata budaya dari Japan National Tourism Organization (JNTO).

Jika suatu area memperbolehkan pengambilan gambar dari luar bangunan, pastikan juga untuk mematikan lampu kilat (flash) dan hindari menggunakan tripod di ruang sempit yang padat pengunjung agar tidak mengganggu kesakralan maupun jalur ritual.

4. Etika mengambil foto di dalam toko, restoran, dan pasar

ilustrasi wisatawan berkunjung ke pasar tradisional di Jepang (pexels.com/Annelie Valera)

Saat menjelajahi pasar tradisional, toko suvenir unik, atau kafe estetik di Jepang, naluri fotografer kita pasti ingin langsung mengabadikannya. Padahal, mengambil foto barang dagangan, makanan, atau interior tempat usaha tanpa izin pemiliknya termasuk ke dalam bentuk pelanggaran etika.

Sebagian pemilik toko sangat menjaga kerahasiaan produk, tata letak interior, atau merasa terganggu jika aktivitas operasional mereka dijadikan konten tanpa konfirmasi. Langkah paling aman yang bisa kamu lakukan adalah melirik serta mencari stiker izin, atau bertanya kepada staf dengan ucapan "shashin ii desu ka?" (bolehkah saya mengambil foto?) sebelum mengangkat kamera.

Sebab di beberapa restoran populer, mengambil foto hidangan makanan milikmu sendiri (food photography) biasanya diperbolehkan, tetapi hindari merekam video yang secara tidak sengaja menyorot wajah koki atau pelanggan lain di meja sebelah, ya.

5. Aturan penggunaan tripod, tongkat selfie, dan drone di ruang publik

ilustrasi penggunaan tripod untuk memotret di Jepang (pexels.com/政億 林)

Beragam peralatan fotografi modern, seperti tripod, monopod, tongkat selfie, hingga drone terkadang menimbulkan dilema saat digunakan di ruang publik Jepang yang padat. Pada sejumlah stasiun kereta, taman nasional, jembatan populer, hingga area observasi, penggunaan tripod dan tongkat selfie dibatasi atau dilarang karena berisiko menyenggol pengunjung lain serta menghambat arus pejalan kaki.

Sementara itu, berdasarkan regulasi keselamatan penerbangan dari Ministry of Land, Infrastructure, Transport and Tourism Jepang, penerbangan drone di Jepang juga diatur secara ketat. Menerbangkannya di atas kawasan permukiman padat, tempat wisata ramai, atau kompleks kuil tanpa izin yang diperlukan dapat berujung pada sanksi hukum. Oleh karena itu selalu perhatikan aturan larangan penggunaan peralatan fotografi dan pastikan aktivitas memotretmu tidak mengganggu kenyamanan maupun keselamatan orang lain di sekitar.

Mematuhi aturan setempat bukan sekadar bentuk penghormatan, melainkan kunci utama agar liburanmu berjalan aman dan berkesan. Siapkan kameramu dengan bijak dan nikmati setiap keindahan Jepang tanpa meninggalkan rasa risih di hati warga sekitar, okay?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article