5 Kesalahan Camping di Gunung Jepang, Jangan Dianggap Sepele!

- Papan peringatan di Alpen Tateyama Kurobe menyoroti kesalahan camper Indonesia; jumlah mereka meningkat sejak 2024, sementara informasi video YouTube dinilai tidak akurat.
- Wisatawan wajib berkemah di zona resmi, menjaga ekosistem, memasak efisien, memilah serta membawa turun sampah agar tidak menarik satwa liar seperti beruang.
- Etika dan keselamatan mencakup menjaga ketenangan malam, mematuhi jam istirahat serta pendakian, dan membawa peta, headlamp, jas hujan, pakaian hangat, serta perlengkapan sesuai medan.
Beberapa waktu lalu sempat beredar foto di area pegunungan Alpen Tateyama Kurobe, Jepang yang menarik atensi warganet. Foto tersebut menunjukkan papan peringatan yang secara khusus ditujukan kepada wisatawan asal Indonesia dengan tulisan “To Indonesian campers” dan berisi teguran mengenai cara berkemah yang dianggap keliru. Unggahan tersebut beredar luas di media sosial dan memicu diskusi tentang bagaimana seharusnya wisatawan bersikap saat berkemah di Jepang.
Mereka juga menyebutkan bahwa jumlah camper asal Indonesia meningkat tajam sejak 2024, dan banyak pendaki serta staf gunung merasa kesal karena informasi yang beredar dari video YouTube dinilai tidak akurat. Jika perilaku negatif ini terus berlanjut, wisatawan berisiko dilarang masuk kawasan tersebut, bahkan dapat menghadapi bahaya nyata di lapangan. Oleh sebab itu, hindari lima kesalahan camping di gunung saat di Jepang berikut ini.
1. Sembarangan memilih lokasi camping

Raichozawa Campsite, Prefektur Toyama (commons.wikimedia.org/メルビル) Layaknya saat mendaki atau bermalam di gunung seperti di Indonesia yang telah ditentukan pos dan area camping tertentu, Jepang juga menerapkan aturan serupa. Sayangnya, banyak wisatawan Indonesia dilaporkan mendirikan tenda sembarangan tanpa memahami bahwa area pegunungan di Jepang punya zona camping yang telah ditentukan. Aturannya bisa lebih ketat, menyesuaikan dengan kondisi medan, cuaca, hingga jenis flora dan fauna liar yang hidup di sana.
Perlu diingat bahwa sebagian pegunungan di negara empat musim punya mountain hut sebagai tempat bermalam, terutama kawasan bertipe alpen seperti Tateyama Kurobe. Kawasan tersebut punya satu titik yang secara resmi diizinkan untuk mendirikan tenda, yakni Raichozawa Campsite di ketinggian 2.277 meter. Di luar area tersebut, wisatawan hanya bisa menginap di yama-goya (pondok gunung berbayar) di sepanjang jalur pendakian.
Wisatawan dilarang mendirikan tenda di area lain, terutama di kawasan konservasi tumbuhan alpen yang dilindungi tali pembatas. Aturan ini dibuat untuk menjaga ekosistem alpen yang rapuh. Sebenarnya, aturan tersebut tidak jauh berbeda dengan di negara tropis. Hanya saja, pondok gunung atau mountain hut telah menjadi bagian dari budaya pendakian alpen dan berperan penting saat cuaca buruk.
2. Tidak mengelola sampah dan sisa makanan dengan baik

ilustrasi sampah di dekat tenda (pexels.com/Евгений Шухман) Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jepang punya peraturan ketat tentang pengelolaan sampah dan sisa makanan, termasuk di gunung. Banyak camper meninggalkan sisa makanan, tidak memilah sampah, hingga melakukan barbeku dalam waktu yang terlalu lama. Kebiasaan tersebut dianggap sangat berisiko di kawasan pegunungan Jepang yang merupakan habitat satwa liar.
Sisa makanan dan sampah yang dibiarkan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat menarik perhatian beruang ke area perkemahan. Tindakannya yang sering disepelekan itu ternyata dapat membahayakan keselamatan pendaki. Oleh karena itu, pengelola kawasan sering kali menegaskan pentingnya memasak dengan cepat serta efisien, memilah sampah dan membawanya turun, bukan ditinggalkan begitu saja di lokasi camping.
3. Berisik hingga lewat tengah malam

ilustrasi aktivitas sekelompok orang camping pada malam hari (pexels.com/Arthur Ogleznev) Gunung memang alam terbuka yang membuat wisatawan lebih leluasa melakukan sejumlah aktivitas seru untuk menghibur diri. Tidak jarang orang bernyanyi, menari, dan membuat keramaian hingga lupa waktu. Aktivitas tersebut menjadi salah satu kebiasaan yang dikeluhkan pihak pengelola gunung.
Budaya berkemah di Jepang menekankan ketenangan sebagai bagian dari etika dasar di alam terbuka, berbeda dengan suasana riuh yang biasa dijumpai di Indonesia. Suasana gunung yang seharusnya tenang justru terganggu oleh kebisingan hingga lewat tengah malam. Tindakan tersebut dianggap tidak menghormati pendaki lain yang membutuhkan istirahat sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.
4. Tidak disiplin dengan jam pendakian yang diizinkan

ilustrasi mendaki malam hari (pexels.com/Amel Uzunovic) Sebagian wisatawan mengabaikan jam istirahat yang berlaku di kawasan pegunungan Jepang. Aturan setempat menetapkan pukul 21.00 sebagai waktu untuk beristirahat, sementara pendakian disarankan mulai sejak matahari terbit. Waktu pendakian dapat berbeda dari satu area pegunungan dengan yang lain.
Peraturan waktu diberlakukan demi keselamatan para pendaki. Memulai perjalanan saat pagi hari akan memberi waktu lebih banyak untuk mencapai tujuan dan turun sebelum hari gelap atau cuaca buruk. Oleh sebab itu, mengikuti peraturan jam istirahat di gunung bukan sekadar etika, tetapi juga membantu menjaga keselamatan.
5. Perlengkapan tidak sesuai karakteristik medan

ilustrasi packing untuk camping (pexels.com/Timur Weber) Kesalahan berikutnya adalah tidak membawa perlengkapan yang memadai untuk karakteristik tempat yang dituju. Meski wisatawan merupakan pendaki berpengalaman, karakteristik setiap gunung dapat berbeda. Hal ini terutama berlaku saat mendaki pegunungan alpen yang tidak ada di Indonesia.
Sejumlah camper tercatat tidak membawa perlengkapan penting seperti peta, headlamp, jas hujan, dan pakaian hangat. Kebiasaan tersebut mungkin masih bisa ditoleransi saat camping di gunung daerah tropis, tetapi dapat berisiko fatal di pegunungan Jepang. Suhu bisa jauh lebih dingin, sementara ketika panas, udara dapat terasa lebih kering dan menyengat dibanding daerah tropis.
Cuaca di daerah empat musim dapat berubah drastis dalam hitungan jam, dari cerah menjadi hujan lebat atau bahkan bersalju. Pakaian dan alas kaki yang dipakai saat mendaki gunung di daerah tropis belum tentu dapat melindungi tubuh dari suhu ekstrem di sana. Makanya, pastikan membawa perlengkapan yang sesuai dengan karakteristik tempat untuk camping maupun mendaki.
Sejumlah kesalahan tersebut sebaiknya dihindari saat berencana camping di gunung yang berada di Jepang. Selain mengganggu kenyamanan pendaki maupun camper lain dan lingkungan sekitar, melanggar aturan juga bisa membahayakan diri sendiri. Pastikan kamu memahami aturan di kawasan yang dituju, ya!
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





![[QUIZ] Aktivitas Malammu saat Staycation Bisa Ungkap Kepribadian Kamu Lho!](https://image.idntimes.com/post/20241210/woman-4373078-1280-a9b86914ba33fca85ab078094226c771-d80c5fb2a95403fdc5805bed6e934efa.jpg)
![[QUIZ] Tebak Wisata Surabaya dari Potongan Gambarnya!](https://image.idntimes.com/post/20250528/kota-lama-surabaya-ede7f88f47b194ddbad605f674c56773.jpg)

![[QUIZ] Destinasi Honeymoon 2026 yang Cocok buat Kamu dan Pasangan](https://image.idntimes.com/post/20250205/pexels-asadphoto-3601456-aa9fadc5275967334006c45e77701175-af09bdeaab1edf922da0af86b0428f88.jpg)


![[QUIZ] Kamu Cocoknya Liburan ke Eropa atau Asia?](https://image.idntimes.com/post/20250717/upload_597959e172843936ff6c46487250c3e9_755a8a40-70ed-44c7-b99c-80f45f8971a0.jpg)










![[QUIZ] Temukan Spot Melihat Bunga Tabebuya Terbaik untukmu!](https://image.idntimes.com/post/20231227/tabebuya-2-6cf3cf4a173860e343784bd8d387dde2-8e9f7689cf3988180a9ad43ad724817a.jpg)