Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Etika Mengambil Air di Sumber Air Pendakian, Jangan Ngasal!

ilustrasi pendaki di sumber air pendakian
ilustrasi pendaki di sumber air pendakian (unsplash.com/Kieran Osborn)

Naik gunung sering dianggap sebagai pelarian paling jujur dari hiruk pikuk kota. Udara yang lebih bersih, suara alam, dan jalur yang menantang bikin banyak orang merasa lebih hidup. Tapi di balik semua itu, ada tanggung jawab besar yang sering luput dari perhatian pendaki, terutama soal cara bersikap terhadap alam. Salah satunya adalah bagaimana kamu memperlakukan sumber air di jalur pendakian.

Sumber air di gunung bukan cuma tempat isi botol atau masak mie instan, tapi urat nadi kehidupan bagi banyak makhluk. Kesalahan kecil seperti mengambil air terlalu dekat dari area kotor atau meninggalkan sampah bisa berdampak panjang. Karena itu, memahami etika mengambil air di sumber air pendakian penting banget, bukan cuma demi keselamatan diri sendiri, tapi juga demi pendaki lain dan kelestarian alam itu sendiri.

1. Jauh dari pencemaran

ilustrasi pendaki di sumber air pendakian
ilustrasi pendaki di sumber air pendakian (unsplash.com/Stefano Bucciarelli)

Saat mengambil air di gunung, pastikan sumber air yang kamu gunakan berasal dari aliran yang bersih dan mengalir. Hindari mengambil air di area yang dekat dengan tempat buang air, area tenda, maupun jalur pendakian utama.

Idealnya, jarak aman dari sumber pencemaran adalah sekitar 50–70 meter. Kenapa? Karena bakteri dan kotoran bisa dengan mudah meresap ke tanah dan mencemari aliran air. Air yang terlihat jernih belum tentu aman kalau lokasinya terlalu dekat dengan aktivitas manusia.

Dengan memilih sumber air yang benar, kamu gak cuma menjaga kesehatan diri sendiri, tapi juga melindungi pendaki lain yang akan menggunakan sumber air yang sama.

2. Gunakan dengan bijak

ilustrasi botol air
ilustrasi botol air (unsplash.com/Kate Joie)

Sumber air di gunung bukanlah sumber tak terbatas. Saat musim kemarau, debit air bisa sangat kecil dan rawan kering. Karena itu, ambillah air secukupnya saja sesuai kebutuhan.

Hindari kebiasaan menimbun air berlebihan hanya karena takut kehabisan. Ingat, kamu gak sendirian di jalur pendakian. Masih ada pendaki lain di belakangmu yang juga membutuhkan air untuk minum, masak, atau keperluan darurat. Mengambil air dengan bijak adalah bentuk empati sederhana yang dampaknya besar.

3. Jaga kebersihan area

ilustrasi pendaki di sumber air pendakian
ilustrasi pendaki di sumber air pendakian (pexels.com/Iryna Skavronska)

Ini poin yang sering diabaikan, tapi dampaknya paling fatal. Jangan pernah mencuci peralatan makan langsung di sumber air, apalagi menggunakan sabun atau deterjen. Sisa makanan dan bahan kimia bisa mencemari air dan merusak ekosistem.

Selain itu, jangan buang sampah apa pun di sekitar sumber air, termasuk tisu basah atau puntung rokok. Semua sampah wajib kamu bawa turun kembali. Prinsipnya sederhana: apa pun yang kamu bawa naik, harus kamu bawa turun. Sumber air yang bersih adalah tanggung jawab bersama, bukan tugas satu dua orang saja.

4. Hormati pendaki lain

ilustrasi pendaki di sumber air pendakian
ilustrasi pendaki di sumber air pendakian (pexels.com/Maël BALLAND)

Saat antre mengambil air, bersikaplah santun. Jangan menghalangi aliran air atau jalur pendakian terlalu lama. Kalau perlu minum atau istirahat, geser sedikit ke pinggir jalur atau jongkok di tempat yang tidak mengganggu.

Gunakan waktu seefisien mungkin, terutama jika pendaki sedang ramai. Sikap kecil seperti ini bisa menciptakan suasana pendakian yang lebih nyaman dan saling menghargai. Gunung itu ruang bersama, jadi etika sosial tetap berlaku meski kamu sedang di alam bebas.

5. Jangan ganggu habitat

ilustrasi pendaki sedang minum
ilustrasi pendaki sedang minum (pexels.com/Katya Wolf)

Sumber air di gunung bukan cuma milik manusia. Satwa liar seperti burung, serangga, atau mamalia kecil juga bergantung pada air tersebut. Hindari mengotori, mengeruk, atau mengubah aliran air demi kenyamanan pribadi.

Kalau kamu melihat satwa sedang minum, tunggu dengan jarak aman. Jangan mengusir atau mengganggunya hanya karena kamu ingin cepat-cepat mengambil air. Menjaga keseimbangan alam adalah bagian dari etika mendaki yang sering terlupakan.

6. Bawa perlengkapan

ilustrasi botol air
ilustrasi botol air (unsplash.com/Bluewater Sweden)

Etika mengambil air di sumber air pendakian juga dimulai dari persiapan. Pastikan kamu membawa wadah air yang memadai, seperti botol atau jeriken lipat agar gak perlu bolak-balik terlalu sering.

Selain itu, selalu sediakan kantong sampah khusus untuk limbah pribadi. Dengan perlengkapan yang lengkap, kamu bisa mengambil air dengan lebih rapi, cepat, dan minim dampak negatif bagi lingkungan sekitar.

Menjadi pendaki yang baik bukan soal seberapa sering kamu naik gunung, tapi bagaimana sikapmu selama di sana. Dengan memahami dan menerapkan etika mengambil air di sumber air pendakian, kamu ikut menjaga alam tetap lestari dan pengalaman mendaki tetap menyenangkan untuk semua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Travel

See More

5 Aktivitas Liburan Imlek di Bali, Wisata Budaya hingga Kuliner

01 Feb 2026, 17:45 WIBTravel