Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa yang Harus Dilakukan saat Teman Mendaki Terluka?
ilustrasi terluka saat mendaki (pexels.com/Kamaji Ogino)
  • Hentikan perjalanan di lokasi aman, cek kesadaran dan kemampuan gerak korban, lalu jangan paksa berdiri atau berjalan bila ada tanda cedera serius.
  • Tangani luka dengan P3K sesuai jenisnya: bersihkan dan tutup luka, tekan perdarahan, serta hindari menggerakkan bagian terkilir atau anggota tubuh yang tampak tidak normal.
  • Hubungi petugas dengan lokasi dan kondisi korban yang jelas, dampingi sambil menjaga tubuhnya hangat, dan jangan tinggalkan atau memindahkan korban tanpa pengetahuan memadai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Cedera saat mendaki gunung bisa terjadi, bahkan ketika semua anggota rombongan sudah membawa perlengkapan yang lengkap. Jalur berbatu, akar pohon, tanjakan curam, tanah licin, atau kelelahan dapat membuat pendaki terjatuh dan mengalami luka, terkilir, hingga kesulitan berjalan. Situasi seperti ini menjadi lebih rumit karena pertolongan harus dilakukan di medan yang jauh dari fasilitas kesehatan.

Karena itu, teman satu rombongan perlu tahu apa yang harus dilakukan ketika salah satu pendaki mengalami cedera. Jangan langsung memaksa korban untuk berdiri atau melanjutkan perjalanan, karena keputusan yang terburu-buru justru dapat memperparah kondisi.

Lantas, apa yang harus dilakukan jika ada teman mendaki yang terluka? Supaya gak bingung, ini beberapa panduan yang bisa kamu ikuti.

1. Hentikan perjalanan dan cek kondisi teman

ilustrasi mendaki gunung (pexels.com/Kamaji Ogino)

Begitu teman terjatuh atau mengeluh kesakitan, hentikan rombongan terlebih dahulu dan pastikan lokasi berhenti cukup aman dari batu jatuh, tebing, jalur longsor, atau lalu lintas pendaki. Tanyakan kondisi korban dan perhatikan apakah masih sadar, berbicara dengan jelas, serta mampu menggerakkan tangan dan kaki. Jangan langsung menarik atau mengangkat tubuhnya sebelum mengetahui bagian mana yang mengalami cedera.

Jika korban mengalami benturan kepala, kehilangan kesadaran, kebingungan, muntah berulang, sesak napas, perdarahan hebat, atau nyeri yang sangat kuat, kondisi tersebut perlu dianggap serius. Korban sebaiknya tidak dipaksa berjalan hanya karena rombongan ingin segera sampai di pos berikutnya. Prioritas pertama adalah memastikan kondisi tidak semakin buruk sambil menyiapkan pertolongan.

2. Tangani luka sesuai jenis cederanya

ilustrasi luka (pexels.com/RDNE Stock project)

Luka kecil seperti lecet atau goresan dapat dibersihkan dengan air bersih dan ditutup menggunakan kasa atau perban dari kotak P3K. Jika terjadi perdarahan, tekan bagian yang terluka menggunakan kasa atau kain bersih secara terus-menerus hingga perdarahan berkurang. Jangan menggunakan tanah, daun, atau bahan lain dari sekitar jalur untuk menutup luka.

Untuk cedera seperti terkilir, bagian tubuh yang sakit sebaiknya tidak dipaksa bergerak atau digunakan untuk berjalan. Jika tersedia, kompres dingin dapat digunakan dengan membungkus sumber dingin menggunakan kain agar tidak langsung mengenai kulit. Cedera dengan bentuk anggota tubuh yang tidak normal, nyeri berat, atau ketidakmampuan menggunakan tangan maupun kaki membutuhkan penanganan lebih lanjut dan tidak sebaiknya dianggap sebagai keseleo biasa.

3. Jangan memaksakan teman turun sendiri

ilustrasi turun gunung (pexels.com/Adrià Masi)

Keinginan untuk segera turun sering membuat rombongan mengambil keputusan dengan terburu-buru. Padahal, kemampuan berjalan setelah cedera tidak otomatis berarti kondisi tersebut aman untuk digunakan menuruni gunung. Cedera pada kaki, misalnya, dapat bertambah parah ketika terus menerima beban tubuh, terutama di jalur dengan batu, pasir, atau kemiringan tinggi.

Jika korban masih mampu berjalan dengan aman, pendampingan dapat dilakukan secara perlahan sambil mengevaluasi kondisinya. Namun, apabila tidak mampu berjalan, mengalami cedera serius, atau kondisinya memburuk, rombongan perlu mencari bantuan dari pengelola jalur, petugas, atau tim penyelamat setempat. Jangan membuat tandu darurat atau menggendong korban tanpa pengetahuan yang cukup karena pemindahan yang salah bisa memperburuk cedera.

4. Hubungi petugas dan sampaikan lokasi dengan jelas

ilustrasi menghubungi petugas (pexels.com/Heber Vazquez)

Ketika cedera tidak memungkinkan korban melanjutkan perjalanan, segera cari bantuan dari pihak yang bertanggung jawab atas jalur pendakian. Sampaikan informasi sejelas mungkin, seperti nama jalur atau pos terdekat, jumlah korban, jenis cedera, kondisi kesadaran, dan apakah korban masih bisa berjalan. Informasi tersebut membantu petugas menentukan bentuk pertolongan yang diperlukan.

Jika sinyal telepon tersedia, gunakan untuk menghubungi pengelola kawasan atau layanan darurat yang berlaku di lokasi pendakian. Apabila tidak ada sinyal, beberapa anggota rombongan dapat mencari bantuan dan tetap memberikan pendampingan kepada korban. Sebaiknya jangan meninggalkan korban sendirian, terutama jika cuaca memburuk atau cedera yang dialami cukup berat.

5. Jaga korban tetap hangat sambil menunggu bantuan

ilustrasi terluka saat mendaki (pexels.com/Roman Apaza)

Korban cedera yang harus berhenti cukup lama dapat kehilangan panas tubuh, terutama jika berada di tempat terbuka, malam hari, atau kawasan dengan suhu rendah. Gunakan jaket, emergency blanket, jas hujan, atau perlengkapan lain untuk membantu menjaga tubuh tetap hangat dan kering. Pindahkan korban dari angin atau hujan jika hal tersebut dapat dilakukan tanpa memperparah cedera.

Selama menunggu bantuan, terus perhatikan perubahan kondisi korban, termasuk kesadaran, pernapasan, rasa sakit, dan perdarahan. Jangan memberikan makanan atau minuman jika korban mengalami penurunan kesadaran atau kemungkinan membutuhkan tindakan medis segera. Tetap tenang juga penting karena kepanikan dapat membuat rombongan mengambil keputusan yang justru menyulitkan proses evakuasi.

Cedera di gunung bukan situasi yang tepat untuk membuktikan kemampuan atau mengejar target untuk sampai di puncak. Ketika kondisi teman sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, keputusan untuk berhenti dan meminta bantuan justru menjadi bagian penting dari keselamatan pendakian. Kalau teman satu rombongan mengalami cedera saat berada di jalur, langkah pertama apa yang akan kamu lakukan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article