Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kunjungan Wisatawan ke GWK Bali Anjlok Imbas Tiket Pesawat Mahal

Kunjungan Wisatawan ke GWK Bali Anjlok Imbas Tiket Pesawat Mahal
Patung GWK, Bali, Indonesia (unsplash.com/Ayadi Ghaith)
  • Rata-rata kunjungan GWK hingga Juli 2026 mencapai 3.000 orang per hari, turun sekitar 20 persen dibanding periode sama 2025, meski akhir Juni-Juli sempat naik menjadi 3.500-4.000 orang.
  • Kenaikan harga tiket pesawat menekan arus wisatawan domestik ke Bali dan turut mengurangi kunjungan GWK; pasar domestik tetap menjadi pengunjung terbesar, sementara turis asing berasal dari Australia, India, Korea, dan China.
  • GWK menggandeng sekolah-sekolah di Bali melalui tarif khusus dan kunjungan gratis terbatas bagi SD; jadwal telah penuh hingga Oktober. Agustus 2026 ditargetkan 3.000-3.500 pengunjung harian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Liburan ke Bali masih menjadi pilihan banyak orang. Namun, mahalnya tiket pesawat ternyata ikut memengaruhi jumlah wisatawan yang datang. Kondisi tersebut juga terasa di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, salah satu destinasi populer di Bali.

Pada paruh pertama hingga Juli 2026, jumlah pengunjung GWK rata-rata berada pada kisaran 3.000 orang per hari. Angka tersebut turun sekitar 20 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025.

Penurunan terutama terjadi pada wisatawan domestik yang selama ini menjadi kelompok pengunjung terbesar di GWK. Lantas, seperti apa kondisi GWK dan strategi pengelola untuk menjaga jumlah wisatawan tetap stabil?

  1. 1. Jumlah pengunjung GWK turun sekitar 20 persen

    ilustrasi tari kecak di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali
    ilustrasi tari kecak di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali (pexels.com/Faishal Zaky)

    Sepanjang paruh pertama hingga Juli 2026, GWK mencatat rata-rata sekitar 3.000 pengunjung setiap hari. Angka ini menunjukkan adanya penurunan sekitar 20 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025.

    Menurut Direktur Operasional GWK Cultural Park, Ch. Rossie Andriani, penurunan tersebut memang terjadi, meski menurutnya skalanya belum terlalu besar. Kondisi ini terutama terlihat dari berkurangnya wisatawan domestik yang datang ke kawasan GWK.

    Meski rata-rata pengunjung berada di angka 3.000 orang per hari, jumlahnya sempat mengalami kenaikan pada akhir Juni dan Juli. Pada periode tersebut, GWK bisa menerima sekitar 3.500-4.000 wisatawan per hari. Lonjakan tersebut menunjukkan minat berkunjung sebenarnya masih ada, terutama ketika memasuki periode liburan. Namun, secara keseluruhan, jumlah kunjungan tetap lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

  2. 2. Tiket pesawat mahal ikut menekan wisatawan domestik

    ilustrasi maskapai penerbangan Garuda Indonesia
    ilustrasi maskapai penerbangan Garuda Indonesia (unsplash.com/Pupu Nugroho)

    Mahalnya tiket pesawat menjadi salah satu faktor yang diyakini ikut memengaruhi turunnya kunjungan ke Bali. Rossie Andriani menjelaskan bahwa kenaikan harga tiket pesawat berdampak pada arus wisatawan ke Bali. Kondisi tersebut kemudian turut berpengaruh terhadap jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke GWK. Jadi, ketika biaya perjalanan ke Bali menjadi lebih mahal, pengeluaran untuk menikmati destinasi wisata juga bisa ikut dipertimbangkan kembali.

    Buat kamu yang tinggal di luar Bali, harga tiket pesawat tentu menjadi bagian penting dari anggaran liburan. Ketika harga penerbangan meningkat, wisatawan bisa saja menunda perjalanan atau memilih destinasi lain yang lebih terjangkau. Situasi seperti ini akhirnya tidak hanya berdampak pada maskapai atau sektor penerbangan, tetapi juga pada destinasi wisata di Bali. GWK menjadi salah satu tempat yang turut merasakan perubahan arus wisatawan tersebut.

  3. 3. Wisatawan domestik masih jadi pengunjung utama

    ilustrasi pertunjukkan seni dan budaya Bali
    ilustrasi pertunjukkan seni dan budaya Bali (pexels.com/Faishal Zaky)

    Walaupun jumlah kunjungan menurun, wisatawan domestik tetap menjadi kelompok pengunjung terbesar di GWK. Kondisi ini membuat pasar dalam negeri menjadi sangat penting bagi keberlangsungan jumlah kunjungan ke kawasan tersebut. Sementara itu, wisatawan mancanegara yang datang ke GWK kebanyakan berasal dari Australia, India, Korea, dan China. Artinya, GWK tetap memiliki pasar internasional meski wisatawan lokal masih memegang peranan utama.

    Ketergantungan pada wisatawan domestik juga membuat harga tiket pesawat menjadi perhatian bagi pengelola. Jika perjalanan menuju Bali terasa semakin mahal, jumlah wisatawan lokal berpotensi ikut tertekan. Karena itu, GWK perlu mencari cara agar masyarakat Bali maupun wisatawan dari daerah lain tetap tertarik untuk datang. Strategi tersebut menjadi semakin penting ketika kondisi pasar wisata domestik belum sepenuhnya stabil.

  4. 4. GWK menggandeng sekolah untuk menjaga jumlah pengunjung

    ilustrasi anak sekolah, SD, Bali, Indonesia
    ilustrasi anak sekolah, SD, Bali, Indonesia (pexels.com/Federico Tomasoni)

    Untuk mempertahankan jumlah wisatawan, GWK mulai menjalankan strategi yang menyasar masyarakat lokal, termasuk mengajak sekolah-sekolah di Bali untuk berkunjung. Program tersebut terbuka bagi sekolah mulai dari tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga sekolah menengah. Tujuannya bukan hanya menjaga jumlah kunjungan, tetapi juga memperkenalkan GWK kepada generasi muda Bali. Langkah ini menyasar siswa yang belum pernah mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke GWK Cultural Park.

    Pengelola juga menawarkan harga khusus bagi sekolah di Bali melalui program tersebut. Bahkan, sekolah dasar bisa mendapatkan kesempatan kunjungan secara gratis selama masih tersedia slot rombongan. Respons terhadap program ini disebut cukup positif dan jadwal kunjungan bahkan sudah penuh hingga Oktober. GWK berharap program tersebut bisa menarik pengunjung dari berbagai wilayah Bali, bukan hanya masyarakat yang tinggal di kawasan Bali Selatan.

  5. 5. GWK menargetkan 3.000—3.500 pengunjung per hari

    ilustrasi Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali, Indonesia
    ilustrasi Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali, Indonesia (pexels.com/Tom Fisk)

    Memasuki Agustus 2026, pengelola GWK memperkirakan jumlah pengunjung harian berada di kisaran 3.000-3.500 orang. Target tersebut menunjukkan bahwa GWK tidak memasang proyeksi yang terlalu jauh dari kondisi kunjungan saat ini. Fokus utamanya adalah menjaga agar jumlah wisatawan tetap berada pada level tersebut meski harga tiket pesawat masih menjadi perhatian. Dengan begitu, penurunan kunjungan diharapkan tidak semakin dalam.

    Buat kamu yang berencana berlibur ke Bali, kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata masih menghadapi tantangan dari sisi biaya perjalanan. Harga tiket pesawat bisa memengaruhi keputusan wisatawan bahkan sebelum mereka menentukan destinasi yang ingin dikunjungi.

    Di sisi lain, strategi seperti program kunjungan sekolah memperlihatkan upaya GWK untuk mengandalkan pasar lokal sebagai penopang kunjungan. Ke depan, keberhasilan strategi tersebut akan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga jumlah wisatawan tetap stabil.

    Penurunan jumlah pengunjung GWK sekitar 20 persen menunjukkan bahwa mahalnya tiket pesawat dapat memberikan efek berantai terhadap destinasi wisata. Wisatawan domestik yang menjadi kelompok pengunjung terbesar ikut berkurang ketika biaya perjalanan menuju Bali meningkat. Meski begitu, GWK masih berupaya mempertahankan jumlah kunjungan melalui berbagai strategi, termasuk program khusus untuk sekolah di Bali. Dengan target 3.000-3.500 pengunjung per hari pada Agustus 2026, pengelola berharap kondisi kunjungan tetap stabil di tengah tantangan pariwisata domestik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More