Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Banyak Gunung Kebakaran, Pahami 7 Tips Aman Pendakian Ini!
Potret orang mendaki saat musim kemarau (magnific.com/alexeyzhilkin)

Musim kemarau di Indonesia sering kali dipilih untuk melakukan aktivitas di luar ruangan, termasuk mendaki gunung. Cuaca cerah, udara yang segar, dan pemandangan menawan selama musim kemarau menjadi alasan utama kenapa mendaki gunung jadi lebih menarik.

Selain itu, mendaki gunung saat musim kemarau relatif lebih aman, karena terhindar dari potensi hujan deras, terpeleset karena licin, atau bahkan longsor. Di sisi lain, terdapat ancaman serius berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi risiko kebakaran hutan dan lahan akan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Bulan September 2026 juga bertepatan dengan puncak fenomena El Nino tahun ini. Dampaknya menyebabkan sejumlah gunung mengalami karhutla, salah satunya di kawasan Gunung Arjuno-Welirang.

Ternyata, pola serupa berulang di beberapa gunung yang populer di kalangan pendaki, seperti Gunung Lawu, Gunung Merbabu, dan Gunung Rinjani. Alhasil, jalur pendakian pun ditutup mendadak, karena adanya titik api di kawasan hutan lereng gunung.

Jika kamu tetap berencana mendaki di tengah situasi ini, berikut ini beberapa tips aman pendakian yang bisa dilakukan. Tips-tips di bawah ini juga berguna jika kamu terlanjur mendaki gunung atau baru tiba di lokasi dan baru mendapatkan kabar kebakaran.

1. Cek status jalur dan pilih destinasi yang lebih aman

Rencana pendakian yang matang begitu penting, kamu bisa memulainya dengan mengecek kondisi status jalur pendakian. Bila perlu, hubungi langsung pihak pengelola taman nasional atau instansi setempat yang bertanggung jawab untuk mendapatkan informasi terkini. Usahakan untuk memilih gunung dengan mempertimbangkan rekam jejak kebakarannya beberapa tahun terakhir.

Penutupan jalur pendakian akibat karhutla biasanya berlaku tanpa batas waktu pasti dan baru dibuka kembali setelah kondisi dinyatakan benar-benar aman. Selain itu, kondisi alam bisa mengubah situasi lebih cepat dari yang kamu kira.

Ada kemungkinan informasi yang kamu peroleh sehari sebelum berangkat berubah begitu sampai di lokasi, seperti semalam masih aman, tetapi keesokan harinya jalur pendakian ditutup karena adanya titik api. Jadi, selalu cek dan pantau informasi terkininya, ya!

2. Pantau titik panas dan kualitas udara

Potret orang memantau titik panas menggunakan HP (magnific.com/magnific)

Selain memastikan status jalur pendakian, kamu juga perlu memantau peta titik panas (hotspot) dan indeks kualitas udara di sekitarnya. Beberapa platform yang bisa digunakan antara lain Google Maps, SiPongi+, dan BMKG punya fitur layer “Wildfires” dan “Air Quality” yang menampilkan lokasi api aktif, sekaligus tingkat polusi asap secara real-time. Kamu juga bisa menggunakan aplikasi seperti Gaia GPS yang memiliki fitur serupa dan membantu merencanakan jalur di alam terbuka.

Meskipun titik apinya jauh, tetapi asap yang terlalu tebal bisa berbahaya, tergantung arah angin. Asap tersebut dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu kesehatan, meski kamu tidak berada persis di lokasi kebakaran. Jika jalur yang akan kamu lalui ternyata diselimuti asap tebal, lebih baik cari alternatif lainnya.

3. Daftar lewat jalur resmi dan siapkan rencana cadangan

Kini sudah banyak gunung yang menerapkan registrasi online untuk membantu petugas mengetahui jumlah dan sebaran pendaki sesuai jalurnya. Prosedur tersebut juga membantu proses evakuasi lebih cepat dan terarah kalau dalam kondisi darurat. Sejumlah taman nasional pun menyediakan mekanisme reschedule otomatis lewat aplikasi atau WhatsApp resmi jika terjadi penutupan jalur secara mendadak.

Selain mendaftar lewat jalur resmi, kamu juga harus menyiapkan rencana cadangan. Sebab, kondisi bisa berubah dalam hitungan hari saat puncak musim kemarau. Kalau gunung incaranmu ternyata berstatus siaga kebakaran, tidak perlu ragu mengubah rencana ke tujuan pendakian lain untuk alasan keselamatan.

4. Bawa alat komunikasi darurat dan masker

Potret orang menggunakan HT untuk komunikasi (magnific.com/cookie_studio)

Alat komunikasi darurat penting saat keterbatasan sinyal seluler yang kerap hilang total di gunung, apalagi di dekat puncak. Jika memungkinkan, kamu bisa membawa alat komunikasi satelit seperti handy talky (HT) yang satu frekuensi dengan pengelola taman nasional, tim SAR, BPBD, maupun kontak darurat terdekat. Biasanya mereka akan mempublikasikannya melalui media sosial atau situs resminya.

Pilihan lain, setidaknya bawalah powerbank dengan daya yang cukup dan menyimpan nomor kontak basecamp serta call center taman nasional sebelum mulai mendaki. Jangan lupa untuk memberi tahu orang terdekat terkait rencana jalur dan jadwal kembali. Tujuannya supaya mereka bisa segera menghubungi tim SAR kalau kamu tidak kembali sesuai jadwal.

Tak hanya itu, siapkan masker yang efektif penyaring partikel asap, terutama kalau kamu rentan terhadap gangguan pernapasan. Kamu juga bisa menggunakan buff dan kacamata untuk melindungi dari paparan debu. Penting juga membawa obat-obatan dasar, perban, dan antiseptik yang dapat digunakan dalam kondisi darurat selama pendakian.

5. Hindari sumber api sekecil apa pun

Kamu perlu berhati-hati saat beraktivitas selama pendakian. Hindari menggunakan kompor portabel tanpa alas tahan api dan membuang puntung rokok, serta pastikan bara api unggun benar-benar padam sebelum ditinggalkan. Kondisi vegetasi yang mengering pada musim kemarau panjang membuat percikan kecil bisa menyulut kebakaran dalam hitungan menit.

Mayoritas kasus kebakaran hutan selama ini dipicu kelalaian manusia, bukan faktor alam semata. Selain itu, kamu tetap harus waspada saat memasak dengan kompor canister. Sebaiknya siapkan air di dekatnya untuk mengantisipasi kalau kompor terguling atau bermasalah di tengah perjalanan.

6. Kenali tanda bahaya dan arah evakuasi

Potret asap di pegunungan (pixabay.com/MikeGoad)

Kamu boleh menikmati keindahan alam saat mendaki, tetapi harus tetap waspada. Jika mendapati asap tebal, bau terbakar, atau udara tiba-tiba terasa panas dapat menjadi tanda adanya kebakaran. Daripada memaksakan melanjutkan perjalanan, sebaiknya kamu segera turun.

Perlu diketahui, warna asap dapat menjadi petunjuk. Asap putih biasanya dari kebakaran yang cepat dengan bahan ringan seperti rerumputan. Sementara itu, asap gelap menandakan api membakar semak atau pepohonan yang lebih besar dan berpotensi menyebar lebih jauh lewat bara yang terbawa angin.

Jika melihat kolom asap membesar, segeralah menjauh. Cek pula dari arah mana kolom itu condong untuk mengetahui arah pergerakan api dan usahakan bergerak ke arah yang berlawanan. Ingat, api merambat lebih cepat ke arah atas bukit. Jika memungkinkan, bergeraklah turun ke area terbuka dengan sedikit vegetasi atau dekat sumber air.

7. Ikuti arahan petugas dan jangan memaksakan diri

Jalur pendakian mendadak ditutup saat kamu sudah di atas gunung? Usahakan untuk tenang dan mengikuti instruksi dari petugas saat proses evakuasi. Hindari memaksakan diri untuk tetap mengejar puncak, karena dapat memperburuk keadaan.

Ada kalanya keputusan konservatif lebih baik untuk keselamatan, jika ragu dengan kondisi di depan, pilihannya adalah putar balik. Hal ini dapat mengurangi rasa waswas saat menghadapi ancaman kebakaran. Kamu juga tidak perlu memaksakan diri dalam situasi yang berisiko buruk.

Musim kemarau panjang dan puncak El Nino menjadi kombinasi berbahaya yang dapat memicu kebakaran di berbagai jalur pendakian di Indonesia. Kamu tetap bisa menikmati keindahan gunung saat kemarau dengan menerapkan sejumlah tips aman pendakian tersebut. Tetap waspada dan persiapkan pendakianmu dengan matang, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article