Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Bandara Tutup saat Erupsi Gunung? Ini Bahaya Abu buat Pesawat!

Kenapa Bandara Tutup saat Erupsi Gunung? Ini Bahaya Abu buat Pesawat!
Turbin pesawat di Bandara Soetta ditutup hindari abu vulkanik (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Share Article

Saat terjadi erupsi gunung berapi hingga abu vulkanik menyembur tinggi, kabar penutupan sejumlah bandara di wilayah terdampak sering kali langsung menyusul. Banyak calon penumpang pesawat yang harus memutar otak karena penerbangan mereka harus ditunda atau dibatalkan tanpa bisa berbuat banyak. Padahal, keputusan menutup bandara bukanlah tindakan berlebihan dari otoritas penerbangan.

Ada alasan ilmiah yang kuat mengapa abu vulkanik dianggap sebagai ancaman serius bagi pesawat terbang. Ancaman ini bukan sekadar masalah jarak pandang, melainkan juga risiko kerusakan fatal pada sistem pesawat. Mari kita bedah tiga bahaya utama abu vulkanik yang membuat bandara terpaksa ditutup!

  1. 1. Abu vulkanik bisa melelehkan komponen mesin jet saat terbakar

    ilustrasi pesawat take off (pexels.com/Oleksandr Pidvalnyi)
    ilustrasi pesawat take off (pexels.com/Oleksandr Pidvalnyi)

    Mesin pesawat modern beroperasi pada suhu pembakaran yang sangat tinggi, mencapai lebih dari 1000 derajat Celsius. Mengutip Channel News Asia, abu vulkanik yang terisap ke dalam mesin mengandung mineral silika dengan titik leleh lebih rendah dari suhu mesin. Mineral ini mencair dan membentuk lapisan kaca pada bilah-bilah turbin yang berputar cepat.

    Lapisan kaca yang menempel mengganggu aliran udara di dalam mesin. Akibatnya, mesin kehilangan daya dorong dan bisa mati total tanpa peringatan. Fenomena ini pernah terjadi pada beberapa insiden penerbangan yang nyaris fatal di masa lalu.

  2. 2. Debu vulkanik menyumbat sensor kecepatan dan mengganggu pandangan pilot

    pesawat melintasi pegunungan (magnific.com/mdsnmdsnmdsn)
    pesawat melintasi pegunungan (magnific.com/mdsnmdsnmdsn)

    Sensor pitot tube di bagian luar pesawat berfungsi mengukur kecepatan udara. Masih menurut Channel News Asia, partikel abu yang halus bisa masuk ke dalam sensor ini dan menyumbatnya. Data kecepatan yang salah akan muncul di layar kokpit dan membingungkan pilot.

    Selain sensor, kaca depan kokpit juga terancam tergores oleh partikel tajam. Goresan mikroskopis membuat pandangan pilot menjadi kabur, terutama saat mendarat. Kombinasi data keliru dan pandangan terbatas adalah bencana di udara.

  3. 3. Sistem kelistrikan dan komunikasi pesawat terganggu oleh listrik statis

    pesawat dan menara pengawas (magnific.com/wirestock)
    pesawat dan menara pengawas (magnific.com/wirestock)

    Menyadur situs Skybrary, gesekan partikel abu dengan badan pesawat saat terbang menimbulkan muatan listrik statis yang besar. Muatan ini dapat mengganggu sinyal radio dan komunikasi antara pilot dengan menara pengawas. Gangguan komunikasi sangat berbahaya saat pesawat berada di area lalu lintas udara yang padat.

    Listrik statis juga bisa menyebabkan percikan api di bagian-bagian tertentu. Percikan ini mengancam sistem bahan bakar dan komponen elektronik sensitif. Itulah mengapa maskapai lebih memilih membatalkan penerbangan daripada mengambil risiko terhadap keselamatan penumpang.

    Ternyata keputusan menutup bandara bukan karena panik berlebihan, melainkan langkah antisipasi yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. Bahaya abu vulkanik terhadap pesawat sangat nyata dan sudah terbukti melalui berbagai insiden di masa lalu. Semoga sekarang kamu paham dan gak terlalu kecewa kalau penerbangan harus ditunda karena gunung sedang erupsi!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More