Do’s and Don’ts Mendaki Gunung Berapi Aktif, Pendaki Wajib Nurut!

Aktivitas mendaki gunung kembali menjadi sorotan setelah erupsi Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, pada Jumat (8/11/2026), memakan korban jiwa. Tiga pendaki dilaporkan meninggal dunia setelah ditemukan dalam kondisi tertimbun material vulkanik tebal akibat aktivitas erupsi gunung tersebut.
Tim SAR gabungan pun resmi menutup operasi pencarian setelah seluruh korban yang sempat dinyatakan hilang berhasil ditemukan. Ketiga pendaki tersebut terdiri dari satu warga negara Indonesia dan dua warga negara Singapura.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa mendaki gunung berapi aktif bukan sekadar soal mengejar pemandangan indah atau pengalaman menantang. Gunung api aktif memiliki karakter yang jauh lebih dinamis dan sulit diprediksi dibanding gunung biasa. Aktivitas vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu, mulai dari hujan abu, lontaran material pijar, hingga peningkatan gas beracun yang berbahaya bagi pendaki.
Demi meminimalisir risiko yang terjadi, calon pendaki wajib memahami do’s and don’ts sebelum memutuskan pendakian ke kawasan gunung berapi aktif. Berikut beberapa hal di antaranya yang wajib kamu tahu, agar perjalanan tetap aman dan nyaman.
Do’s saat mendaki gunung berapi aktif

1. Selalu cek status gunung sebelum berangkat.
Sebelum mendaki, pastikan kamu mengecek status aktivitas gunung melalui sumber resmi, seperti PVMBG atau Balai Taman Nasional setempat. Gunung berapi aktif bisa mengalami peningkatan aktivitas sewaktu-waktu, bahkan hanya dalam hitungan jam.
Jangan hanya mengandalkan informasi dari media sosial atau video lama yang beredar di internet. Kondisi gunung hari ini bisa sangat berbeda dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
2. Gunakan masker dan pelindung mata.
Gunung api aktif identik dengan abu vulkanik dan debu belerang yang bisa mengganggu pernapasan maupun penglihatan. Oleh karena itu, membawa masker, buff, atau respirator menjadi perlengkapan wajib.
Selain masker, gunakan pula kacamata pelindung terutama jika area pendakian rawan hembusan abu atau pasir vulkanik. Mata yang terkena abu vulkanik bisa terasa perih, bahkan iritasi cukup serius.
3. Ikuti arahan petugas dan pemandu lokal.
Setiap gunung memiliki karakter yang berbeda, termasuk jalur aman dan area rawan bahayanya. Jadi, penting untuk mengikuti arahan petugas pos pendakian maupun pemandu lokal.
Jika ada larangan memasuki area tertentu, jangan mencoba melanggar hanya demi konten atau foto estetik! Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama.
4. Perhatikan kondisi cuaca dan arah angin.
Cuaca di gunung api aktif sangat memengaruhi tingkat keamanan pendakian. Saat hujan deras, jalur bisa menjadi licin dan rawan longsor. Arah angin juga menentukan sebaran abu vulkanik maupun gas belerang. Ketika kondisi cuaca mulai memburuk atau jarak pandang menurun drastis, sebaiknya segera turun atau mencari titik aman.
5. Gunakan perlengkapan pendakian yang memadai.
Jangan menganggap remeh perlengkapan saat mendaki gunung api aktif. Kenakan sepatu trekking yang kuat, jaket hangat, headlamp, sarung tangan, hingga logistik yang memadai. Pastikan pula kondisi tubuh juga fit sebelum mendaki. Gunung aktif bukan tempat yang aman untuk memaksakan diri saat sedang sakit atau kelelahan.
Don’ts saat mendaki gunung berapi aktif

1. Jangan mendekati kawah terlalu dekat.
Banyak pendaki tergoda mendekati kawah demi mendapatkan foto yang dramatis. Padahal area sekitar kawah merupakan zona paling berbahaya, karena rawan gas beracun, longsoran batu, hingga letusan kecil. Beberapa gunung juga memiliki kawah dengan kandungan gas sulfur tinggi yang tidak selalu terlihat oleh mata.
2. Jangan mengabaikan tanda bahaya.
Kalau terdengar suara gemuruh, tercium bau belerang yang sangat menyengat, atau muncul hujan abu lebih pekat, segera menjauh dari area berbahaya. Kadang pendaki terlalu fokus mencapai puncak sampai mengabaikan tanda alam yang sebenarnya sudah memberikan peringatan.
3. Jangan mendaki sendirian.
Pendakian gunung aktif sangat tidak disarankan dilakukan sendirian, terutama jika kamu belum berpengalaman. Minimal lakukan pendakian bersama teman yang sudah berpengalaman, komunitas, atau pemandu lokal yang terpercaya. Dalam kondisi darurat, keberadaan rekan pendakian bisa sangat membantu proses evakuasi maupun komunikasi.
4. Jangan membuang sampah sembarangan.
Selain berbahaya, gunung juga merupakan kawasan alam yang harus dijaga kelestariannya. Jangan meninggalkan sampah plastik, tisu, maupun sisa makanan di jalur pendakian. Prinsip “bawa turun kembali sampahmu” wajib diterapkan, agar ekosistem gunung tetap terjaga.
5. Jangan memaksakan summit demi ego.
Tidak semua pendakian harus berakhir di puncak. Jika kondisi cuaca buruk, tubuh mulai drop, atau aktivitas vulkanik meningkat, keputusan terbaik justru bisa jadi adalah turun kembali. Membatalkan pendakian sampai puncak bukan berarti gagal, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan tim.
Itu dia beberapa do's and dont's mendaki ke kawasan gunung berapi aktif yang patut kamu pahami. Mendaki gunung berapi aktif memang bisa menjadi pengalaman yang luar biasa, tetapi risikonya juga tidak kecil. Jadi, penting untuk selalu mengutamakan keselamatan dibanding ambisi pribadi. Stay safe, ya!


















