Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kapan Waktu Terbaik ke Wae Rebo Supaya Tidak Berkabut? Ini Jawabannya

Wae Rebo
Wae Rebo (commons.wikimedia.org/Jakub Hałun)

Pergi ke Wae Rebo bukan cuma soal punya waktu luang atau sekadar mencocokkan tanggal di kalender, lho. Kampung adat di atas awan ini punya mood sendiri. Berada di ketinggian 1.000 meter lebih, cuaca di sini adalah penentu utama. Sebab di sini kamu akan disambut pemandangan ikonik tujuh rumah adat Mbaru Niang yang megah atau justru hanya hamparan putih kabut tebal yang bikin gigit jari.

Agar perjalananmu gak berakhir zonk, yuk simak panduan memilih waktu kunjungan ke Wae Rebo yang paling pas berikut ini.

1. Incar musim kemarau yakni bulan Mei – September

Wae Rebo
Wae Rebo (commons.wikimedia.org/Jakub Hałun)

Kalau prioritasmu adalah pemadangan cantik dan langit biru, datanglah ke Wae Rebo antara bulan Mei sampai September. Di periode ini, langit Flores biasanya lebih cerah dan minim kabut. Keuntungan lainnya adalah jalur trekking yang lebih bersahabat.

Jalur menuju Wae Rebo bisa dikatakan lumayan menantang. Kalau tanahnya kering, kamu akan terhindar dari risiko terpeleset karena licin. Cahaya mataharinya juga lebih konsisten, pas buat kamu yang hobi fotografi.

2. Golden hour di Wae Rebo yakni pagi sebelum pukul sembilan

Wae Rebo
Wae Rebo (commons.wikimedia.org/Merekayangpeduli)

Lokasi Wae Rebo ibarat berada di dalam mangkuk raksasa yang dikelilingi perbukitan. Secara alami, kabut akan mulai naik perlahan saat suhu berubah. Oleh karena itu, waktu paling aman untuk menikmati wajah kampung secara utuh adalah pagi hari sekali, idealnya sebelum pukul 09.00.

Lewat dari jam tersebut, kabut sering kali mulai turun dan menutupi detail bangunan. Kalau kamu cuma datang sebentar (langsung pulang), besar kemungkinan kamu bakal berpapasan dengan kabut di jalan atau saat tiba di lokasi. So, jangan sampai melewatkan momen golden hour di Wae Rebo, ya!

3. Juli dan Agustus merupakan cuaca paling stabil

Wae Rebo
Wae Rebo (commons.wikimedia.org/Wayan Yatika)

Dua bulan ini bisa dibilang adalah masa keemasan cuaca di Manggarai. Curah hujan sangat rendah sehingga awan jarang menggumpal jadi mendung gelap. Memang suhu di sana terasa lebih dingin menusuk tulang saat malam, tapi pagi harinya biasanya sangat cerah.

Meski begitu ada satu hal yang perlu kamu jadikan catatan, nih. Karena cuacanya bagus, biasanya pengunjung akan membludak karena bertepatan dengan musim liburan. Kalau kamu tipe yang suka ketenangan, cobalah datang di hari kerja (weekdays) agar suasana magis kampung tetap terasa privat.

4. Realita di musim hujan khususnya bulan November – Maret

Wae Rebo
Wae Rebo (commons.wikimedia.org/Jakub Hałun)

Bukannya kamu gak boleh datang saat musim hujan, tapi kamu harus siap dengan ekspektasi yang berbeda. Di bulan-bulan ini, kabut bisa menginap sepanjang hari. Jalur pendakian juga jadi sangat licin dan lebih menguras tenaga.

Kalau jadwalmu hanya bisa di bulan-bulan basah ini, ubahlah fokus perjalananmu. Jangan terlalu terobsesi pada foto pemandangan yang bersih nan Instagramable. Nikmatilah suasananya, keramahan warga di dalam rumah, dan hangatnya kopi dari dalam Mbaru Niang. Itu pun tetap jadi pengalaman yang mahal tak ternilai, kok!

5. Hacks terbaik yakni dengan wajib menginap semalam di Wae Rebo

Wae Rebo
Wae Rebo (commons.wikimedia.org/PATRISIUS PETRUS)

Last but not least ini adalah tips paling krusial. Jangan pernah menyia-nyiakan perjalanan jauhmu dengan hanya berkunjung beberapa jam saja di Wae Rebo. Disarankan kamu menginap di sini sebab dengan menginap, kamu punya banyak kesempatan untuk menunggu kabut lenyap.

Sering kali, sore hari suasana desa akan tertutup kabut tebal, tapi saat pagi buta, pemandangannya justru luar biasa cantik. Selain itu, bangun pagi di tengah keheningan hutan pegunungan adalah kemewahan yang gak akan kamu dapatkan kalau buru-buru turun gunung. Maka dari itu, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati pengalaman menginap semalam di Wae Rebo.

Agar gak cuma lihat kabut, liburan ke Wae Rebo itu gak perlu jadwal yang rumit, yang penting kamu paham mood cuacanya. Datanglah saat musim kemarau, bangun lebih pagi, dan jangan buru-buru pulang. Dengan begitu, kamu gak bakal cuma bawa pulang foto kabut putih, tapi pengalaman yang membekas dan tak terlupakan .

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Travel

See More

Slow Travel Jadi Tren Liburan 2026, Beneran Lebih Tenang?

02 Feb 2026, 12:20 WIBTravel