5 Kesalahan saat Pertama Kali Traveling ke Kamakura

- Wisatawan mengira semua lokasi ikonik bisa dijangkau jalan kaki, padahal menggunakan Enoden lebih efisien
- Berangkat terlalu siang dari Tokyo membuat waktu kunjungan terbatas, sebaiknya tiba sekitar pukul 09.00
- Terjebak di area kuil dan melewatkan wilayah sekitarnya, padahal Kamakura punya wajah lain di luar area kuil
Kamakura sering dipilih sebagai destinasi singkat dari Tokyo, karena jaraknya dekat dan aksesnya mudah. Namun, justru di situlah banyak wisatawan pertama kali keliru membaca karakter kotanya. Jarak antarlokasi memang terlihat dekat di peta, tetapi kondisi jalan, waktu tempuh, dan kepadatan pengunjung sering membuat perkiraan meleset. Kesalahan wisatawan biasanya bukan soal kurang tempat menarik, melainkan salah membaca cara bergerak di kota pesisir ini.
Banyak pengalaman wisata di Kamakura terasa kurang maksimal bukan karena tempatnya, melainkan karena cara menjelajahnya. Jika tidak dipahami sejak awal, menjelajah Kamakura bisa terasa membingungkan. Berikut beberapa kesalahan yang paling sering dilakukan wisatawan saat pertama kali berkunjung ke Kamakura, Jepang. Kamu jangan ikut-ikutan, ya!
1. Wisatawan mengira semua lokasi ikonik bisa dijangkau jalan kaki

Kesalahan paling umum adalah mengira rute dari Kotoku-in ke Hasedera nyaman ditempuh sepenuhnya dengan berjalan kaki. Jaraknya memang hanya sekitar satu kilometer, tetapi jalurnya menanjak dan cukup menguras tenaga, terutama saat musim panas. Banyak wisatawan tiba di Hasedera dalam kondisi lelah, padahal masih ada banyak area yang perlu dieksplorasi. Waktu tempuh juga sering meleset dari perkiraan aplikasi peta.
Padahal, menggunakan Enoden jauh lebih efisien untuk rute ini. Naik satu stasiun saja bisa memangkas tenaga dan waktu tanpa mengurangi pengalaman. Jalan kaki tetap bisa dinikmati di area yang lebih datar dan padat aktivitas. Strategi sederhana ini sering diabaikan oleh wisatawan pertama kali.
2. Berangkat terlalu siang dari Tokyo

Banyak wisatawan baru tiba di Kamakura setelah pukul 11.00 karena menganggap jaraknya dekat dari Tokyo. Akibatnya, area populer, seperti Kotoku-in, sudah dipadati rombongan wisata dan antrean mulai memanjang. Waktu kunjungan menjadi terbatas, sementara beberapa tempat mulai bersiap tutup sore hari. Ritme perjalanan pun terasa terkejar.
Berangkat lebih pagi memberi keuntungan besar, terutama untuk mengunjungi kuil sebelum ramai. Suasana pagi juga membuat berjalan di area kota terasa lebih nyaman. Dengan tiba sekitar pukul 09.00, rute bisa disusun tanpa harus saling mengorbankan destinasi. Kamakura jauh lebih bersahabat jika dinikmati sejak pagi.
3. Terjebak di area kuil dan melewatkan wilayah sekitarnya

Fokus berlebihan pada kuil populer, seperti Hasedera, sering membuat wisatawan tidak sempat menjelajah area lain. Banyak yang menghabiskan waktu terlalu lama di satu titik, lalu kehabisan waktu untuk wilayah pesisir atau jalan lokal. Padahal, Kamakura punya wajah lain di luar area kuil. Jalur menuju pantai dan area perumahan justru memberi suasana yang lebih tenang.
Sebagai contoh, setelah area kuil, perjalanan bisa dilanjutkan ke pesisir atau sekadar menyusuri jalur dekat rel Enoden. Perpindahan ini memberi variasi suasana dalam satu hari. Dengan rute yang lebih menyebar, perjalanan terasa lebih seimbang. Kamakura tidak hanya soal satu titik ikonik.
4. Lupa tidak mengecek jam operasional secara detail

Banyak tempat wisata di Kamakura tutup sekitar pukul 16.30—17.00, lebih cepat dari yang dibayangkan wisatawan. Kesalahan datang sore hari sering berujung pada kunjungan singkat atau bahkan gagal masuk. Hal ini sering terjadi di kuil yang memiliki area observasi atau taman. Rencana pun harus diubah mendadak.
Menempatkan lokasi dengan jam tutup lebih awal di awal itinerary sangat membantu, misalnya, Hasedera atau Kotoku-in. Tempat yang buka lebih lama bisa dikunjungi belakangan. Urutan sederhana ini membuat alur perjalanan lebih rapi. Sayangnya, detail seperti ini sering diabaikan.
5. Tidak menentukan area makan sejak awal

Area makan di Kamakura tidak tersebar merata di semua titik wisata. Banyak restoran terkonsentrasi di sekitar Komachi-dori dan dekat stasiun utama. Wisatawan yang lapar di area kuil sering harus berjalan cukup jauh untuk menemukan tempat makan. Pada jam makan siang, antrean bisa sangat panjang.
Menentukan waktu makan sebelum atau sesudah jam ramai jauh lebih efektif. Alternatifnya, memilih camilan lokal di Komachi-dori , seperti shirasu croquette (kroket berisi ikan kecil khas pesisir Kamakura), senbei panggang (kerupuk beras yang dipanggang), atau hato sabure (biskuit mentega berbentuk burung merpati) sebelum berpindah lokasi. Perencanaan makan yang sederhana membuat perjalanan tidak terputus. Detail kecil ini sering menentukan kenyamanan sepanjang hari.
Berwisata ke Kamakura tidak cukup hanya bermodal peta dan daftar tempat populer. Pemahaman soal waktu, rute, dan kebiasaan lokal membuat perjalanan terasa lebih efektif. Kesalahan-kesalahan kecil ini kerap terjadi pada kunjungan pertama dan sebenarnya mudah dihindari. Jadi, setelah mengetahui hal-hal tersebut, rute mana yang paling masuk akal untuk perjalanan pertamamu ke Kamakura?


















