Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kelebihan dan Kekurangan Mendaki Gunung saat Musim Kemarau

Kelebihan dan Kekurangan Mendaki Gunung saat Musim Kemarau
Potret pendaki mendaki gunung (IDN Times/Ernia Karina)
  • Musim kemarau menawarkan jalur lebih kering dan stabil, cuaca cerah untuk menikmati lanskap, serta carrier lebih ringan karena kebutuhan perlengkapan tahan hujan dan logistik lebih sederhana.
  • Jalur kering dapat menghasilkan debu tebal yang mengganggu pernapasan dan mata, sehingga pendaki perlu memakai masker serta kacamata pelindung.
  • Sumber air dapat mengering, suhu malam berpotensi ekstrem hingga memicu hipotermia, dan vegetasi kering meningkatkan risiko kebakaran akibat faktor alam maupun kelalaian manusia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mendaki gunung merupakan salah satu aktivitas outdoor yang disukai banyak orang, terutama para pencinta alam dan petualangan. Di Indonesia yang beriklim tropis, musim kemarau menjadi "musim puncak" (peak season) bagi para pendaki untuk menaklukkan berbagai puncak gunung.

Cuaca yang cenderung cerah dan minim hujan membuat musim ini dinilai sebagai waktu ideal untuk melakukan pendakian. Meski demikian, mendaki saat musim kemarau tidak sepenuhnya bebas dari risiko dan tantangan.

Di balik jalur yang kering dan pemandangan yang cerah, ada beberapa kondisi yang wajib diantisipasi. Sebelum memutuskan mau ke gunung maka dan menyiapkan carrier-mu, simak kelebihan dan kekurangan mendaki gunung saat musim kemarau berikut ini, yuk!

  1. 1. Jalur pendakian cenderung kering

    Potret pendaki sedang mendaki gunung
    Potret pendaki sedang mendaki gunung (IDN Times/Ernia Karina)

    Sebelum berbicara tentang kekurangan, mari kita jabarkan terlebih dahulu tentang kelebihan atau nilai plus naik gunung saat musim kemarau. Saat musim kemarau, kondisi tanah pada jalur pendakian cenderung kering dan padat. Hal ini membuat langkah kaki menjadi jauh lebih stabil dan mantap saat melintasinya.

    Selain itu, kondisi jalur yang tidak licin ini juga mengurangi risiko cedera fisik, seperti terkilir atau terpeleset. Bagi pendaki pemula, medan tanah yang bersahabat pada musim kemarau bisa bantu menghemat tenaga dan meningkatkan rasa optimistis selama perjalanan menuju ke puncak.

  2. 2. Cuaca cerah dan pemandangan terlihat cantik

    Potret suasana pendakian gunung
    Potret suasana pendakian gunung (IDN Times/Ernia Karina)

    Musim kemarau ditandai dengan minimnya intensitas atau curah hujan. Hal ini membuat cuaca cerah sepanjang hari. Pendaki dapat menikmati pemandangan lanskap alam yang sangat jernih dan membentang luas, tanpa terhalang hujan maupun kabut tebal yang kerap datang secara tiba-tiba saat musim hujan.

    Selain itu, pendaki juga bisa menikmati sunrise, sunset, hingga milky way yang menakjubkan. Bagi penggemar fotografi alam, stok foto atau footage berbagai bentang alam bakal terkumpul banyak banget. deh!

  3. 3. Perlengkapan dan logistik jadi lebih ringan

    Potret pendaki sedang naik gunung
    Potret pendaki sedang naik gunung (IDN Times/Ernia Karina)

    Mendaki saat musim kemarau memungkinkan kamu memangkas bobot ransel atau carrier secara signifikan. Kamu tidak perlu membawa perlengkapan ekstra penahan air yang berat, seperti raincover, jas hujan tebal (raincoat), flysheet tambahan, hingga beberapa pasang pakaian ganti waterproof yang biasanya menguras banyak ruang dan beban di dalam tas.

    Selain perlengkapan fisik, kebutuhan logistik makanan juga menjadi lebih simpel, karena bahan makanan tidak rentan busuk atau lembap akibat guyuran hujan. Carrier yang lebih ringan ini bisa bantu menjaga stamina tubuh, agar tetap stabil, mengurangi risiko cedera lutut, dan membuat perjalanan lebih menyenangkan.

  4. 4. Debu yang tebal di jalur pendakian

    Pemandangan jalur pendakian Gunung Sibayak di Kabupaten Karo, Sumatra Utara
    Pemandangan jalur pendakian Gunung Sibayak di Kabupaten Karo, Sumatra Utara (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Setelah membahas kelebihan, selanjutnya kamu harus tahu kekurangan mendaki gunung saat musim kemarau. Pertama, debu yang tebal di jalur pendakian Meski jalur kering meminimalisir risiko licin, paparan terik matahari yang terus-menerus rupanya mengubah lapisan tanah bagian atas menjadi partikel debu halus yang sangat tebal.

    Ditambah lagi dengan embusan angin kencang dan langkah kaki dari ratusan pendaki lain berpotensi menerbangkan debu-debu tersebut ke udara di sepanjang jalur pendakian. Partikel debu yang berterbangan ini tidak hanya membuat pakaian dan wajah cepat kotor, tetapi juga berisiko tinggi mengganggu saluran pernapasan dan iritasi pada mata.

    Oleh karena itu, pendaki diwajibkan mengenakan masker pada area wajah dan kacamata pelindung. Tujuannya agar tetap nyaman dan terhindar dari sesak nafas.

  5. 4. Banyak sumber air di gunung yang mengering

    Potret sumber air di gunung
    Potret sumber air di gunung (unsplash.com/Polina Kocheva)

    Musim kemarau yang berkepanjangan dapat menyebabkan sumber mata air pegunungan menyusut drastis atau bahkan kering total. Hal ini menjadi masalah krusial karena air merupakan kebutuhan penting untuk minum dan memasak selama berada di alam bebas.

    Situasi ini menuntut para pendaki untuk melakukan persiapan lebih ekstra sebelum mendaki. Salah satunya membawa air yang lebih banyak dan berat. Tentu hal ini akan menambah beban fisik pada pundak dan punggung selama pendakian.

  6. 6. Suhu udara ekstrem pada malam hari

    Potret pendaki mengenakan jaket tebal
    Potret pendaki mengenakan jaket tebal (pexels.com/Sanhyolyn_)

    Banyak orang salah mengira bahwa musim kemarau di gunung berarti suhunya akan selalu hangat. Padahal, pada musim kemarau kerap terjadi fenomena bediding, yakni suhu pada malam hingga pagi hari bisa merosot sangat tajam dan menyentuh titik beku.

    Perubahan suhu yang sangat kontras antara teriknya siang hari dengan dinginnya malam hari ini menuntut ketahanan fisik yang ekstra kuat dari para pendaki. Jika kamu tidak mengantisipasinya dengan jaket thermal atau perlengkapan tidur yang memadai, pendaki berisiko tinggi mengalami kram otot hingga hipotermia berat saat beristirahat di dalam tenda.

  7. 7. Risiko kebakaran jadi lebih tinggi

    Proses penanganan kebakaran hutan dan lahan dilakukan di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, saat karhutla terjadi.
    Penanganan karhutla di Gunung Bromo. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

    Cuaca terik dan tidak adanya hujan membuat vegetasi di pegunungan, seperti padang savana, ranting pohon, dan dedaunan jadi mengering. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Saat satu titik api muncul, gesekan antar ranting atau embusan angin kencang dapat memperbesar dan memperluas kobaran api di kawasan pegunungan.

    Selain faktor alam, kelalaian manusia seperti membuang puntung rokok sembarangan, membuat api unggun, atau tidak memadamkan sisa pembakaran sampah hingga tuntas, menjadi pemicu utama kebakaran. Kondisi ini tidak hanya merusak ekosistem alam, tetapi juga sangat membahayakan keselamatan jiwa pendaki.

    Demikian kelebihan dan kekurangan mendaki gunung saat musim kemarau yang wajib kamu pahami. Apa pun musim yang kamu pilih, pastikan untuk selalu melakukan persiapan fisik yang matang, membawa perlengkapan yang memadai, serta bantu menjaga kelestarian alam, ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More