Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Banyak Tempat Wisata yang Mengadopsi Gaya Bali?

Potret pura di Bali
Potret pura di Bali (unsplash.com/Jeremy Bishop)

Pulau Bali sudah sejak lama menjadi destinasi wisata paling populer di Indonesia. Bahkan, tak sedikit wisatawan mancanegara yang lebih dulu mengenal Bali dibandingkan Indonesia itu sendiri. Popularitas ini membuat Bali selalu berada di posisi top of mind saat orang membicarakan liburan tropis, pantai, hingga budaya khas Nusantara.

Fenomena tersebut kemudian menjadi tren menarik. Di berbagai daerah, mulai bermunculan destinasi atau tempat wisata dengan konsep yang mirip Bali, alih-alih mengangkat kekhasan lokal masing-masing daerah. Mulai dari desain arsitektur, suasana resor, konsep spa, hingga kafenya, semua dibuat dengan nuansa Bali yang kental.

Lantas, kenapa banyak destinasi yang ingin menyerupai Bali? Apakah hal ini wajar sebagai strategi pariwisata, atau justru bisa menjadi tantangan bagi keberagaman wisata Indonesia?

Untuk membahas fenomena ini, IDN Times menghubungi Trinity pada 25 Desember 2025. Travel blogger pertama di Indonesia ini membagikan sudut pandangnya soal tren destinasi ala Bali yang semakin marak. Simak selengkapnya, yuk!

Table of Content

1. Bali menjadi top of mind pariwisata Indonesia

1. Bali menjadi top of mind pariwisata Indonesia

Menurut Trinity, Bali telah menjadi top of mind pariwisata Indonesia. Bahkan, banyak orang luar negeri gak tahu kalau Bali adalah bagian dari Indonesia.

Selain itu, fenomena destinasi bertema Bali sebenarnya gak hanya terjadi di Indonesia. Ia juga kerap menemukan konsep serupa di luar negeri. “Justru di luar negeri pun beberapa kali saya lihat, mereka juga masih ada yang bertema-tema Bali. Misalnya kayak resor tema Bali, terutama spa,” tuturnya saat dihubungi Trinity pada 25 Desember 2025.

2. Strategi untuk menarik wisatawan domestik

Suasana pantai di Bali
Suasana pantai di Bali (IDN Times/Ayu Afria)

Di Indonesia sendiri, penggunaan konsep ala Bali di luar Pulau Dewata dinilai sebagai strategi untuk menghadirkan sensasi liburan yang familier bagi wisatawan domestik. “Kalau di luar daerah Bali yang pakai ala-ala Bali itu, ya, memang strateginya untuk menarik wisatawan domestik,” kata Trinity.

Ia menambahkan, jarak Bali yang relatif jauh bagi sebagian masyarakat Indonesia juga menjadi alasan. “Misalnya bagi orang Sumatra, orang Kalimantan, atau orang di Papua gitu, kan. Jadi dia menghadirkan Bali lebih dekat gitu,” jelas perempuan yang aktif menulis sejak sekolah dasar ini.

Jadi, strategi tersebut sah-sah saja dilakukan. Dengan begitu, banyak orang yang bisa merasakan nuansa khas Bali lebih dekat.

3. Permintaan pasar mengarah ke pengalaman ala Bali

Trinity juga melihat permintaan pasar ikut membentuk tren ini. Banyak pihak yang menganggap konsep Bali sebagai standar destinasi liburan.

Menurut Trinity, jika target pasarnya wisatawan domestik, konsep ini masih bisa dimaklumi. “Kalau misalnya menyasar ke domestik, di luar Bali dibikin kayak gitu, ya gak apa-apa juga, sih,” tuturnya. Karena konsep wisata bernuansa Bali justru sering dianggap wajar dan menarik di media sosial. Banyak tempat wisata yang viral, karena menawarkan nuansa Bali.

Fenomena ini gak dipandang sebagai sesuatu yang keliru, melainkan bagian dari strategi destinasi untuk menghadirkan suasana liburan khas Bali yang sudah familier di benak wisatawan. Namun, ceritanya akan berbeda jika tujuannya menarik wisatawan asing.

“Kalau memang untuk menyasarnya warga negara turis asing, ya sayang juga sih,” kata penulis buku The Naked Traveler ini. Menurut dia, kondisi ini kerap terjadi di beberapa daerah, terutama wilayah terpencil, yang belum memiliki pemahaman mendalam tentang arsitektur lokal.

Selain itu, keterbatasan sumber daya dan tingkat kesulitan dalam mengadaptasi desain tradisional juga membuat pengelola memilih konsep yang sudah dianggap aman dan familier. “Jadi dibikin ala-ala Bali, tergantung target marketnya siapa. Gak ada salah dan benar gitu,” paparnya.

4. Ketika ikon luar negeri masuk ke wisata lokal

Menara Eiffel
Menara Eiffel (pixabay.com/graziegroupseng)

Saat ditanya soal saran untuk para pengusaha wisata, Trinity menekankan pentingnya kejelasan target pasar. Namun, ada satu hal yang secara tegas ia sayangkan. “Malah aku yang lebih menyayangkan di Indonesia kayak misalnya di Lembah Harau gitu kan, dibikin tempat wisata yang ada Menara Eiffel.”

Ia mencontohkan beberapa destinasi yang justru menghadirkan ikon luar negeri. “Ada banyak, seperti di Danau Toba saja, ada apa tuh, windmill-nya Belanda gitu, kan. Jadi ya, kenapa itu? Kalau itu aku lebih gak setuju banget.”

Kata Trinity, hal tersebut justru terasa aneh, baik bagi wisatawan lokal maupun asing. “Cuma kalau ada yang ikon-ikon luar negeri yang dimasukkan ke dalam para wisata Indonesia, itu yang aku gak setuju,” tutupnya.

Fenomena destinasi wisata yang menyerupai Bali memang gak bisa dilihat dari satu sisi. Hal ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga dan mengangkat kekayaan lokal, sehingga keberagaman wisata Indonesia tetap terjaga dan gak kehilangan identitasnya.

Jadi, apakah ada destinasi wisata yang mengusung konsep Bali di kota tinggalmu?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dewi Suci Rahayu
EditorDewi Suci Rahayu
Follow Us

Latest in Travel

See More

10 Kota Terbaik di Dunia untuk Kulineran 2026, Foodies Wajib Merapat!

12 Jan 2026, 20:30 WIBTravel