Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Parkiran Mall Selalu di Basement atau Rooftop?

ilustrasi parkiran mal
ilustrasi parkiran mal (pexels.com/freestocks.org)

Saat berkunjung ke pusat perbelanjaan, satu pola yang hampir selalu sama adalah lokasi parkiran yang berada di basement atau rooftop. Jarang sekali kendaraan diparkir di lantai utama yang sejajar dengan pintu masuk utama mal. Pola ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari perencanaan arsitektur dan strategi bisnis yang matang.

Banyak orang mungkin merasa parkir di basement terasa gelap atau di rooftop terasa panas, tapi ternyata ada alasan kuat di balik penempatan tersebut. Tata ruang mal dirancang bukan hanya untuk estetika, tetapi juga untuk efisiensi lahan dan alur pengunjung. Setiap keputusan desain punya pertimbangan ekonomi, keamanan, dan kenyamanan jangka panjang.

Yuk, pahami alasan di balik strategi penempatan parkiran mal yang sering dianggap sepele ini. Dengan begitu, kamu gak akan komplain lagi jika parkir di basement atau rofftop saat ke mal.

1. Optimalisasi ruang komersial yang lebih menguntungkan

ilustrasi mal
ilustrasi mal (pexels.com/Deane Bayas)

Mal adalah ruang bisnis yang sangat bergantung pada nilai sewa tiap meter persegi. Lantai dasar dan area tengah bangunan punya nilai komersial paling tinggi, karena aksesnya paling mudah dan paling terlihat. Kalau area strategis tersebut digunakan untuk parkir, potensi pendapatan dari penyewa toko otomatis berkurang.

Menempatkan parkiran di basement atau rooftop membuat area utama bisa dimanfaatkan untuk toko, restoran, dan ruang promosi. Strategi ini memaksimalkan potensi pemasukan dari tenant yang membayar sewa lebih tinggi. Dengan begitu, pengelola mal bisa mengoptimalkan keuntungan tanpa mengorbankan kapasitas parkir.

2. Pengaturan alur pengunjung yang lebih terkontrol

ilustrasi mal
ilustrasi mal (pexels.com/Burst)

Penempatan parkiran di basement atau rooftop membantu mengatur arus pengunjung agar melewati area tertentu sebelum mencapai pintu keluar. Saat naik eskalator atau lift dari basement, pengunjung biasanya langsung masuk ke area ritel atau zona makanan. Pola ini menciptakan jalur alami yang meningkatkan potensi transaksi.

Konsep ini dikenal dalam strategi customer flow management di dunia ritel modern. Dengan jalur yang dirancang secara strategis, peluang interaksi antara pengunjung dan tenant meningkat. Semakin banyak titik yang dilewati, semakin besar kemungkinan terjadi aktivitas belanja spontan.

3. Efisiensi struktur bangunan dan kekuatan konstruksi

ilustrasi parkiran mal
ilustrasi parkiran mal (pexels.com/Boys in Bristol Photography)

Secara teknis, struktur basement memang dirancang untuk menopang beban berat. Kendaraan yang parkir dalam jumlah besar membutuhkan fondasi kuat dan sistem ventilasi khusus. Menempatkan parkiran di bawah tanah memungkinkan distribusi beban lebih stabil pada struktur bangunan.

Sementara itu, rooftop juga sering dimanfaatkan karena area atap luas dan relatif kosong dari fungsi utama. Struktur atap modern dirancang agar mampu menahan beban kendaraan dengan sistem penguatan tertentu. Kombinasi basement dan rooftop membuat distribusi beban bangunan lebih seimbang dan efisien.

4. Pertimbangan keamanan dan pengawasan

ilustrasi parkiran mal
ilustrasi parkiran mal (pexels.com/Rodolfo QuirĂ³s)

Area parkir membutuhkan sistem keamanan khusus seperti kamera pengawas dan pencahayaan tambahan. Basement dan rooftop relatif lebih mudah dikontrol akses keluar masuknya dibandingkan area terbuka di lantai dasar. Sistem gerbang otomatis dan tiket parkir juga lebih mudah diterapkan di titik yang terpusat.

Dengan desain terpisah dari area komersial utama, potensi gangguan terhadap aktivitas belanja bisa diminimalkan. Pengunjung bisa fokus berbelanja tanpa terganggu lalu lalang kendaraan. Di sisi lain, pengelola tetap dapat memantau kendaraan secara lebih terstruktur melalui sistem keamanan terintegrasi.

5. Strategi menghadapi keterbatasan lahan perkotaan

ilustrasi parkiran mal
ilustrasi parkiran mal (pexels.com/Tibor Szabo)

Mal umumnya dibangun di kawasan kota dengan lahan terbatas dan harga tanah tinggi. Menggunakan lantai utama untuk parkir akan mengurangi efisiensi pemanfaatan lahan yang mahal tersebut. Karena itu, solusi vertikal seperti basement dan rooftop menjadi pilihan paling rasional.

Konsep pembangunan vertikal ini selaras dengan prinsip urban development modern. Kota besar seperti Jakarta, Tokyo, atau Seoul menerapkan pola yang sama demi efisiensi ruang. Dengan strategi ini, mal tetap mampu menyediakan kapasitas parkir memadai tanpa mengorbankan nilai ekonomi bangunan.

Parkiran mal yang berada di basement atau rooftop bukan sekadar kebiasaan desain, tapi hasil perhitungan bisnis dan teknis yang detail. Optimalisasi ruang, pengaturan alur pengunjung, kekuatan struktur, keamanan, hingga efisiensi lahan menjadi faktor utama. Setiap elemen tersebut saling berkaitan dalam membentuk pengalaman belanja yang terstruktur. Jadi, saat parkir di basement atau rooftop, sebenarnya sedang melihat strategi arsitektur dan bisnis bekerja secara bersamaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Travel

See More

7 Masjid Paling Cantik di Malaysia untuk Destinasi Ramadan 2026

19 Feb 2026, 20:30 WIBTravel