Kenapa Pendaki Sering Halusinasi di Gunung? Ini Jawabannya!

Mendaki gunung-gunung tertinggi di dunia adalah impian bagi banyak petualang. Namun, di balik keindahan puncak yang memukau, tersimpan bahaya yang tak kasatmata dan mampu mengacaukan pikiran. Para pendaki di ketinggian ekstrem sering melaporkan mengalami pengalaman aneh, mulai dari mendengar suara bisikan hingga melihat sosok misterius yang menemani mereka, sebelum akhirnya lenyap begitu saja.
Fenomena ini telah lama menjadi misteri, sering kali dikaitkan dengan cerita mistis atau dianggap sebagai bagian dari penyakit ketinggian biasa. Namun, penelitian modern berhasil menguak tabir di baliknya. Kondisi yang dialami para pendaki ini ternyata adalah sebuah gangguan psikologis sementara yang dipicu oleh kondisi ekstrem di puncak-puncak dunia, membuktikan betapa rapuhnya pikiran manusia saat berhadapan dengan alam liar.
1. Ternyata ini bukan bagian dari penyakit ketinggian biasa

Banyak yang mengira halusinasi di gunung adalah gejala dari altitude sickness atau penyakit ketinggian. Penyakit ini umumnya ditandai dengan sakit kepala parah, pusing, dan mual akibat tubuh kekurangan waktu untuk aklimatisasi atau beradaptasi dengan ketinggian. Namun, para peneliti menemukan bahwa episode psikosis yang dialami pendaki bisa terjadi tanpa disertai gejala fisik penyakit ketinggian tersebut.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Medicine secara spesifik mengidentifikasi kondisi ini sebagai high-altitude psychosis atau psikosis ketinggian. Dilansir dari Science Alert, para peneliti dari Eurac Research di Italia dan Medical University of Innsbruck di Austria menganalisis 83 laporan episode psikotik dan menemukan bahwa gejalanya murni kejiwaan, terpisah dari High-Altitude Cerebral Edema (HACE) atau pembengkakan otak akibat ketinggian. Ini artinya, seseorang bisa saja merasa sehat secara fisik namun pikirannya mulai mengkhayal.
2. Kekurangan oksigen jadi pemicu utama pikiran jadi kacau

Meskipun penyebab pastinya masih diteliti, faktor utama yang diyakini memicu psikosis ketinggian adalah hipoksia, yaitu kondisi kekurangan pasokan oksigen ke jaringan tubuh, termasuk otak. Dilansir Men's Journal, fenomena ini sering terjadi pada ketinggian di atas 7.000 meter (sekitar 23.000 kaki), di mana tingkat oksigen di udara sangat tipis. Otak yang tidak mendapatkan cukup "bahan bakar" oksigen akan mengalami kesulitan berfungsi secara normal.
Kondisi inilah yang memicu gejala-gejala psikotik, seperti halusinasi pendengaran dan penglihatan, delusi, hingga ucapan yang tidak teratur. Para peneliti meyakini ini bisa jadi merupakan tahap awal dari pembengkakan di beberapa bagian otak, meskipun gejalanya dapat muncul secara independen. Sederhananya, otak sedang "error" karena tidak mendapat pasokan energi yang vital untuk menjaga kesadaran dan persepsi tetap normal.
3. Kondisi sepi dan terisolasi bisa memunculkan 'teman imajiner'

Selain faktor fisik seperti kekurangan oksigen, faktor psikologis juga memainkan peran besar. Para peneliti menyebutkan bahwa kondisi seorang diri, isolasi sosial, dan kekurangan rangsangan sensorik di lingkungan yang ekstrem dapat memicu halusinasi. Menghabiskan waktu lama dalam kesendirian di tengah lanskap gunung yang senyap dan monoton dapat membuat pikiran menciptakan realitasnya sendiri.
Fenomena ini sering disebut sebagai "Third Man Factor", di mana seorang pendaki merasa ada sosok lain yang berjalan bersamanya. Dilansir Science Alert, salah satu kasus paling terkenal dilaporkan oleh penjelajah kutub Sir Ernest Shackleton saat melintasi Antartika pada tahun 1914, jauh sebelum pendakian gunung ekstrem populer. Contoh lainnya adalah kisah seorang pendaki di Gunung Everest yang berhalusinasi ditemani seorang pria bernama 'Jimmy' sepanjang hari, yang kemudian menghilang tanpa jejak.
4. Untungnya, gejala psikosis ini bisa hilang sepenuhnya

Kabar baiknya, psikosis ketinggian ini bersifat sementara. Gejala-gejala aneh tersebut akan menghilang sepenuhnya tanpa meninggalkan bekas setelah pendaki kembali ke ketinggian yang lebih rendah dan aman. Saat tubuh kembali mendapatkan pasokan oksigen yang cukup, fungsi otak pun kembali normal dan semua halusinasi berhenti.
Penemuan ini sangat penting untuk membantu para pendaki dan tim medis agar tidak salah mendiagnosis kondisi ini sebagai gangguan jiwa permanen seperti skizofrenia. Mengetahui bahwa ini adalah reaksi sementara terhadap lingkungan ekstrem dapat membantu pendaki lebih waspada. Salah satu cara untuk mengurangi risiko, seperti yang disarankan oleh para ahli yang dikutip di Explore, adalah mendaki bersama rekan untuk menghindari deprivasi sosial dan saling menjaga kesadaran satu sama lain.
Pada akhirnya, fenomena halusinasi di ketinggian ekstrem menjadi pengingat bahwa gunung tidak hanya menantang kekuatan fisik, tetapi juga ketangguhan mental kita. Keindahan puncak es yang sunyi ternyata menyimpan kekuatan untuk menguji batas realitas pikiran manusia.


















