Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Proses Turun Gunung Lebih Melelahkan daripada Mendaki?

4 min read
Kenapa Proses Turun Gunung Lebih Melelahkan daripada Mendaki?
ilustrasi seorang pendaki sedang memulai perjalanan turun gunung (pexels.com/Marek Piwnicki)
  • Turun gunung terasa lebih melelahkan karena pendaki mengandalkan sisa tenaga setelah berjam-jam atau berhari-hari mendaki, dengan tidur terbatas dan paparan cuaca ekstrem.
  • Jalur berbatu dan berpasir saat turun meningkatkan risiko tergelincir, cedera paha atau lutut, serta kehilangan keseimbangan meski beban carrier berkurang.
  • Setelah mencapai tujuan pendakian, motivasi bergeser menjadi pulang dengan selamat; berkurangnya semangat membuat rasa lelah selama perjalanan turun lebih terasa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Harus diakui bahwa mencapai puncak gunung adalah sebuah pencapaian yang luar biasa karena membutuhkan banyak perjuangan. Di satu sisi, kenyataannya tidak begitu karena perjalanan menuju pulang atau turun gunung adalah ujian sebenarnya yang akan menguras banyak tenaga dari seorang pendaki. Tak jarang juga banyak risiko berbahaya yang dialami oleh pendaki yang kurang berhati-hati, mulai dari tergelincir hingga mengalami cedera fisik serius.

Tak hanya soal fisik, rasa emosional seorang pendaki juga bisa melonjak drastis karena mengalami banyak perubahan yang drastis. Pada artikel kali ini juga akan dibahas faktor-faktor yang menjadi alasan mengapa proses turun gunung jauh lebih melelahkan daripada proses mendaki. Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

  1. 1. Akumulasi rasa lelah sejak awal mendaki

    ilustrasi sekelompok pendaki
    ilustrasi sekelompok pendaki (pexels.com/Nurul Sakinah Ridwan)

    Perjalanan mendaki gunung bukanlah proses yang cepat, melainkan membutuhkan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari hingga akhirnya perjalanan turun gunung bisa dilakukan. Saat menanjak, tubuh kamu otomatis akan terus dipaksa bergerak dan membawa beban berat dari tas carrier tanpa henti dan dengan minimnya istirahat. Proses mendaki saja sudah sangat melelahkan, apalagi jika ditambah dengan proses turun gunung.

    Kurangnya sistem pertahanan tubuh, kekurangan waktu tidur yang ideal, serta paparan cuaca ekstrem di gunung juga sangat memengaruhi perjalanan turun gunung. Oleh karena itu, proses kembali menuju basecamp akan sangat melelahkan karena kamu hanya membawa sisa-sisa tenaga yang masih tersimpan di dalam tubuh.

  2. 2. Perjalanan turun gunung nyatanya jauh lebih berbahaya

    ilustrasi dua orang pendaki sedang melakukan perjalanan turun dari gunung
    ilustrasi dua orang pendaki sedang melakukan perjalanan turun dari gunung (pexels.com/Penfran Tanzania)

    Meskipun kamu berpikir bahwa proses turun gunung adalah hal paling mudah karena tubuh tidak akan dipaksa menanjak, asumsi kamu justru salah. Perjalanan turun gunung memiliki banyak sekali rintangan yang harus dilalui, termasuk jalur penuh bebatuan dan berpasir yang mudah sekali membuat pendaki tergelincir dan merosot jauh ke bawah dan tak jarang menabrak akar besar atau pohon, sehingga sering kali terjadi cedera. Hal ini terjadi karena ritme langkah kaki kamu sebagai pendaki akan jauh lebih cepat karena tidak ada lagi medan menanjak yang dilalui.

    Tak hanya itu, risiko berbahaya ini sangat rentan mencederai otot paha hingga otot lutut. Kedua otot tersebut selalu menjadi garda terdepan sebagai penahan tubuh. Karena kamu bergerak sangat cepat dan sering kali berhenti mendadak karena ada sesuatu yang berbahaya di depan, terkadang itu akan membuat risiko terjadinya robekan pada otot paha atau otot lutut yang akan terasa sangat nyeri karena pergerakan setengah lari yang diiringi dengan berhenti mendadak secara berulang kali.

  3. 3. Hilangnya banyak motivasi kecuali turun dengan selamat dan pulang ke rumah

    ilustrasi seorang pendaki sedang memulai perjalanan turun gunung
    ilustrasi seorang pendaki sedang memulai perjalanan turun gunung (pexels.com/Marek Piwnicki)

    Saat kamu melakukan pendakian, jelas kamu memiliki banyak ambisi untuk mencapai puncak gunung. Ambisi itu didorong oleh banyak sekali motivasi, seperti ingin melihat sunset di area camp, hamparan sabana yang cantik, hingga ingin tahu betapa hangatnya menikmati matahari terbit (sunrise) di puncak gunung. Sayangnya, semua motivasi itu hilang seketika ketika kamu merasakan semuanya dan harus melakukan perjalanan turun gunung.

    Isi pikiran kamu yang tersisa hanyalah keinginan untuk segera sampai di rumah dengan selamat. Kehilangan motivasi yang sangat banyak jelas mengurangi rasa semangat yang tidak sama seperti saat mendaki. Dampaknya, rasa lelah akan cepat dirasakan karena kamu tidak memiliki ruang perasaan untuk mengalihkan rasa tersebut.

  4. 4. Kurangnya energi tubuh untuk menahan daya beban pada tas carrier

    ilustrasi sekelompok pendaki menggunakan tas carrier
    ilustrasi sekelompok pendaki menggunakan tas carrier (pexels.com/Guduru Ajay bhargav)

    Secara logika, beban yang dibawa pada tas carrier akan jauh lebih ringan karena berkurangnya isi logistik yang dibawa, termasuk pasokan makanan. Meskipun kenyataannya memang berkurang, tas carrier tetap akan berat dan cukup merepotkan pendaki saat proses turun gunung. Energi yang sudah sangat terkuras dan harus dipaksa tetap membawa tas carrier terkadang membuat pendaki terjatuh ke depan karena hilangnya keseimbangan dan jalur turun yang ekstrem.

    Ketidakmampuan menahan keseimbangan ini jelas bisa menguras sisa-sisa energi yang ada pada tubuh kamu. Saat terjatuh berkali-kali, tubuh kamu harus kembali bangkit dan membawa beban berat dari tas carrier untuk turun gunung. Jatuh berkali-kali jelas adalah hal paling melelahkan karena bisa juga membuat banyak bagian tubuh kamu mengalami lecet akibat goresan batu dan akar pohon.

    Sebagai pendaki yang baik, proses turun gunung adalah perjalanan yang sama sekali tidak boleh dianggap remeh. Menyelesaikan proses turun gunung menandakan bahwa proses keseluruhan kamu mendaki gunung sangat baik karena kamu berhasil pulang dengan selamat. Dari keempat faktor yang telah dibahas sebelumnya, kamu jadi sudah tahu kenapa proses turun gunung jauh lebih melelahkan daripada perjalanan mendaki, kan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More