Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Transit Tanpa Visa Kini Makin Dibatasi?
ilustrasi paspor (pexels.com/Marta Branco)
  • Semakin banyak negara membatasi transit tanpa visa karena alasan keamanan global, penyalahgunaan imigrasi, dan meningkatnya pengawasan di area bandara internasional.
  • Digitalisasi imigrasi membuat data penumpang antarnegara saling terhubung, sehingga setiap perjalanan, termasuk transit singkat, kini tetap melalui proses verifikasi ketat.
  • Perubahan ke sistem izin elektronik dan tanggung jawab maskapai yang lebih besar menuntut traveler memeriksa aturan terbaru sebelum memilih rute dengan transit internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dulu, transit di negara lain terasa seperti zona netral yang aman. Kita bisa berpindah pesawat di bandara internasional tanpa perlu memikirkan visa, selama tidak keluar dari area transit. Banyak traveler Indonesia memanfaatkan hal ini untuk mendapatkan tiket lebih murah dengan rute yang lebih panjang, atau sekadar menjelajahi bandara besar dunia tanpa harus mengurus dokumen tambahan.

Namun, belakangan ini semakin banyak negara yang mulai membatasi transit tanpa visa, bahkan untuk penumpang yang tidak berniat keluar bandara sama sekali. Perubahan ini sering kali mengejutkan, terutama bagi traveler yang sudah terbiasa dengan aturan lama.

Di era perjalanan modern, transit tidak lagi sesederhana hanya ganti pesawat. Ada lapisan regulasi baru yang membuat perjalanan internasional menjadi lebih kompleks, sekaligus lebih terkontrol. Fenomena ini tidak terjadi tanpa alasan, melainkan merupakan bagian dari perubahan besar dalam sistem keamanan global, digitalisasi imigrasi, serta dinamika mobilitas manusia lintas negara yang semakin tinggi.

Yuk, ketahui beberapa alasan kenapa transit tanpa visa kini mulai dibatasi melalui ulasan berikut ini. Kamu yang gemar transit wajib tahu, nih!

1. Keamanan global yang semakin ketat

ilustrasi percakapan dengan pihak imigrasi (pexels.com/MART PRODUCTION)

Salah satu alasan utama pembatasan transit tanpa visa adalah meningkatnya perhatian terhadap keamanan global, terutama di bandara internasional yang menjadi titik pertemuan ribuan orang dari berbagai negara setiap hari. Dulu, penumpang transit dianggap memiliki risiko rendah, karena tidak keluar dari area bandara, tetapi saat ini perspektif tersebut berubah.

Banyak negara mulai melihat area transit sebagai bagian dari wilayah kedaulatan yang tetap harus diawasi secara ketat. Kawasan seperti Uni Eropa bahkan mengembangkan sistem keamanan terintegrasi yang memungkinkan data penumpang diperiksa sebelum mereka tiba di bandara tujuan. Dengan sistem ini, setiap pergerakan penumpang, termasuk transit, menjadi bagian dari pengawasan keamanan yang lebih luas. Transit tanpa visa pun tidak lagi dianggap bebas risiko, sehingga negara memilih menambahkan lapisan kontrol melalui kebijakan visa transit atau izin elektronik.

2. Penyalahgunaan transit untuk imigrasi ilegal

ilustrasi area tunggu di bandara (pexels.com/Kenneth Surillo)

Transit tanpa visa pada awalnya dirancang untuk mempermudah perjalanan internasional, tetapi dalam praktiknya, ada kasus penyalahgunaan yang membuat banyak negara mulai mengevaluasi kebijakan ini. Beberapa orang memanfaatkan transit untuk mencoba masuk secara ilegal, mengajukan suaka, atau bahkan sengaja hilang dari bandara sebelum melanjutkan penerbangan berikutnya.

Negara-negara dengan arus transit tinggi, seperti Inggris dan Kanada, mulai memperketat aturan untuk mencegah risiko tersebut. Dengan mewajibkan visa transit bagi negara tertentu, pemerintah dapat melakukan penyaringan lebih awal terhadap siapa saja yang diizinkan menggunakan fasilitas transit. Bagi traveler yang patuh aturan, kebijakan ini mungkin terasa menyulitkan, tetapi bagi negara, ini adalah langkah preventif untuk mengurangi pelanggaran imigrasi.

3. Integrasi data imigrasi antarnegara

ilustrasi paspor (pexels.com/Markus Winkler)

Di era digital, sistem imigrasi antarnegara semakin terhubung. Data perjalanan, histori visa, hingga catatan pelanggaran bisa saling diakses melalui kerja sama internasional. Hal ini membuat konsep transit anonim hampir tidak lagi ada. Bahkan jika seseorang hanya berada di bandara selama beberapa jam, data mereka tetap tercatat dalam sistem global.

Negara seperti Amerika Serikat sudah lama menerapkan sistem Advance Passenger Information (API) yang mengharuskan maskapai mengirimkan data penumpang sebelum pesawat berangkat. Dengan sistem seperti ini, penumpang transit pun tetap melalui proses screening yang ketat.

Jika ada ketidaksesuaian data atau risiko tertentu, penumpang bisa ditolak bahkan sebelum naik pesawat pertama. Inilah yang membuat banyak negara merasa perlu menambah persyaratan visa transit sebagai bagian dari kontrol digital yang lebih komprehensif.

4. Perubahan model visa ke sistem elektronik

ilustrasi paspor (pexels.com/Borys Zaitsev)

Banyak negara kini beralih ke sistem izin perjalanan elektronik, seperti ETA atau e-visa, yang memungkinkan proses verifikasi dilakukan sebelum keberangkatan. Perubahan ini membuat batas antara bebas visa dan butuh izin menjadi semakin tipis. Kawasan Uni Eropa, misalnya, mengembangkan sistem ETIAS yang mewajibkan registrasi online bahkan untuk traveler bebas visa.

Dalam konteks transit, sistem ini memudahkan negara untuk tetap melakukan kontrol tanpa harus menerapkan visa konvensional yang rumit. Namun, di sisi lain hal ini juga berarti bahwa transit tidak lagi otomatis bebas dari persyaratan administrasi. Traveler tetap perlu memastikan apakah rute transitnya memerlukan izin tertentu, meskipun hanya singgah sebentar.

5. Tanggung jawab maskapai yang semakin besar

ilustrasi area tunggu di bandara (pexels.com/Gustavo Fring)

Maskapai penerbangan memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan setiap penumpang memenuhi syarat perjalanan, termasuk untuk transit. Jika seorang penumpang ditolak masuk di negara transit atau tujuan, maskapai harus menanggung biaya pemulangan. Risiko ini membuat maskapai menjadi lebih ketat dalam memverifikasi dokumen sebelum boarding.

Dalam banyak kasus, penumpang yang sebenarnya hanya transit tetap ditolak naik pesawat karena tidak memiliki visa transit yang sesuai. Maskapai tidak bisa mengambil risiko membawa penumpang yang berpotensi ditolak oleh imigrasi. Hal ini sering membuat traveler merasa dipersulit, padahal maskapai hanya mengikuti regulasi yang berlaku secara internasional.

6. Perbedaan kebijakan antarnegara dan paspor

ilustrasi paspor (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Tidak semua paspor mendapatkan perlakuan yang sama dalam kebijakan transit tanpa visa. Negara tujuan biasanya menentukan daftar negara mana saja yang boleh transit tanpa visa dan mana yang tidak. Pemegang paspor dari negara tertentu mungkin bisa transit bebas, sementara yang lain wajib memiliki visa transit. Kebijakan ini didasarkan pada berbagai faktor, mulai dari hubungan diplomatik hingga tingkat kepatuhan imigrasi.

Bagi pemegang paspor Indonesia, aturan ini bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan masing-masing negara. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengecek aturan terbaru sebelum membeli tiket dengan rute transit, terutama jika transit terjadi di negara dengan regulasi ketat.

7. Lonjakan mobilitas global pasca pandemik

ilustrasi area tunggu di bandara (pexels.com/Lucas Oliveira)

Setelah pandemik COVID-19, mobilitas global meningkat pesat, termasuk perjalanan internasional dengan rute transit. Lonjakan ini membuat banyak negara kembali mengevaluasi sistem pengawasan mereka. Bandara menjadi lebih sibuk dan potensi risiko juga meningkat.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, beberapa negara memilih memperketat aturan transit agar lebih mudah mengontrol arus penumpang. Kebijakan ini bukan semata-mata untuk membatasi, tetapi untuk memastikan bahwa sistem imigrasi tetap mampu menangani volume perjalanan yang terus bertambah.

Transit tanpa visa dulu identik dengan kemudahan, tetapi kini menjadi bagian dari sistem perjalanan yang lebih kompleks dan terkontrol. Negara ingin memastikan setiap pergerakan lintas batas tetap aman, legal, dan terdata dengan baik.

Bagi traveler Indonesia, perubahan ini bukan berarti perjalanan menjadi lebih sulit, tetapi menuntut persiapan yang lebih matang. Dunia masih terbuka untuk dijelajahi, tetapi dengan aturan yang semakin terstruktur. Jadi sebelum memilih rute transit, pastikan kamu sudah memahami seluruh persyaratannya. Karena di era sekarang, bahkan untuk sekadar singgah, kamu tetap harus siap secara administratif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team