Kenapa Traveler Menghindari Wisata Overtourism pada 2026?

- Pengalaman wisata yang buruk
- Wisatawan menghadapi kerumunan dan antrean panjang
- Fisik dan mental menjadi lelah karena berbagi ruang dengan ribuan orang
- Pengalaman di destinasi overtourism tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan
- Kepedulian terhadap lingkungan
- Overtourism menyebabkan tekanan lingkungan serius
- Kesadaran lingkungan semakin tinggi, generasi muda lebih memilih ecotourism
- Pantai kotor, jalur pendakian rusak, kawasan alam kehilangan keasriannya
Pada 2026, banyak traveler memilih menjauh dari destinasi wisata viral yang dipadati pengunjung atau dikenal dengan istilah overtourism. Tempat yang menjadi impian banyak orang kini dianggap melelahkan, hingga kehilangan daya tariknya.
Kesadaran wisatawan akan pentingnya perjalanan yang nyaman dan bermakna membuat mereka mulai menghindari wisata yang terlalu ramai. Kira-kira, kenapa traveler menghindari wisata overtourism pada 2026 ini, ya? Apakah sekadar gak mau terjebak di kondisi penuh sesak? Kita cek alasannya, ya!
1. Pengalaman wisata yang buruk

Masa liburan berubah menjadi tidak menyenangkan karena pengalaman wisata yang buruk. Wisatawan sering menghadapi kerumunan besar dan antrean panjang di tempat yang ramai.
Traveler akan merasa fisik dan mental menjadi lelah, karena harus berbagi ruang dengan ribuan orang dalam waktu bersamaan. Banyak pengunjung mengeluh tentang pengalaman di destinasi overtourism tidak lagi sebanding dengan waktu dan biaya yang dikeluarkan.
2. Kepeduliaan terhadapan lingkungan

Tempat wisata yang mengalami overtourism akan menghadapi tekanan lingkungan yang serius, seperti pencemaran sampah, kerusakan ekosistem, dan eksploitasi sumber daya alam. Pantai menjadi kotor dengan penuh sampah, jalur pendakian rusak yang mengakibatkan kejadian tak diinginkan, dan kawasan alam yang kehilangan keasriannya.
Kesadaran lingkungan di tahun ini menjadi semakin tinggi, terutama di kalangan anak muda. Mereka merasa bersalah kalau kunjungannya dapat memperparah kerusakan alam di tempat wisata, oleh karena itu generasi muda lebih memilih untuk menerapkan ecotourism.
3. Dampak sosial dan budaya

Bukan hanya wisatawan, overtourism sangat berdampak pada kehidupan masyarakat lokal. Lonjakan jumlah turis sering menyebabkan perubahan fungsi ruang publik, sehingga warga lokal perlahan tersingkirkan dari kawasan wisata yang dulunya menjadi tempat tinggal mereka.
Pada 2026, banyak wisatawan yang membahas isu ini, karena dianggap beban bagi masyarakat lokal. Bahkan, perlakuan yang timpang sering terjadi, di mana pelaku usaha terlihat lebih ramah dengan wisatawan asing dibandingkan wisatawan lokal, sehingga menambah ketegangan sosial.
4. Biaya liburan menjadi mahal

Banyak destinasi wisata yang menerapkan pajak turis, tiket masuk tambahan, hingga reservasi yang ketat demi menekan angka kedatangan wisatawan. Kebijakan ini dinilai baik, tetapi membuat biaya liburan semakin mahal.
Wisatawan harus mengeluarkan lebih banyak biaya hanya untuk mengakses tempat wisata populer. Pada 2026, destinasi wisata overtourism dianggap tidak layak lagi untuk dikunjungi dan mereka lebih memilih mencari alternatif yang lebih ramah di kantong, tetapi tetap meninggalkan pengalaman yang berkesan.
5. Pergeseran tren wisata global

Media sosial selalu menampilkan keindahan destinasi dan sisi gelap dari wisata itu sendiri. Pada tahun ini, traveler menggaungkan tren "antiviral destination" sebagai respons terhadap kejenuhan destinasi yang terlalu populer di media sosial.
Mereka lebih memilih mencari lokasi yang masih tersembunyi, tenang, dan belum banyak terekspos. Tren ini menciptakan perubahan pola pikir traveler yang lebih mengutamakan kualitas dibanding popularitas.
Wisata overtourism menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi pengelola dan pelaku usaha pariwisata supaya dapat lebih menekan jumlah kedatangan wisatawan. Strategi pengelolaan harus lebih selektif, seperti sistem kuota pengunjung dan pengaturan waktu kunjungan supaya pengunjung dapat menikmati fasilitas yang tersedia.

















