5 Perubahan Aturan Visa yang Bikin Budget Liburan Membengkak

- Pada 2026, sejumlah negara melakukan penyesuaian besar terhadap aturan visa yang membuat biaya perjalanan luar negeri meningkat tanpa banyak diumumkan secara luas.
- Perubahan mencakup munculnya izin masuk tambahan berbayar, kenaikan tarif visa, serta kewajiban asuransi dan dokumen keuangan yang lebih ketat bagi pemohon.
- Dampaknya, traveler Indonesia perlu menyiapkan anggaran ekstra dan memperbarui informasi visa agar tidak terkejut dengan biaya tambahan saat merencanakan liburan.
Banyak traveler Indonesia merasa biaya liburan ke luar negeri makin sulit ditebak. Bukan cuma karena tiket pesawat atau hotel yang naik, tapi juga karena urusan visa yang sekarang terasa semakin mahal dan berlapis. Menariknya, kenaikan ini sering kali tidak terasa di awal, tapi baru menggigit saat semua biaya dijumlahkan.
Pada 2026, aturan visa di berbagai negara tujuan wisata mengalami penyesuaian besar-besaran. Sebagian perubahan ini tidak selalu diumumkan secara masif, sehingga traveler sering baru menyadarinya saat proses pengajuan atau bahkan menjelang keberangkatan. Akibatnya, banyak yang harus menambah anggaran di luar rencana awal.
Visa yang dulu dianggap sekadar formalitas kini berubah menjadi salah satu komponen biaya paling krusial dalam perjalanan. Bukan hanya soal lolos atau tidak, tetapi juga soal berapa banyak dana yang harus disiapkan sejak awal. Supaya kamu tidak kaget saat merencanakan liburan, berikut lima perubahan aturan visa yang diam-diam bikin bujet liburan membengkak.
1. Munculnya biaya izin masuk tambahan di luar visa

Salah satu perubahan paling terasa adalah munculnya izin masuk tambahan meski traveler sudah bebas visa atau memegang visa reguler. Banyak negara kini mewajibkan pengisian Electronic Travel Authorization (ETA) atau arrival card digital yang berbayar.
Secara nominal, biaya ini mungkin terlihat kecil. Namun, karena sifatnya wajib dan dibayar terpisah, banyak traveler tidak memasukkannya ke perhitungan awal. Saat digabungkan dengan biaya visa, asuransi, dan pajak lainnya, totalnya bisa cukup signifikan. Bagi traveler Indonesia, ini berarti satu perjalanan bisa memiliki lebih dari satu biaya masuk, sesuatu yang jarang terjadi beberapa tahun lalu.
2. Kenaikan tarif visa yang tidak selalu disadari

Perubahan lain yang sering luput dari perhatian adalah kenaikan tarif visa. Tidak semua negara mengumumkannya secara besar-besaran, sehingga traveler sering mengandalkan informasi lama. Masalahnya, selisih biaya ini baru terasa saat pembayaran dilakukan.
Kenaikan bisa terjadi karena biaya layanan, administrasi, atau penyesuaian kebijakan imigrasi. Bagi traveler yang bepergian bersama keluarga, kenaikan kecil per orang bisa berubah menjadi pengeluaran besar saat dikalikan dengan jumlah pemohon visa.
3. Persyaratan dokumen keuangan yang lebih ketat

Aturan visa di 2026 juga semakin menekankan kemampuan finansial pemohon. Banyak negara kini meminta bukti dana minimum, rekening koran lebih panjang, hingga surat pendukung tambahan. Dampaknya bukan cuma administratif, tapi juga finansial.
Traveler sering kali harus mengamankan dana dalam jumlah tertentu agar terlihat layak secara finansial, meski dana tersebut tidak benar-benar digunakan selama liburan. Belum lagi biaya pengurusan dokumen tambahan, seperti surat referensi bank atau jasa penerjemah resmi, yang semuanya menambah pengeluaran.
4. Asuransi perjalanan berubah dari opsional jadi wajib

Jika dulu asuransi perjalanan sering dianggap pelengkap, kini di banyak negara asuransi menjadi syarat visa wajib dengan nilai pertanggungan tertentu. Semakin lama durasi perjalanan dan semakin tinggi standar pertanggungan yang diminta, semakin mahal pula biaya asuransi.
Traveler Indonesia yang sebelumnya mengandalkan asuransi dasar kini harus menyesuaikan paket yang lebih komprehensif. Perubahan ini sering terasa diam-diam karena asuransi dibeli terpisah dari visa, padahal fungsinya sudah menjadi bagian dari syarat imigrasi.
5. Proses visa yang lebih panjang dan berlapis

Aturan visa terbaru juga membuat proses pengajuan menjadi lebih panjang dan berlapis. Waktu tunggu yang lebih lama sering memaksa traveler mengajukan visa jauh hari atau menggunakan jalur layanan cepat yang lebih mahal.
Selain itu, revisi dokumen, permintaan tambahan, atau jadwal ulang wawancara bisa menimbulkan biaya tidak langsung, seperti cuti tambahan, transportasi, atau perubahan jadwal penerbangan. Semakin kompleks prosesnya, semakin besar pula risiko pembengkakan anggaran di luar rencana.
Perubahan aturan visa pada 2026 menunjukkan bahwa biaya liburan ke luar negeri kini tidak lagi hanya ditentukan oleh destinasi dan durasi perjalanan. Visa telah menjadi faktor utama yang menentukan besar-kecilnya anggaran liburan.
Bagi traveler Indonesia, kunci menghadapi perubahan ini adalah literasi dan perencanaan. Mengecek aturan terbaru, menghitung biaya secara realistis, dan menyiapkan dana cadangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Di era traveling baru ini, liburan yang aman bukan cuma soal tiket murah, tapi soal seberapa siap kita menghadapi aturan yang terus berubah.
![[QUIZ] Dari Menu Berbuka Favoritmu, Kamu Bakal Mudik Lebaran ke Kota Ini!](https://image.idntimes.com/post/20250406/whatsapp-image-2025-04-05-at-115553-1d2fdd614142c09f2d4d75cb1e88c9ba.jpeg)













![[QUIZ] Traveling saat Puasa, Kamu Cocoknya Pergi ke Mana?](https://image.idntimes.com/post/20220405/pexels-photo-5777139-7f6dae679844d9bf1c2aa80e21d12923-698ef731d8c4a912825e6e5a7f8ee12e.jpeg)



