Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Pantangan di Gunung Bromo yang Wajib Diketahui, Jangan Dilanggar!
ilustrasi Gunung Bromo saat sunrise (unsplash.com/Fajruddin Mudzakkir)
  • Gunung Bromo dipandang sakral oleh Suku Tengger, sehingga seluruh pengunjung wajib menghormati aturan adat selain menikmati wisata alamnya.
  • Pengunjung dilarang buang air kecil sembarangan di jalur pendakian, berkata kasar, serta melempar batu, barang, atau sampah ke kawah.
  • Perempuan menstruasi tidak boleh masuk Pura Luhur Poten; wisatawan juga tidak boleh melangkahi pawon atau mengambil benda dari kawasan Bromo.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi banyak orang, Gunung Bromo merupakan salah satu wisata alam terbaik di Indonesia. Gak dipungkiri, destinasi wisata satu ini memang memiliki pesona yang luar biasa, terutama menjelang matahari terbit. Namun bagi Suku Tengger, Bromo dan area sekitarnya bukan sekadar destinasi wisata biasa, melainkan juga tempat yang disucikan.

Layaknya tempat sakral, Gunung Bromo juga memiliki seperangkat aturan dan pantangan yang gak boleh dilanggar. Nah, aturan dan pantangan ini bukan hanya berlaku bagi Suku Tengger, tetapi juga bagi semua orang yang menginjakkan kaki ke Gunung Bromo, termasuk turis. Buat kamu yang punya rencana liburan ke Bromo dalam waktu dekat, berikut beberapa pantangan yang ada di Gunung Bromo. Jangan dilanggar, ya!

1. Dilarang buang air kecil

ilustrasi para pendaki yang ingin ke puncak Gunung Bromo (unsplash.com/visualsofdana)

Namanya panggilan alam, gak pernah bisa diprediksi kapan datangnya. Termasuk saat sedang mengunjungi satu tempat wisata sekalipun, kita bisa aja tiba-tiba kebelet pengin buang air kecil.

Sayangnya, kalau kamu lagi mendaki Gunung Bromo, kamu gak bisa buang air kecil sembarangan. Kenapa begitu? Pertama, di area pendakian memang gak disediakan toilet. Kedua, mengingat statusnya sebagai tempat yang disucikan oleh Suku Tengger, buang air kecil sembarangan di jalur pendakian akan dianggap sebagai penghinaan besar dan dapat memicu terjadinya hal-hal buruk.

Solusinya, jika kamu kebelet, kamu harus kembali turun dan mencari fasilitas toilet yang tersedia di area tersebut. Tenang, toilet tetap tersedia kok, meski agak jauh dari lokasi pendakian.

2. Perempuan yang sedang menstruasi dilarang masuk ke pura

ilustrasi seorang perempuan berfoto dengan latar belakang Gunung Bromo (unsplash.com/visualsofdana)

Jika kamu berkunjung ke Gunung Bromo, kamu akan menemukan sebuah pura di kaki gunungnya. Nah, pura ini dikenal dengan nama Pura Luhur Poten. Bukan bangunan biasa, bagi Suku Tengger, pura ini merupakan tempat suci karena mereka menggunakannya sebagai rumah peribadatan.

Kabar baiknya, pengunjung juga bisa menginjakkan kaki di pura. Namun, khusus perempuan, jika sedang menstruasi, kamu harus menahan keinginan untuk ikut masuk. Dalam kepercayaan masyarakat Suku Tengger, darah menstruasi dianggap sesuatu yang gak bersih. Oleh karena itu, perempuan yang sedang menstruasi dilarang memasuki pura.

3. Jangan melangkahi pawon atau peralatan masak

ilustrasi peralatan masak (unsplash.com/Michal Balog)

Pawon dalam Bahasa Jawa artinya dapur. Namun bagi Suku Tengger, pawon bukan hanya merujuk pada ruangan untuk memasak, tetapi juga peralatan yang digunakan. Nah, di sinilah letak pantangannya. Jika kamu punya kesempatan untuk mengunjungi rumah orang Tengger, sebaiknya hindari memasuki area dapur.

Bukan apa-apa, takutnya kamu gak sengaja melangkahi pawon atau peralatan masak. Bagi kita, melangkahi pawon memang bukan masalah besar. Namun bagi mereka, pawon atau peralatan dapur memiliki nilai kesakralan sehingga melangkahinya dianggap sebagai tindakan yang kurang sopan.

4. Mengucapkan kata-kata kasar dan kotor

ilustrasi pengunjung di kaki Gunung Bromo (unsplash.com/Muhammad Udhian Sidqi)

Dalam percakapan sehari-hari, kita dituntut untuk selalu menjaga lisan dan hanya mengucapkan kata-kata yang baik. Sayangnya, di masa sekarang, mengumpat dan memaki dengan kata-kata kasar dianggap sebagai sesuatu yang normal. Padahal, kebiasaan ini jelas-jelas gak sopan, apalagi kalau dilakukannya di area Gunung Bromo.

Suku Tengger menerima pengunjung dengan tangan terbuka dan mereka sangat menghargai jika pengunjung menjaga sikapnya, termasuk saat berbicara. Jika kamu berkunjung ke Gunung Bromo, hindari bicara sembarangan.

5. Hindari melempar batu ke arah kawah

ilustrasi kawah Gunung Bromo (unsplash.com/visualsofdana)

Gak dipungkiri, Suku Tengger memang memiliki tradisi melempar hasil tani berupa sayuran, buah, dan hewan ternak ke Kawah Bromo sebagai simbol pengabdian juga rasa syukur pada Sang Hyang Widhi. Tradisi ini dilakukan saat ritual adat Yadnya Kasada yang berlangsung pada tanggal 15 bulan Kasada.

Namun, hanya karena Suku Tengger memiliki ritual tersebut, bukan berarti kamu juga boleh ikutan melemparkan barang atau batu ke kawah Bromo. Bagi masyarakat Tengger, melempar batu, barang, apalagi sampah ke dalam kawah merupakan tindakan yang gak sopan. Selain dianggap gak beretika, melemparkan batu ke kawah juga bisa membahayakan diri sendiri, dan orang-orang yang berada di sekelilingmu.

6. Jangan membawa apapun dari kawasan Gunung Bromo

ilustrasi turis di Gunung Bromo (unsplash.com/Ibrahim Alqudsy)

Saat berkunjung ke satu destinasi wisata alam, gak jarang kita mengambil benda-benda kecil, seperti batu, pasir, atau apa pun sebagai kenang-kenangan. Mungkin di tempat lain, mengambil batuan kecil gak akan jadi masalah. Namun di Bromo, kebiasaan ini merupakan pantangan yang gak boleh dilanggar. Menurut kepercayaan Suku Tengger, Gunung Bromo dan semua elemen yang ada di sana harus dijaga agar tetap lestari.

Mengambil apa pun yang ada di sana, dianggap dapat membawa nasib buruk kepada pelakunya. Jadi, jika suatu saat nanti kamu berkesempatan berkunjung ke Bromo, pastikan kamu tidak mengambil apa pun yang ada di area gunung. Kalau pun kamu mau sesuatu untuk dijadikan kenang-kenangan, kamu bisa kok membeli cendera mata yang dijual warga lokal. Selain gak melanggar aturan, secara gak langsung kamu juga udah membantu perekonomian warga sekitar Gunung Bromo.

Berkunjung ke Gunung Bromo bukan hanya soal menikmati pemandangan yang ditawarkan. Lebih dari itu, kita juga harus menaati aturan maupun adat yang berlaku di sana. Bahkan jika kamu gak percaya dengan pantangan atau larangan yang diterapkan, wajib hukumnya buat kamu untuk tetap menghormati apa yang mereka anut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article